
...***...
Menjadi seorang yang sempurna adalah harapan setiap wanita. Hidup tak akan lengkap rasanya bila tak memiliki tujuan. Wanita manapun pasti akan bahagia jika bisa membawa kehidupan baru dalam dirinya. Seorang malaikat kecil yang sedang tumbuh, menantikan saat untuk lahir ke dunia. Yasmin sangat menantikan kehadiran malaikat kecil itu sejak lama.
Transducer, sebuah alat yang biasa digunakan untuk mengecek kehamilan, atau biasa disebut juga USG. Alat ini nantinya akan memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi.
Dalam pemeriksaan ini, transducer akan digerak-gerakkan di bagian tubuh yang akan diperiksa. Gerakan ini bertujuan agar gelombang suara yang dikirim mampu memantul kembali dan memunculkan gambar dengan baik. Nantinya, tiap gema yang memantul ini akan membentuk gambar berupa bentuk, ukuran, dan konsistensi dari jaringan lunak atau organ dalam tubuh. Nah, pantulan inilah yang akan membentuk gambar di layar komputer.
Sekarang ini, dokter akan melakukan pemeriksaan pada dirinya. Yasmin disuruh berbaring, lalu dokter memakaikan gel khusus di permukaan perutnya, untuk mencegah terjadinya gesekan pada kulit. Di samping itu, gel ini juga berfungsi untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh. Jantungnya pun berdebar menantikan dokter memeriksa.
Yasmin menepis segala perasaan resahnya pagi tadi. Biarlah sekarang dia menikmati kebahagian, saat melihat calon buah hatinya sedang tumbuh dalam rahimnya. Yasmin tersenyum bahagia menatap layar yang menampilkan sebuah titik kecil sebesar kacang polong.
"Selamat ya, Mbak Yasmin. Anda benar-benar hamil," ucap sang dokter wanita itu.
"Terima kasih, Dokter. Ini pengalaman pertama saya, sangat luar biasa bisa melihat dia ada di sana." Yasmin pun menitikkan air mata. Rasanya kini dirinya benar-benar terasa sempurna.
Dokter itu pun terlihat tersenyum, dia ikut bahagia dengan kabar baik yang dia sampaikan. "Baiklah, hasilnya sudah terlihat. Saya membuatnya di sini." Dokter yang bernama Ana itu menekan satu tombol pada alat itu. Sebuah kertas kecil yang terdapat gambar hitam pun putih keluar.
Dokter Ana baru akan membersihkan permukaan perut Yasmin. "Tunggu, Dokter sebentar. Tolong periksa apakah ada yang janggal yang terlihat di sana."
"Maksud, Mbak Yasmin?" tanya Dokter Ana bingung.
"Ibu saya meninggal karena kanker ovarium, kemungkinan saya juga akan …."
__ADS_1
"Mbak Yasmin mengkhawatirkan ini?" tanya Dokter Ana kemudian.
"Iya."
Melihat raut wajah Yasmin yang berubah seketika, membuat Dokter Ana juga merasakan kesedihan itu. Karena kanker yang mematikan ini bisa diderita karena faktor keturunan juga. Dokter Ana pun melakukan pemeriksaan kembali.
"Saya tidak melihat apapun saat pemeriksaan tadi. Tapi jika Mbak masih khawatir, kita bisa melakukan pemeriksaan rutin." Dokter Ana menyudahi pemeriksaannya.
Yasmin mengerti apa yang Dokter Ana katakan. Sebagai seorang dokter juga, dia bisa tau prosedur apa yang harus dilakukan.
Ketika Dokter Ana akan menyerahkan hasil pemeriksaan. Yasmin pun menceritakan kekhawatirannya. Tentang usahanya selama bertahun-tahun untuk memiliki keturunan.
"Jadi Mbak Yasmin juga seorang dokter? Berarti Mbak Yasmin sudah tau jelas tentang kanker ini."
"Mbak Yasmin kesulitan hamil bukan berarti karena memiliki kanker ini. Kemungkinan penyebabnya adalah dari suami Mbak Yasmin. Apakah dia sudah melakukan pemeriksaan selama ini?" tanya sang dokter kemudian.
Yasmin memikirkan perkataan Dokter Ana. Dia pun tidak yakin akan hal ini. Hilman memang melakukan pemeriksaan saat pertama kali. Dia juga melihat hasilnya. Dan Hilma dinyatakan sehat. Untuk pemeriksaan selanjutnya, pemeriksaan itu dilakukan secara sendiri-sendiri. Dia pikir Hilman juga memeriksakan dirinya. Berarti, Hilman telah membohonginya selama ini?
"Jadi, suami Mbak hanya melakukannya sekali?" tanya Dokter Ana kemudian.
Yasmin pun terdiam, tak tau apa yang harus dia jawab. Dia pun berpikir, apakah Hilman yang mandul?
"Mbak Yasmin. Sedang mikirin apa?" Melihat Yasmin termenung dia pun bertanya.
__ADS_1
"Hah, nggak mikirin apa-apa, Dokter."
"Mbak Yasmin seharusnya sekarang bahagia dong, ternyata bisa hamil. Tuhan baru memberi rezeki anak pada keluarga Mbak Yasmin sekarang. Sekali lagi selamat ya, Mbak Yasmin." Dokter Ana mengulurkan tangannya.
Yasmin menyambut dan mereka bersalaman. "Terima kasih. Saya bahagia, tentu saja, Dokter. Saya sudah menantikan kehadiran malaikat kecil ini begitu lama."
Tak peduli apakah Hilman yang mandul atau tidak. Yang pasti hal itu tak akan merusak kebahagiaannya saat ini.
___
Saat ini Yasmin telah sampai di depan rumahnya. Dia menghela napas sejenak. Pesan dari Suci telah dia baca. Eza masih menunggunya di dalam rumah. Yasmin menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan pria itu. Pria yang tak ingin dia sakiti, tapi dia harus menjauh darinya.
Langkah kaki Yasmin pasti masuk ke dalam rumah. Dia melihat Eza langsung menghampirinya, Yasmin pun dia terpaku.
Sebelum Eza memanggilnya, Yasmin memanggil terlebih dahulu. "Eza, kamu disini?" Dia memberi isyarat dengan tatapan matanya. Walau tidak ada orang lain, selain Suci.
Eza yang tadinya ingin memeluk Yasmin pun mengurungkan niatnya. Dia sadar sedang berada di rumah Yasmin saat ini. "iya, Bu Yasmin. Ada tugas kuliah yang ingin saya diskusikan."
"Baiklah, kita bicarakan di ruangan saya." Dengan sikap selayaknya seorang dosen, dia pun berlalu pergi.
Eza mengikuti dari belakang. Raut wajahnya terlihat tak sabar untuk memeluk Yasmin dan menanyakan tentang kabarnya.
...***...
__ADS_1