
...***...
"Eza," lirih Lisa dengan mata menyipit. Dahinya mengkerut terlihat sedang berpikir.
Lisa yang masih berdiri mematung di tempat yang sama. Dia termenung, apa yang didengarnya kali ini, mungkin akan menjadi awal kekhawatiran dan ancaman batin yang akan menghantuinya. Bagaimana tidak, lelaki satu-satunya yang dia sukai sejak lama akan menikah dengan wanita lain. Meskipun Eza sudah menjelaskan jika Lisa salah dengar, tetapi sebagai wanita perasaannya juga sensitif. Tidak mungkin dia percaya begitu saja, apalagi gelagat Eza sangat mencurigakan baginya.
Beberapa menit kemudian, Eza menunggu Yasmin di jalan belakang kampus. Yasmin yang mengendarai motornya seorang diri, kini bergantian dengan Eza yang mengambil alih di depan—membonceng Yasmin menuju KUA.
Sesampainya di sana, Eza dan Yasmin masuk dan menemui salah satu staf dan diantar ke sebuah ruangan.
“Jadi begini, kami mohon maaf karena terpaksa harus mengubah ulang hari yang sudah ditetapkan karena ternyata Mbak Yasmin belum selesai masa idahnya. Dan baru bisa menikah lagi satu minggu kedepan, tepatnya di tanggal 30 ini.”
Eza dan Yasmin saling tatap, keduanya terlihat terkejut satu sama lain. Bagaimanapun acara sudah tersusun rapi, beberapa orang terdekat juga sudah dikabari. Termasuk hotel yang sudah di pesan Yasmin untuk pernikahannya nanti. Ternyata semua harus diundur. Namun, mau tidak mau mereka memang harus taat pada aturan, mereka pun mengiyakan hal tersebut dan memilih untuk memberi kabar ulang dan mengubah tanggal acaranya.
“Baik Pak, terima kasih untuk informasinya. Kami permisi.” Eza pun berpamitan setelah urusannya selesai.
Kepergian Eza dan Yasmin dari KUA tersebut menjadi bahan gosip para staf perempuan di sana.
“Itu kayaknya janda kebelet kawin deh, mana yang laki kayaknya masih muda banget gitu, ya meskipun gagah dan menarik, sih!” ucap salah satu wanita dengan postur tubuh kurus, lipstiknya merah menyala khas ibu-ibu yang hobi bergosip dengan penuh ekspresi.
“Hush, nggak boleh gitu, Bu! Siapa tahu mereka emang saling cinta, kan. Biarkan aja, setidaknya mereka menikah karena menghindari zina,” sahut wanita dengan pakaian muslim.
“Lah, Bu! Mana tahu kalau mereka malah udah ... ehem!” Wanita kurus itu menimpali, tetapi dia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan seraya menahan tawanya.
"Heh, bukan urusan kita, jangan suudzon juga." Bapak yang tadi melayani Eza dan Yasmin ikut menyaut percakapan kedua wanita itu.
__ADS_1
Seketika itu wanita berhijab menyenggol lengan wanita yang mengajaknya tadi ngobrol. Dia membenarkan ucapan bapak tadi. Selanjutnya mereka semua terdiam. Seperti sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Membicarakan keburukan dan mengali urusan pribadi orang lain.
***
Eza dan Yasmin kini sibuk menjadwalkan ulang acara pernikahan mereka. Untung saja pihak hotel tidak mempermasalahkan ini. Karena Yasmin meningkatkan menjadi VVIP private room yang bisa menampung lebih banyak orang. Namun, Yasmin tidak memberi tahu Eza bahwa mereka akan mengadakan syukuran di ruangan paling mahal. Yasmin tidak bermaksud menyembunyikan, dia hanya ingin memberi sedikit kejutan pada kekasihnya itu dan membuat Eza senang. Tentu saja hal itu pastinya akan membuat tamu undangan juga senang.
Tiga hari menjelang pernikahan, kekacauan di Jakarta belum juga mereda. Malam sebelumnya, ketika berita itu pertama kali muncul ke permukaan. Hilman dengan santainya menyatakan dia akan rujuk kembali pada Yasmin. Tujuannya tak lain adalah untuk membuat Yasmin mendatanginya. Namun, Yasmin bisa begitu saja meninggalkan persiapan pernikahannya.
Eza yang belum mengetahui tentang yang menggemparkan itu, tampak terkejut saat Dion—sahabatnya mendatanginya di kamar. Dion seperti sedang diburu sesuatu membuka pintu kamar Eza, sedikit kasar. Eza yang bersiap untuk tidur lantas melempar bantal ke arah Dion.
"Apa-apaan sih loh!" Teriak Eza yang merasa kaget dengan kelakuan Dion.
