
...***...
Yasmin tak bermaksud untuk sombong. Tadi dia tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dirinya. Yasmin merasa harus rendah diri agar bisa mendapatkan hati calon mertuanya. Namun, Erna sepertinya bisa langsung tau saat dia mengeluarkan pulpennya. Yasmin sudah berpikir untuk mengatakan secara halus. Tapi begitu melihat sikap Erna, dia akan sangat sulit menyampaikan maksudnya.
"Saya hanya wanita biasa, Tante. Nggak ada yang istimewa dari saya," jawab Yasmin dengan sikap biasanya.
"Wanita biasa bisa pakai barang semahal itu. Dapat dari mana kamu?" Erna mulai menyelidik. Dia pasti berpikir kalau Yasmin pernah kenal dengan orang kalangan atas.
Eza yang kebingungan dengan arah pembicaraan mamanya, lalu mendekat pada Yasmin dan berbisik. "Maksud mama tadi apa?"
"Bukan apa-apa, Langit," jawab Yasmin balas berbisik.
"Eza, kamu sembarangan kenal wanita ini, tanpa tau latar belakangnya?" Erna tampak sangat marah. Dalam pikirannya, kalau bukan jadi wanita simpanan orang kaya, bagaimana dia mendapatkan benda itu. "Eza tanyakan sendiri siapa dia sebenarnya? Apa dia bilang pernah jadi simpanan orang kaya?"
"Maksud Mama apa? Eza cukup mengenal Yasmin, dia wanita baik-baik. Hanya karena pulpen mahal kenapa mama sampai berpikir seperti itu?" Eza dapat menebak jalan pikiran mamanya. Justru sekarang dia kecewa dengan ucapan Erna yang sembarangan.
"Langit, jangan bertengkar sama mama kamu." Yasmin mengingatkan.
Sementara Adhitama juga melakukan hal yang sama. Menahan istrinya agar lebih menjaga perkataan. Yasmin bisa menjelaskan dengan cara baik-baik jika ditanya secara baik-baik juga.
"Yasmin, maafkan atas perkataan istri Om. Kamu jangan masukin ke hati ya." Sikap Erna kali ini sangat keterlaluan, belum tau dengan jelas sudah menuduh yang bukan-bukan. Kasian Yasmin harus menghadapi sikap istrinya yang keras di pertemuan pertama mereka.
"Iya, nggak apa-apa, Om." Yasmin masih menunjukan senyuman ramahnya.
Adhitama sudah bisa menilai dari cara Yasmin bersikap. Dimatanya, Yasmin bukan seperti apa yang istrinya tuduhkan. Lalu Adhitama bicara pada istrinya. “Ma, kita yang mengundang Yasmin datang kesini, karena anak kita juga. Kita sebagai orang tua seharusnya meminta maaf karena Eza sudah menghamilinya. Tidak benar jika bersikap kasar seperti tadi. Pembicaraan pernikahan ini tidak akan selesai kalau begini.”
“Alah, itu juga karena dia yang gatal mau mendekati daun muda. Eza belum dewasa, belum bisa menilai mana yang pantas buat dia, makanya tergoda rayuan wanita ini!” Erna masih dengan sikap angkuhnya.
__ADS_1
Eza mulai terpancing. “Ma! Yasmin nggak salah dalam hal ini. Eza yang mengejarnya duluan. Lagipula Eza sudah cukup dewasa untuk memilih mana yang baik. Mama tidak bisa melempar semua kesalahan pada Yasmin.”
“Eza! Sudah mulai lancang kamu!”
“Erna, cukup!” Hardikan Adhitama seketika membuat orang terdiam.
Entah sejak kapan mamanya mulai berubah seperti ini. Sosok ibu yang dia kenal memang sangat keras. Eza sangat mengagumi mamanya yang bisa mendidiknya dengan baik. Eza bisa dewasa seperti ini juga karena mamanya. Tapi menghina orang lain seperti ini, baru pertama kali dia lihat. Pengaruh apa yang telah Erna dapat sehingga sikap sombongnya berlebihan sekarang.
Eza sudah tidak nyaman dengan cara Erna yang meremehkan hobinya dan pekerjaan papanya sebagai seniman. Jujur, dia sangat marah ketika mamanya mengatakan kalau seniman tidak memiliki masa depan. Tapi Eza masih menjaga rasa hormatnya kepada Erna. Namun, kini dia tak bisa menerima perkataan Erna yang sudah menyakiti hati seseorang.
