Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Kehadiran Eza


__ADS_3

...***...


Kedatangan Eza yang tiba-tiba menghadangnya memang sedikit mengejutkan. Tadinya Hilman tidak peduli, dia ingin menghindar, karena tujuannya sudah tercapai. Tapi mengingat ada laki-laki lain yang akan memiliki Yasmin, pria itu pun sedikit naik darah.


“Hahaha, berani sekali mengancamku!”


Hilman lantas menyerang Eza dengan tiba-tiba, sebuah pukulan melayang ke udara. Namun, Eza lantas menangkap pukulan itu dan lanjut mengepalkan tangannya. Dia berhasil memukul Hilman tepat di perutnya. Lelaki itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


Pukulan yang hanya satu kali itu dirasa sangat menyakitkan oleh Hilman. Bagaimana tidak, seorang Eza yang tubuhnya kekar dan masih muda, dihadapkan dengan Hilman yang fisiknya tak seperti dulu yang bugar karena hampir menginjak kepala empat. Meskipun tubuh Hilman sama-sama gagah jika dibanding Eza. Namun, tenaga mereka tak bisa disamakan.


“Ini yang kau sebut bocah ingusan, Pak Tua!” Eza lalu menyeringai dan melepaskan cengkeramannya pada Hilman. “Padahal, itu baru satu pukulan, apa mau nambah?"


Tanpa ragu Eza menghantamkan lagi tinjunya pada pipi Hilman.Kali ini Eza berhasil membuat Hilana tersungkur.


"tu untuk perbuatanmu yang pernah menyakiti Yasmin!"


Hilman berusaha untuk berdiri dan segera beranjak untuk membuka pintu mobilnya. Hilman pergi dengan segala rasa kekesalannya.


Eza pun menatap kepergian lelaki itu. Setidaknya dia lega karena sudah memberi pelajaran dan memperingatkan lelaki tersebut untuk tidak mengusik kehidupan Yasmin. Yang terpenting, dia juga sudah memberitahu jika dirinya akan segera menikah dengan Yasmin.


Selang beberapa saat, Eza pun kembali ke rumah Yasmin dan akan menyampaikan tujuannya. Di sempat ragu akan kemampuannya menafkahi Yamin. Di samping itu juga harus membiayai kuliahnya berdasarkan syarat mamanya. Tetapi dia bertekad untuk menjadi calon suami yang baik terhadap istrinya dan mengesampingkan keraguannya, yang terpenting sekarang dia sudah mendapat restu untuk menikahi wanita yang dicintainya. Apalagi akan ada buah cinta yang hadir di kehidupan mereka nantinya.


Eza memarkirkan motornya di halaman. Kini, pikirannya disiapkan dengan matang, kalimat per kalimat dia rangkai dalam kepalanya seraya berjalan mendekat ke ruangan Yasmin Karena sepertinya Galang dan Suci masih ada di sana. Kali ini kehadirannya sudah tak dipertanyakan lagi oleh mereka karena kedua orang itu sama-sama mengerti hubungan Yasmin dan Eza. Sebagai orang terdekat, mereka hanya mampu mendukung tanpa mencampuri urusan jika tak diminta untuk memberi saran.


Ketiga orang yang ada di ruangan tersebut saling melempar tatapan pada Eza. Begitu pula dengan Yasmin. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Eza. Namun, dia mengurungkannya sebelum menyuruh Suci dan Galang untuk keluar. Suci yang sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya, memberi kekuatan untuk Yasmin dengan menepuk bahunya. Yasmin sudah memberitahu pada Suci bahwa dia mengandung anak Eza. Suci dan Galang pun langsung keluar dari ruang kerja Yasmin dan menutup pintu. Agar sepasang kekasih itu bisa berbicara dengan leluasa.


Perlahan, Eza berjalan mendekat ke meja kerja Yasmin. Dia menggeser kursi yang tadinya berhadapan di seberang meja, memindahkannya di samping Yasmin wanita itu tampak pucat dan tak ada tenaga karena terlalu pusing memikirkan masalah yang akhir-akhir ini menyerangnya.


“Sayang, bagaimana kabarmu? Dan apa kabar anak kita?” Tangan Eza mengelus perut Yasmin.

__ADS_1


“Baik,” jawab Yasmin singkat. Tangannya masih meremas kepalanya yang menunduk.


Eza membelai lembut puncak kepala Yasmin yang membuat wanita itu menatapnya. “Kamu pusing?”


“Aku nggak apa-apa. Kamu mengejar Hilman? Kamu bicara apa padanya?” tanya Yasmin penasaran.


