Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Biang gosip


__ADS_3

...***...


Suasana malam di daerah tempat tinggal Yasmin yang baru, sangat tenang dan damai. Sore tadi Santi telah menemaninya berkenalan dengan tetangga kiri dan kanan. Serta melaporkan tentang kepindahannya pada RT setempat. Satu jam yang lalu, Santi sudah kembali ke Jakarta, karena besok pagi dia sudah harus kembali bekerja.


Penduduk di sana sangat ramah, Yasmin bersyukur bisa diterima dengan baik di sana. Menjalin silaturahmi dengan warga sekitar, cara terbaik untuk bersosialisasi.


Rumah yang dia tempati, masih ada beberapa perabot peninggalan penghuni lama. Sebagian dari perabotan itu sudah dimakan usia. Yasmin berpikir untuk menggantinya dengan yang baru. Sekalian dia harus membeli perlengkapan dapur dan alat elektronik. Hanya barang itu yang tidak tersedia di rumah itu. Malam ini dia belum bisa masak, jadi Yasmin terpaksa harus keluar untuk membeli makanan.


Yasmin berjalan menyusuri jalanan, tak begitu ramai kendaraan yang lewat di sekitar kampung tersebut. Namun, masih banyak orang-orang yang lalu lalang. Kesendiriannya saat ini bukanlah suatu masalah baginya, dia sangat menikmati saat-saat tersebut. Saat dirinya tengah berjalan, tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang menyapanya.


“Mau ke mana, Mbak?” tanyanya seraya mengulas senyum lembut.

__ADS_1


Yasmin pun berhenti sejenak, menghampiri ibu tersebut yang tengah berdiri di depan rumah. “Ini, Bu. Mau cari makan," jawab Yasmin juga tersenyum. "Saya baru pindah ke rumah di ujung sana." Sambung Yasmin kemudian, karena ibu itu melibat wajahnya agak lama.


Si ibu mengibaskan tangan. “Oalah, Mbak ini pendatang, ya, di kampung ini? Pantes saya belum pernah lihat.”


“Iya, Bu. Baru aja tadi sore datang. Perkenalkan, nama saya Yasmin, Bu.” Yasmin mengulurkan tangannya mengajak bersalaman tanda perkenalan.


“Saya Bu Murti, Mbak." Dia menyambut uluran tangan Yasmin. "Oo iya, sudah tau warungnya belum?”


“Di sana ada angkringan, Mbak,” ucap Bu Murti sambil menunjuk ke arah timur. “Atau kalau mau pecel lele, keluar dari gang depan nggak jauh, kok.” Bu Murti dengan baik hati menunjukkan arah. Mata Yasmin mengikuti arah tunjuk si ibu.


Kedua telapak tangannya ditangkupkan, sebagai tanda terima kasihnya. “Baik, terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi.”

__ADS_1


"Iya, mbak, hati-hati," ucap ibu itu yang di balas anggukan kepala serta senyuman ramah Yasmin.


Tanpa Yasmin tau, Ibu Murti masih memandangnya hingga jarak yang cukup jauh. Matanya melotot melihat gaya berjalan Yasmin dari belakang. Kemudian dia menggeleng, entah apa yang sedang dipikirkannya. Setelah itu terdengar decakan dari mulutnya. Seperti seseorang sedang mencela diam-diam. Mungkin Ibu Murni adalah salah satu biang gosip di kampung sana. Terlihat dari caranya menilai Yasmin beberapa saat lalu. Besok pasti bahan gosipannya bertambah.


Setelah berjalan lagi, Yasmin pun memilih pergi ke angkringan. Dia begitu ingin mencicipi makanan yang biasa dijual di sana. Dari yang dia tahu, makanan angkringan enak dan murah.


Saat melangkah masuk, banyak para kaum lelaki yang tengah mengobrol sambil menikmati makanan di sana. Dengan ditemani kopi, menambah kesan keakraban pada mereka yang tengah berkumpul. Yasmin menyapa ramah para bapak-bapak dan pemuda tersebut. Pandangan mata lelaki di sana begitu menyorot, sehingga membuat Yasmin kurang nyaman. Dia tidak tahu jika ternyata angkringan tersebut terlalu ramai pengunjung laki-laki.


Beberapa jenis makanan menjadi pilihan Yasmin. Dia mengambil nasi kucing, sate telur, juga tempe bacem. Tak lupa dia membungkus es jeruk sebagai minumannya. Melihat suasana disana, Yasmin memutuskan untuk makan di rumah saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2