
...***...
Wanita itu telah siap menerima tindakan Eza selanjutnya.
Akan tetapi, pergerakan Eza terhenti, dia hanya menatap wajah Yasmin sambil tersenyum gemas. Dia sengaja menggoda wanita itu karena ingin melihat respons dan ekspresi Yasmin ketika akan berciuman. Eza pasti akan melakukannya, tapi nanti, saat Yasmin sudah benar-benar bisa menerimanya. Dengan sukarela, bukan karena paksaan.
Saat merasa tidak ada sentuhan bibir, Yasmin pun perlahan membuka matanya. Eza tepat di depan wajahnya, tengah tersenyum dan memainkan alisnya naik turun.
“Kamu pikir, aku akan menciummu? Apa kau menginginkannya?” tanya Eza berbisik di telinga Yasmin, membuat bulu roma wanita itu berdiri.
Mendengar hal itu Yasmin lantas berdehem sambil mendengus menutupi rasa malunya. “Jangan nebak sembarangan. Aku hanya ... aku hanya risih ada di dekatmu sekarang. Jadi, biarkan aku pergi.” Yasmin berdalih sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Eza.
"Kamu sangat cantik saat pipimu memerah begini. Jangan khawatir, kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu mau, entah nanti, besok, atau lusa. Sepuasmu, dengan senang hati aku akan memberinya." Eza lagi-lagi menahan tawanya, dia lalu melepaskan cengkeramannya dan menyentuh lembut pipi Yasmin.
Kemudian terdengar suara beberapa orang wanita masuk masuk ke dalam toilet itu. Sontak membuat kaget keduanya. Yasmin membelalakan, Eza membekap mulutnya dengan cepat. Memberi isyarat dengan jari diletakkan di bibir. Bak sebuah manekin, tak ada dari mereka yang bergerak. Rasanya napas pun ikut terhenti.
Pada jam makan siang seperti ini, toilet memang selalu menjadi langganan untuk di kunjungi setelah makan. Terutama toilet wanita, yang biasa digunakan kaum hawa untuk bercermin.
Eza dan Yasmin menajamkan pendengarannya. Menunggu hingga kondisi di luar kembali sepi. Terdengar ada orang masuk di bilik sebelah mereka. Suasana di antara keduanya semakin menegangkan. Mereka saling pandang satu sama lain. Seolah mengatakan dari tatapan mata 'jangan bicara'.
__ADS_1
Lima menit kemudian, tampaknya mereka semua telah pergi. Suara dua orang wanita yang tadi mengobrol juga tidak ada. Mereka kembali menajamkan pendengaran, memastikan tak ada lagi orang yang masuk. Setelah merasa aman, barulah Eza melepaskan tangannya dari mulut Yasmin. Secara serentak mereka membuang napas lega.
"Huufftt, akhirnya aman." Eza mengelus dadanya.
Wajah Yasmin telah berubah masam. Seraya mengatur napasnya, dia memelototi Eza yang tertunduk menopang tubuhnya dengan sebelah tangan ke dinding. Sadar merasakan sedang di lihat, Eza pun menatap wajah Yasmin. Wanita itu semakin menajamkan matanya.
"Kenapa?" tanya Eza seolah tak merasa bersalah dan mengedikkan bahunya sekali.
Yasmin mengarahkan tangan kanan pada pinggang Eza, lalu mencubitnya. Dengan wajah kesal dia mendengus.
"Aauu … sakit Senjaku," rintih Eza dengan nada manja, lalu memanyunkan bibirnya.
"Aku hampir mati kehabisan napas karena ulahmu." Yasmin mendorong Eza menjauh darinya.
"Mau kucubit lagi?" Matanya melotot untuk kesekian kalinya.
Namun, Eza malah merasa senang. "Hehehe, kalau kamu yang lakukan aku bersedia."
Yasmin melipat kedua tangannya di dada. "Kamu masih bisa ketawa? Dasar!"
__ADS_1
"Bukankah itu sedikit menyenangkan. Rasanya seperti bersembunyi dari kejaran musuh. Adrenalin serasa terpacu." Eza semakin ketagihan menggoda Yasmin, menyenangkan.
"Hisss, minggirlah, aku mau keluar dari sini. Aku masih ada kelas, ini sudah hampir terlambat."
"Oke, aku akan membiarkan kamu keluar, tapi ada syaratnya." Senyum Eza menggerakkan kedua alisnya.
"Apa? Asalkan jangan yang aneh-aneh. Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Bagaimana kalau ada yang datang lagi?"
"Tidak aneh sama sekali." Eza lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. "Berikan aku nomor ponselmu," pinta Eza kemudian.
Yasmin menatap tajam kearah pria itu sekali lagi. Eza memiringkan kepalanya, memberi tanda bahwa dia tak menerima penolakan. Yasmin kembali mendengus. Lalu mengambil ponsel dari tangan pria itu sedikit kasar, dan mengetikkan nomor ponselnya.
"Ini nomor yang sama kamu gunakan untuk aplikasi chatting?" tanya Eza setelah ponsel itu dikembalikan ke tangannya.
"Emmm."
"Oke, thank you."
Yasmin lantas mendorong tubuh pria itu menjauh. Lalu keluar dari bilik itu, sebelumnya dia memastikan keadaan aman. Saat Yasmin akan melangkahkan kaki keluar, Eza menahan tangannya. Membuat Yasmin menoleh kebelakang. Dengan cepat dia memberi kecupan di kening Yasmin, yang membuat wanita itu terpaku.
__ADS_1
"Ucapan terima kasihku." Eza tersenyum penuh kemenangan, lalu keluar lebih dulu.
...***...