Beban yang ditanggungnya sudah cukup berat, dia takut Eza akan menambah masalahnya jika dia berhadapan dengan Hilman.


"Hanya memberi dia sedikit peringatan, untuk menghilangkan niatnya rujuk denganmu, Senja." Perkataan Eza sungguh lembut, Yasmin sedikit tenang setelah mendengar suara kekasihnya itu.


"Siapa bilang aku ingin rujuk dengannya, Langit." Yasmin meraih tangan Eza pada pipinya, lalu menurunkan. "Dia kesini bukan mau minta rujuk."


"Lalu, mau apa dia kesini?" Eza menatap mata Yasmin, ternyata dia salah sangka, bahkan sudah menghajar Hilman. Tapi Eza tak menyesali hal itu.


"Dia mau mau minta kembali lagi ke perusahaan." Tangan Eza digenggamnya.


"Perusahaan? Sssttt … Aauuu." Eza tiba-tiba meringgis.


"Nggak apa-apa, kamu mengenggam tanganku terlalu kuat."


Yasmin lantas melihta kebawah. Buku tangan Eza memerah, seperti baru menghantam benda keras. "Kamu berkelahi, dengan Hilman?"


"Iya, tadi kan aku sudah bilang, mnerinya seikit pelajaran, Senja."


"Tapi tidak dengan kekerasan, Langit. Dia juga memukulmu? Dimana?" Yasmin terlihat khawatir saat memerikasa luka di wajah Eza.


"Aku nggak apa-apa, Senja. Dia tidak memukulku. Hanya aku yang memukulnya."


"Aku ambilkan obat untuk luka di tanganmu."

__ADS_1


Yasmin hendak bangun untuk mengambil obat di rak. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing dan dia hampir jatuh. Eza dengan cepat menahan tubuh Yasmin ke dalam dekapannya.


"Senja, kamu kenapa?" Eza menuntun Yasmin kembali duduk.


"Aku pusing," jawabn Yasmin lemah memegangi kepalanya.


"Kenapa bisa pusing? Kamu sudah makan?" tanya Eza kemudian, yang di jawab gelengan kepala oleh Yasmin. "Astaga, Senja. Ini sudah jam berapa, kamu belum makan siang?"


"Aku baru kbali dari rumah sakit siang tadi, belum sempat makan. Lalu Hilman tiba-tiba datang." Yasmin berterus terang.


Eza sedikit merasa menyesal, dia tidak ada disaat Yasmin membutuhkannya. "Maaf, Sayang. Aku tidak menjaga kamu dengan baik."


Yasmin mengeleng. "Kamu nggak salah, Langit. Kamu juga sedang kesulitan di rumah orang tuamu." Senyuman manis dia perlihatkan, lebih ke perasaan lega akhirnya bertemu dengan Eza lagi.


Eza tau senyuman itu untuk menunjukan ketegaran wanita itu. "Sudahlah, sebaiknya kamu makan dulu. Kamu mau makan apa? Aku pergi beli."


Yasmin kembali mengeleng. "Aku nggak mau makanan luar. Aku mau kamu yang masak."


Eza sedikit tercengang. "Kamu mau makan masakanku? Senja, aku nggak pandai masak. Ya … kalau telur goreng dan nasi goreng biasa aku masih bisa."


Mata Yasmin terlihta berbinar, sekaan rasa laparnya akan segera hilang setelah makam makanan yang diinginkannya. "Ya udah, aku mau makan nasi goreng buatan kamu."


"Tapi, kenapa tiba-tiba?" Eza diam sejenak. "Kamu lagi ngidam, Sayang?"


Yasmin mengangguk menjawab pernyataan Eza. Pria itu pun tersenyum, dia merasa sangat senang. Ternya begini rasanya saat melayani wanita sedang mengidam. Eza akan menuruti segala keinginan Yasmin. Walau harus melakukan hal yang paling sulit sekalipun. Demi anak yang wanita itu kandung, darah dagingnya.


"Baiklah, aku masakin nasi goreng spesial buat kamu dan anak kita." Eza mencubit kecil hidung Yasmin, lalu meraba perutnya.


Terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah wanita cantik itu. Walau ini terasa sedikit canggung, tapi hal tersebut mampu melegakan hatinya. Melihat sikap Eza sekarang, memberinya jawaban akan kerisauan beberapa hari ini. Dia tak akan sendiri mulai sekarang. Eza berada didekatnya. Meski Yasmin masih tak berharap banyak, cukup dengan kehadiran Eza saja, dia sudah sangat bahagia.

__ADS_1


***


__ADS_2