Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Meminta restu


__ADS_3

...***...


Di siang hari, Eza datang ke rumah orangtuanya. Dia sudah memikirkan dengan matang, akan mengatakan kepada papa dan mamanya. Tetap menikahi Yasmin apapun yang akan terjadi. Sekarang atau lima tahun lagi, pada akhirnya mereka akan menikah. Jika terjadi lebih cepat bukan masalah lagi.


Hari Minggu kedua orang tuanya biasa menghabiskan waktu bersama. Ini pertama kali Eza pulang di hari libur setelah memutuskan untuk tinggal sendiri. Dia memantapkan langkah, menemui Erna dan Adhitama di ruang keluarga.


"Kamu menginap di sini, Sayang?" tanya Erna setelah Eza duduk di dekatnya. 


"Iya, Ma," jawab Eza singkat.


"Baguslah, mama kangen sama kamu." Dia merangkul tubuh putranya.


"Bagaimana kuliah kamu, Za?" Adhitama bertanya seraya menyesap minumannya.


"Lancar, Pa. Nggak ada masalah."


"Mama tau kamu pasti bisa. Kamu yang terbaik sayang." Wanita itu terlihat sangat bangga dengan Eza, akhirnya sang putra mau memenuhi keinginannya. Tidak mengikuti jejak sang suami, yang sangat lama bisa sukses.


Eza tersenyum hambar, pujian seperti ini tak membuatnya senang sama sekali. Justru dia sangat merasa bersalah, karena dia akan mengatakan hal yang membuat mamanya kecewa. "Pa, Ma … Eza datang hari ini, ada yang dibicarakan." Eza mengumpulkan keberanian.


Melihat raut wajah sang putra, Adhitama membenarkan posisi duduknya. "Emm, keliatannya masalah serius."


Eza menatap mata papanya. "Iya, Pa."


"Katakan, Sayang. Ada apa? Kamu kekurangan uang atau keperluan kuliah kamu kurang?" Erna juga merasa perubahan sikap Eza. Dia memiringkan duduknya agar bisa melihat wajah Eza semakin jelas.

__ADS_1


Eza menghela napas sejenak. "Bukan, Ma. Eza butuh restu Papa dan Mama. Eza ... Eza ingin menikah secepatnya." Wajah orang tuanya dilihat secara bergantian.


Sepasang suami istri itu saling pandang sesaat. Seolah saling bertanya tidak ada yang salah dengan pendengaran mereka. 


"Menikah? Apa maksudnya?" tanyanya sedikit keras. Seakan tak percaya, Eza akan mengatakan hal ini.


"Eza punya pacar dan … dia hamil. Eza mau bertanggung jawab, Pa, Ma." Ada keteguhan dalam ucapannya itu. 


“Apa! Kamu menghamili anak orang? Mama tidak salah dengar, kan? Jangan bercanda, Eza. Nggak lucu!” Erna tak percaya dan menganggap ucapan Eza adalah sebuah candaan.     


“Ma, Eza serius. Ini semua memang salah Eza. Eza minta maaf, dan sekarang ... tolong izinkan Eza menikahinya. Eza mohon, Ma, Pa.”


Lalu tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya. Membuat Eza meringis dan memegangi pipinya. Dia tertunduk, sudah menduga perlakuan seperti ini akan dia dapatkan. Dia memang pantas mendapatkannya. Membuat mama dan papanya sangat kecewa, adalah kesalahan besar.


Ini pertama kalinya Erna memukul sang putra. Emosinya langsung tidak terkendali. "Eza! Kamu masih kuliah, menikah ... itu hal konyol!” Bahu Eza dicengkram dengan kuat.” Kamu sadar nggak, kamu itu sudah mencoreng nama baik Papa sama Mama. Di mana pikiran kamu, hah?" Lalu mendorongnya kasar.


"Namanya Yasmin. Dia seorang dokter dan juga dosen di kampus, Pa,” Jawabnya lirih. Bahkan kini dia tak berani melihat wajah papanya, dia sangat merasa bersalah.


Mendengar itu membuat Erna sudah tak tahan lagi. Dia pun berdiri dan kembali berteriak. "Kamu pacaran dengan wanita yang lebih tua, Eza? Apa yang membuatmu berbuat hal memalukan seperti ini, Eza? Mama benar-benar kecewa sama kamu. Atau ... jangan-jangan wanita itu yang menggodamu?” 


“Ma, kita melakukannya karena saling cinta.” Tatapan mata Eza memohon pada Erna. “Eza mohon mengertilah.” 