Helaan napas panjang terdengar dari mulut Eza. Yasmin memperhatikan wajah kekasihnya itu. Dia tau, Eza tidak bermaksud menentang Erna. Semua karena Eza sangat mencintainya, Yasmin sangat berterima kasih atas pembelaan yang pria itu lakukan. Disisi lain, dia merasa kasihan pada Eza yang harus melalui hal seperti ini.
“Ma, jika mama berubah pikiran setelah bertemu dengan Yasmin, Eza tidak masalah. Eza tetap akan menikahi Yasmin, dengan atau tanpa restu dari Mama.”
“Terserah kamu, jika sudah bersikeras. Mama tidak akan peduli lagi dengan asal usul wanita itu yang tidak jelas. Mau dia perempuan rendahan atau simpanan pria kaya. Kamu kalau mau menikah ya menikah saja. Jangan repotkan mama soal apapun.”
“Senja, sebaiknya kita pergi saja. Mama aku tidak akan melunak hatinya dalam waktu dekat. Kita akan tetap menikah, percayalah.” Eza menarik tangan Yasmin untuk berdiri.
“Langit, tunggu. Biarkan aku mengatakan sesuatu dulu.” Tangan Eza ditahannya. Lalu tersenyum meminta persetujuan.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Aku nggak apa-apa, Langit.”
“Ya sudah, bicara saja. Setelah itu kita pergi.” Persetujuan Eza dijawab anggukan Yasmin.
Yasmin lalu mengalihkan pandangan kepada kedua orang tua Eza. Aditama terlihat sedikit tertekan. Sedangkan Erna memalingkan wajah darinya. “Om, Tante. Saya berterima kasih sudah disambut hari ini. Walau restu tidak kami dapatkan, tapi Eza tetap akan menikahi saya. Karena anak ini tidak mungkin lahir tanpa sosok seorang ayah. Soal latar belakang saya, dari awal saya sudah ingin memberitahu. Tetapi saya tidak dapat kesempatan untuk mengatakannya.”
__ADS_1
“Maaf atas ketidaknyamanan kamu hari ini, Yasmin. Om merestui hubungan kalian, semoga kamu bisa membuat Eza jadi lebih baik. Om percaya, kamu bisa membimbing Eza. Apalagi kamu bisa jadi panutan juga."
"Iya, nggak apa-apa, Om. Saya maklum jika Tante belum bisa menerima keberadaan Saya."
"Udah, jangan banyak ngomong. Katakan saja kamu siapa, jangan buang-buang waktu!" Erna mulai tidak sabar.
Tangan Yasmin kembali digenggam Eza, meminta sang kekasih untuk sabar menghadapi mamanya. Wanita itu memberi isyarat dengan matanya. Dia mengatakan, baik-baik saja dengan tatapan matanya.
Seorang Yasmin yang biasa bergaul dengan kalangan atas, sangat bisa mengendalikan emosi. Dia memang terlihat sederhana dari dulu, tinggal pun tidak dirumah yang mewah. Tapi soal relasi dia ada banyak, dengan orang-orang penting.
"Sepertinya Eza belum memperkenalkan nama panjang saya. Saya Yasmin Mahesa, Sarjana kedokteran Jakarta, ahli bedah jantung. Saya sudah menyelesaikan S2 dengan gelar Magister Pendidikan Kedokteran (M.Pd.Ked) dan …."
"Tunggu, nama panjang kamu apa?"
Kedua pria di sana terkejut dengan reaksi yang Erna tunjukan. Mereka yang jarang mau peduli dengan artikel orang penting. Tidak tau siapa Yasmin sebenarnya. Namun, Erna berbeda, dia mengikuti setiap berita dari majalah.
"Yasmin Mahesa, Tante."
Erna teringat akan sebuah artikel yang pernah dia baca beberapa bulan yang lalu. Kemudian tangannya menelusup ke bawah meja yang banyak tumpukan majalah lama. Lalu membuka satu demi satu lembaran. Dia ingat dengan nama belakang Yasmin.
"Ini kamu?" Erna menunjukan sebuah artikel yang terdapat gambar Yasmin. Reaksinya seperti orang tidak percaya.
Eza dan Adhitama tampak heran, apa yang diributkan oleh Erna dengan artikel tersebut. Eza melihat lebih dekat artikel itu. Begitupun juga Adhitama.
"Senja, ini kamu?"
...***...
__ADS_1