Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Sup merah


__ADS_3

...***...


Pelukan itu berlangsung lebih dari lima detik, Yasmin pun mendorong Eza untuk melepaskan. Secepat kilat Eza mengecup bibir Yasmin dan mengulas senyuman. Kemudian kembali duduk di tempatnya.


“Kamu sudah makan siang? Bagaimana kalau kita keluar sebentar cari makan.” Eza mengajak Yasmin tanpa memikirkan posisinya sekarang. Seharusnya lelaki itu tidak mengajak Yasmin terang-terangan, sedangkan suasana di desa tersebut cukup ramai jika siang hari. Jika dilihat dengan mata telanjang, orang pasti akan berasumsi buruk terhadap Yasmin.


“Langit, bisakah kamu bicara yang masuk akal? Apa nanti kata orang kalau kita berboncengan terang-terangan, lagipula, aku juga harus siap-siap buka praktek." Yasmin terpaksa menolak, walau sebenarnya dia sangat ingin makan sekarang. Tadi perutnya bahkan tak terasa lapar.


“Baiklah kalau kamu keberatan, aku nggak akan maksa.”


Jam menunjukkan hampir jam tiga sore, Yasmin memang belum makan siang sejak tadi. Dia hanya memakan roti sebelum pergi ke rumah sakit tadi. Namun, saat Eza menawarinya makanan, tiba-tiba Yasmin ingin sekali makanan yang berkuah, terasa segar jika dia menyantapnya di siang hari begini. Bayangan sup merah terlintas di kepalanya.


“Langit, sepertinya aku pengen makan sup merah, di mana yang jual? Kamu tahu?" tanya Yasmin secara tiba-tiba.


“Sup merah? Hmm ... sepertinya tak jauh dari sini ada yang jual, aku belikan sekarang, ya?” Eza menyunggingkan senyuman.


“Terima kasih,” ucap Yasmin. Perutnya semakin terasa lapar saat membayangkan sup merah dengan kuahnya yang begitu segar.

__ADS_1


Eza dan Yasmin pun beranjak dari kursi masing-masing, permintaan Yasmin langsung dituruti oleh Eza. Namun, sebelum lelaki itu pergi, seperti biasa, Eza akan menggoda Yasmin terlebih dahulu.


“Senja, ke sini sebentar. Aku mau tunjukkan sesuatu.” Eza mengangguk pelan mengisyaratkan agar Yasmin mendekat ke arahnya yang tengah berdiri di sudut ruang.


“Apa?” tanya Yasmin penasaran saat melihat Eza tengah sibuk dengan ponselnya, lelaki itu seolah akan menunjukkan sesuatu dari benda pipih tersebut. Yasmin berjalan mendekat, tatapannya fokus pada ponsel Eza.


Saat Yasmin sudah tak berjarak, lelaki itu dengan sigap langsung memeluk dan mendekap erat tubuh Yasmin sekali lagi. Yasmin berontak ingin lepas, tetapi Eza tidak mengizinkannya. Pelukan tersebut seolah mampu melepas rasa rindu Eza dan kekhawatiran Eza sejak semalam. Dia lega saat ini Yasmin tidak lagi marah dan bersikap dingin padanya, meskipun Eza tidak tahu apa sebenarnya kesalahannya. Akan tetapi, dia tidak akan memaksa Yasmin untuk bercerita jika dia enggan menceritakannya.


“Langit, lepas. Kebiasaan banget, sih. Nanti ada orang yang lihat!”


Meski Yasmin berusaha lepas, tetapi tak bisa dipungkiri jika pelukan itu begitu nyaman dan hangat. Beban yang dipikulnya seolah hilang begitu saja. Setelah dirasa percuma karena tidak bisa lepas dari dekapan Eza, Yasmin pun sejenak terdiam dan pasrah dengan perlakuan pria yang sangat dicintainya. Menikmati pelukan kekasihnya itu.


“Jangan lagi membuatku khawatir, Sayang. Jangan mengacuhkanku, jika aku memang salah, bicaralah. Bukankah kita sudah sepakat untuk saling terbuka?” Eza berkata penuh pengharapan.


Yasmin terkesiap mendengar penuturan Eza, ucapan itu seolah menampar dirinya yang enggan berterus terang saat ini.


“Maaf jika semalam aku mengabaikanmu, aku hanya lelah. Lain kali, aku tidak akan seperti itu lagi,” tutur Yasmin. Dia masih tetap akan mempertahankan rahasia tentang kehamilan itu pada Eza.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, dan mengingat posisinya sekarang yang tidak mungkin berlama-lama berduaan. Eza mengurai pelukannya, kedua tangannya meraih tangan Yasmin dari pinggangnya. Masih dalam genggaman, punggung tangan itu diciumnya.


“kamu tahu, Senja, semalam aku begitu gelisah. Rasanya aku ingin mendatangimu, tapi aku masih berpikir waras, takut nanti orang kampung melihat dan menggerebek kita, hancur semuanya yang sudah kita bangun. Dan aku tidak siap jika kamu membenciku, apalagi menjauhiku.”


Yasmin langsung mendongak memperhatikan wajah Eza. Tinggi Yasmin yang hanya sebatas dagu Eza pun terlihat mungil untuk pria tersebut.


“Benci, menjauh ... apa mungkin itu akan terjadi?” batin Yasmin bergejolak saat mendengar dua kata itu. Dia tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti dia akan benar-benar menjauh dari Eza. Pasti akan menyakitkan dan begitu menyiksa.


“Hei, kenapa malah melamun?” Eza mencubit manja hidung Yasmin. Mau makan, kan? Aku berangkat sekarang, ya. Ini sudah sore, kasihan perut kamu, lain kali jangan terlambat makan. Jaga kesehatan, bukannya Bu Dokter biasanya mencontohkan hidup sehat?” Lelaki itu tersenyum pada Yasmin.


“Ah, iya, sebaiknya belikan aku sekarang, aku sudah sangat lapar, Langit.”


“Oke, sebelum itu, aku harus menagih sesuatu.” Tiba-tiba, dengan gerakan cepat Eza langsung mencium kening Yasmin lalu berkata, “Ini karena kamu sudah membuatku rindu.”


Dia kembali mencium kedua pipi Yasmin. “Dan ini karena kamu sudah membuatku khawatir semalaman.” Eza melanjutkan aksinya untuk mengecup bibir Yasmin. “Dan ini untuk cinta.”


Yasmin hanya menggeleng dan mengerjapkan mata berulang kali saat mendapat Eza menghujani ciuman padanya. Tak terasa pipi Yasmin memerah, perlakuan Eza tersebut selalu membuat jantung Yasmin berpacu kencang.

__ADS_1


“Aku pamit! Tunggu, ya!” Eza lalu bergegas keluar meninggalkan Yasmin di ruangan itu sendirian, wanita itu memegangi pipi dan juga bibirnya yang selalu menjadi sasaran Eza. Yasmin juga begitu heran karena dia selalu pasrah dengan Eza. Tidak pernah menolak meski hal tersebut memang seharusnya tidak dilakukan.


...***...


__ADS_2