Erna sama sekali tidak peduli. Anak kesayangan yang dia banggakan, telah mencoreng nama baiknya. Dia tak akan menyetujui permintaan Eza. Wanita itu diam memeluk tubuhnya dengan kemarahan yang belum mereda. Wajahnya memerah, tarikan napasnya kasar.


Adhitia pun berdiri dan menghampiri sang istri. Lebih baik dia meredakan amarah Erna terlebih dulu. "Ma, duduklah sebentar, jangan dulu emosi. Kita nggak akan bisa menyelesaikan masalah jika kepala kita memanas karena amarah,” pintanya lembut dan menuntun sang istri untuk duduk disampingnya.

__ADS_1


Wanita itu pun duduk, tapi dia tak tahan untuk tidak menjawab. "Bagaimana bisa aku harus sabar, Pa. Sedangkan Eza sudah kelewatan kali ini. Mama nggak habis pikir, bisa-bisanya Eza melempar kotoran ke muka kita. Dan ... Papa terima itu?"


Sangat sulit untuk membuat Erna mengerti. Eza maupun Adhitama tau itu. Kesalahan yang Eza lakukan sangat fatal. Dia hanya berharap pada papanya untuk bisa membantu menyakinkan Erna. Eza tau Adhitama akan memihak padanya. Dukungan seperti ini sangat dia butuhkan.


Ketiga orang tersebut terdiam mematung untuk beberapa detik, kemudian Erna memecah keheningan setelah emosinya mereda. Namun, bagaimanapun, dalam hatinya masih begitu sulit untuk menerima kenyataan pahit itu. Dadanya terasa sesak, dia tidak menyangka anak yang akan dia banggakan kelak, ternyata kini malah menjadi sumber masalah. 


"Eza, sampai kapan pun, Mama tidak akan setuju kamu menikah sekarang, apalagi dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya."


“Tapi Eza tetap akan menikahi Yasmin, Ma.”


“Eza cukup! Masuk kamar sekarang! Renungkan kesalahan kamu, jangan berani pergi sebelum kamu sadar!”


Melihat mamanya akan pergi, Eza memanggil. “Ma, Eza—” 


Dengan cepat Eza dihentikan Adhitama. “Eza, masuk dulu ke kamar. Biar mama kamu tenang dulu. Papa akan membicarakan hal ini dengan mamamu.”


Eza tak dapat membantah. Erna tak menyetujui keinginannya. Dia ingin memberontak. Bagaimanapun juga dia akan menikahi Yasmin, walau hanya pernikahan siri sekalipun. Tapi hati kecilnya masih berharap akan mendapatkan restu. Sekarang dia hanya bisa bersabar terlebih dulu.


Perkiraan ternyata benar, dia tidak dibiarkan pergi dari rumah. Eza tak ingin menjadi anak durhaka, sebab itulah di kini patuh. Sementara menunggu kemarahan mamanya reda, Eza akan bersabar. Setidaknya, ketika dia pergi dari rumah, Erna sudah tak terlalu marah.


Helaan napas Eza terdengar berat dan kasar. Hatinya belum merasa lega, tapi setidaknya dia sudah melewati tahap ini. Eza mengeluarkan ponsel dan memberitahukan hal ini pada sang kekasih. Dari pagi dia belum menanyakan kabar Yasmin, dia sangat merindukan wanita itu setelah semua yang dilaluinya.


Eza mencoba menelepon, tapi Yasmin tidak mengangkat. Hingga panggilan ke tiga masih juga tak ada jawaban. Dia melihat jam sejenak, mungkin Yasmin sedang ada pasien, pikir Eza. Kemudian dia pun menelpon Galang untuk menanyakan keadaan Yasmin. Galang memberitahunya, Yasmin memang sedang ada pasien. Eza tau, Yasmin biasa mematikan nada dering ponselnya saat bekerja. Lalu Eza memutuskan untuk meninggalkan pesan saja.


“Senja, kamu sedang sibuk, Sayang? Aku sekarang ada di rumah orang tuaku. Aku sedang berusaha membujuk mama untuk merestui kita. Senja, kamu sabar ya, aku pasti akan menikahi kamu. Maaf, beberapa hari ini mungkin aku tidak bisa menemui kamu.”

__ADS_1


Pesan itu dikirim, menunggu Yasmin membalasnya nanti. Setidaknya dia sudah memberitahu kekasihnya itu, dia sedang berjuang sekarang.


...***...


__ADS_2