
...***...
Tiga hari lagi menuju hari pernikahan, Yasmin dan Eza semakin sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Termasuk mencicil barang-barang dan sebagian perabot untuk dipindahkan ke kontrakan mereka. Eza selalu meluangkan waktunya untuk hal tersebut meskipun dia sibuk bekerja, kuliah, dan juga menjaga stan lukisnya. Lelaki itu tak pernah sekalipun mengatakan ‘tidak’ jika Yasmin membutuhkannya. Dia selalu siaga dan siap datang kapan pun Yasmin mau.
Kepindahan Yasmin dari klinik tentu saja menjadi bahan pertanyaan para tetangga dan sebagian orang yang tengah berada di klinik. Mereka lantas menanyakan rasa penasarannya kenapa Yasmin pindah, kemana dia pindah. Hal itu menjadi pertanyaan berulang yang Yasmin terima, tetapi Suci selalu membantunya untuk menjelaskan kepada para tetangga. Namun, wanita itu sama sekali tak memberitahu ke mana Yasmin pindah, dia hanya menyebut akan tinggal di tengah kota bersama suaminya.
Hari ini, Yasmin menyewa jasa onlin agar datang ke kontrakannya untuk membersihkan total rumah tersebut. Tak lupa, dia juga mengajak Suci agar wanita itu tahu ke mana Yasmin pindah. Setelah rumah itu bersih dan siap ditempati, Yasmin merasa sangat tenang dan seolah bisa bernapas lega karena dia bisa tidur nyenyak setelah menikah tanpa adanya sesuatu yang kotor mengusik kenyamanannya.
Yasmin berencana untuk mengajak Eza ke butik tempat mereka memesan baju pernikahan. Keduanya datang untuk mengonfirmasi baju pengantin mereka, memastikan semua tidak ada masalah dan untuk fitting terakhir kalinya.
“Yasmin, baju kamu sudah aku masukkan ke lemari, ya. Sama make up juga udah aku tata rapi di meja rias,” ucap Suci.
Dia teramat ingin membantu Yasmin dalam hal ini. Padahal, Yasmin tidak ingin menyusahkannya, tetapi Suci merasa dia harus berguna karena mengingat Yasmin yang begitu baik terhadap dirinya.
“Ya ampun, Mbak. Kenapa Mbak Suci bandel sih, sudah dibilang nggak usah, aku bisa rapiin sendiri nanti.” Yasmin menghela napas panjang. Padahal niatnya mengajak Suci hanyalah untuk memberitahu lokasi dan rumahnya. Namun, Suci memang tidak bisa jika hanya diam apalagi melihat banyak barang yang tergeletak dan belum sempat dirapikan setelah pembersihan rumah tersebut selesai.
“Mbak senang, Yasmin. Apa pun, kamu jangan sungkan minta bantuan, ya. Mas Eza juga, nanti kalau Yasmin butuh teman saat Mas Eza kerja, aku siap kok nemenin. Biar nggak kesepian,” tawar Suci.
“Makasih, Mbak. Jika itu tidak merepotkan, tentu aku sangat senang jika Senja ada yang menemani jika aku harus kerja larut malam. Tapi, bukankah nanti anak Mbak akan sendirian, kasihan.” Eza menyahut ucapan Suci.
__ADS_1
“Anak Mbak, kan, sudah besar Mas. Jadi yang gede bisa jagain adiknya. Alhamdulillah anak Mbak nurut semua, tidak ada yang suka keluyuran malam hari walau ke tetangga sekali pun. Lagi pula lokasinya juga tidak terlalu jauh kan, jadi bisa sewaktu-waktu berkunjung.”
“Syukurlah kalau begitu, terima kasih, Mbak. Kebetulan di sini juga ada dua kamar, jadi nanti Mbak bisa tidur di sana kalau mau menginap.” Eza mengulas senyumnya. Dia merasa Suci telah banyak membantu kali ini. Kebaikan seseorang itu tidak mungkin kebetulan, Yasmin yang baik hati pasti juga akan dipertemukan dengan seseorang yang baik pula.