Galang yang masih asyik bermain game, dengan tangkas menepis bantal yang Eza lemparkan, karena Dion juga menepisnya. Galang yang posisi tempat tidurnya berada dekat pintu hampir terkena, dia pun mendengus.
"Dion!" hardik Galang dengan suara sedikit tinggi.
Setelah beberapa Minggu tinggal bersama, Galang dan Dion sudah mulai terbiasa. Mereka berteman baik, sama seperti Eza dan Dion. Meski ada perbedaan umur, Galang bisa menyeimbangkan pergaulannya. Dia juga termasuk orang yang suka bergaul, sama seperti saat masih di bangku kuliah. Bisa dibilang Galang playboy saat di masa-masa itu. Tapi dia tidak pernah mempermainkan perasaan wanita manapun, karena tidak pernah terikat dengan hubungan asmara. Dari karakternya itulah yang membuatnya bisa mudah akrab dengan Dion, karena Dion juga sama dengannya.
Dion tak berlama-lama berdiri di ambang pintu. Dia bergegas menghampiri Eza dengan ponsel di tangannya. "Bro, Lo harus lihat ini."
Eza yang tampan malas meladeni Dion membalikkan badan dan bersiap untuk tidur. Dion berdecak dan menarik tubuh Eza agar segera bangkit.
"Gue capek, Yon." Eza mendengus. Pekerjaan di cafe hari ini membuatnya sangat lelah.
"Ini ada hubungannya sama Senja Lo, Za."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Eza pun menegakkan tubuhnya. Galang yang penasaran juga ikut bangkit dan menghampiri mereka. Ponsel di tangan Dion, diambil Eza. Terdapat berita yang sedang banyak diperbincangkan netizen di media sosial. Galang ikut mengintip.
"Itu, Bu Yasmin kan?" tanya Dion yang belum yakin.
Dion baru diberi tahu Eza tentang identitas Yasmin yang seorang pengusaha di Jakarta. Sebelumnya dia memang sempat curiga ketika acara pembukaan klinik beberapa waktu lalu. Setelah Eza memberitahunya, Dion merasa penasaran. Pria itu pun mencari informasi tentang Yasmin Mahesa serta perusahaannya. Alangkah terkejutnya Dion dikala mengetahui tentang kekayaan Yasmin—dosennya itu. Dia tak menyangka, di balik penampilan Yasmin yang sederhana, ada rahasia besar yang tersembunyi.
"Kapan berita ini tersebar?" Eza tampak emosi setelah membaca artikel singkat tersebut. Marah pada Hilman yang seenak jidatnya membuat berita bohong tentang calon istrinya. Yang membuat Eza tak habis pikir, kenapa Yasmin tidak mengatakan hal ini, padahal mereka tadi siang bertemu.
"Kimia Hesa perusahaan yang cukup besar. Yasmin beberapa kali menjadi sorotan ketika acara perayaan berdirinya perusahaan itu. Wajar kalau dia kembali diperbincangkan setelah terakhir kali kehebohan berita perceraiannya." Galang ikut berkomentar. Dia yang sudah tau sejak awal tentang siapa Yasmin sebenarnya, terlihat santai dengan berita tersebut.
"Lo tau Yasmin, Bang?" tanya Dion yang sedikit terkejut dengan pernyataan.
Galang memang sudah tau sejak awal, tapi dia tidak pernah menanyakan hal ini pada Yasmin. Dia tau jika itu adalah hal yang sangat privasi. Terlebih lagi dengan kepindahan Yasmin yang tanpa memberitahu siapapun. Galang hanya berusaha ikut arus, setelah pertemuan pertamanya dengan Yasmin. Sebenarnya dia juga senang, ternyata dokter yang menawarkan pekerjaan sebagai relawan adalah Yasmin Mahesa—pemilik Kimia Hesa, perusahaan obat terbesar nomor tiga di Indonesia.
Berbeda dengan Dion, Eza tak terkejut karena Galang mengetahui siapa Yasmin sebenarnya. Karena Yasmin sudah menceritakan, siapa saja yang mengetahui tengah identitasnya. Tanpa menunggu jawaban dari Dion, Eza langsung mencari keberadaan ponsel. Menelpon Yasmin, walau sudah larut malam.
"Senja, kamu sudah tidur?"
"Baru saja, Langit." Suara Yasmin terdengar parau.
"Ada yang harus kita bicarakan, aku akan kesana sekarang."
Eza langsung mematikan ponselnya, tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara. Dia harus mendapat penjelasan sekarang juga. Galang dan Dion saling pandang, lalu diam melihat Eza bergegas memakai celana panjang. Kemudian meraih jaket yang tergantung di samping lemari.
"Dion, gue pinjem motor Lo."
__ADS_1
Dion yang langsung tanggap segera keluar dari kamar Eza dan Galang. Mengambilkan kunci motor di kamarnya.
...***...