Suci adalah wanita yang mandiri sejak dia harus menjadi orang tua tunggal. Bahkan dia juga pernah kerja di pabrik yang jam kerjanya pagi hingga malam demi mengejar lembur untuk mendapatkan gaji dan bonus lebih. Jadi, tak heran jika wanita tersebut sering keluar malam atau pun subuh seorang diri hanya untuk berjuang demi mencari nafkah untuk anak-anaknya. Tak ada rasa takut dalam hatinya. Dia hanya takut jika anaknya tidak bisa mendapatkan sesuatu yang seharusnya didapatkan. Misalnya sekolah, sandang, dan pangan.
“Terima kasih ya, Mbak. Sudah banyak membantu Yasmin. Jadi nggak enak merepotkan begini.”
“Sama sekali tidak merepotkan, Yasmin. Mbak seneng kok.”
Yasmin tersenyum. “Ya sudah, kalau begitu kita antar Mbak Suci ke klinik, Langit. Nanti kita langsung ke butik.”
“Mari Kak, saya antar ke ruang ganti,” ucap seorang wanita yang tengah membawa gaun panjang putih Yasmin. Dia bersiap membantu wanita itu.
Sementara Yasmin berada di ruang ganti cukup lama, Eza pun juga sudah siap mengganti pakaiannya dengan jas yang senada dengan gaun Yasmin.
Eza duduk di sofa sambil menunggu Yasmin, dia memainkan ponselnya menghilangkan kebosanan. Beberapa menit setelah lelaki itu menunggu, dia dikejutkan dengan penampilan Yasmin yang begitu memukau, padahal wanita itu belum menggunakan make up pernikahan. Namun, kecantikannya luar biasa, Eza bahkan tak berkedip memandang wanita yang tengah berjalan ke arahnya dengan senyuman manis. Yasmin berjalan dengan anggunnya seolah mereka berada di pelaminan.
“Senja ... apakah benar ini calon istriku?” Eza berdiri seperti seorang yang terhipnotis. Dia memperhatikan Yasmin dari bawah hingga atas. Gaun itu begitu sempurna melekat di tubuhnya yang molek.
__ADS_1
Yasmin tersenyum. “Kamu terlihat sangat gagah, Langit.”
Keduanya saling memuji dengan kagum. Eza mengulurkan tangannya pada Yasmin, meraih dan menggandengnya menuju cermin besar. Keduanya berjalan saling menatap pantulan dirinya di cermin tersebut. Sungguh pasangan yang begitu serasi. Ini adalah pengalaman pertama untuk Eza. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus mengungkakan rasa bahagianya saat ini.
***
Sementara itu, di kediaman Adhitama, Erna terlihat sangat gusar di dalam kamarnya. Dia terus memperhatikan foto Eza, anak semata wayang yang begitu dia cintai. Dalam benaknya, seorang ibu tidaklah mudah untuk melepas anaknya begitu saja, apalagi semua ini terjadi begitu mendadak. Pernikahan Yasmin dan Eza memang terpaksa direstui oleh Erna. Namun, wanita itu sebenarnya masih tidak rela jika anaknya segera dimiliki wanita lain, mengingat dia belum melihat anaknya sukses.
“Kamu mikirin apa, Ma?” tanya Adhitama yang baru saja memasuki kamar.
“Eza. Aku masih belum percaya, Pa. Anak kita akan menikah secepat ini. Aku masih belum ikhlas melepasnya dan belum bisa menerima wanita itu sebagai menantu, ya ... meskipun dia sebenarnya wanita kaya dan berpendidikan. Tapi dia, kan, janda.” Erna menggerutu, membayangkan nasib masa depan anaknya jika hidup bersama seorang wanita yang lebih tua darinya.
“Kenapa kamu terlalu memikirkan hal itu, Ma. Semuanya sudah terjadi, bukankah kamu juga merestui mereka. Kenapa sekarang malah bimbang lagi?”
“Papa kan, tau sendiri kalau aku merestui mereka karena terpaksa. Rasanya aku belum siap jika nanti ada orang yang tau pernikahan ini, Mama bingung mau naruh muka di mana. Pokoknya, nanti Papa aja yang datang ke pernikahan mereka. Mama di rumah aja.”
Ucapan Erna membuat Adhitama terkejut, bagaimana bisa seorang ibu tidak ingin melihat pernikahan anaknya. Suaminya itu berusaha membujuk agar istrinya mau hadir, tetapi wanita itu terlihat sangat keras kepala. Sepertinya watak keras kepala Eza diturunkan dari mamanya.
...***...
__ADS_1