
...***...
Malam hari, waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, tetapi udara dingin mulai menembus pori-pori Yasmin yang tengah terbaring di ranjang. Matanya masih enggan terpejam meski raganya sangat lelah, dia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi keadaannya sekarang. Kehamilan yang tidak pernah disangkanya membuat beban pikirannya semakin bertambah. Tak ada yang perlu disesali jika semua sudah terjadi, dia hanya ingin mencari jalan keluar tanpa merugikan siapapun.
Yasmin beringsut dari tidurnya, mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. Dia terdiam sejenak terlihat melamun, pandangannya kosong. Sejurus kemudian, pikirannya langsung tertuju pada Santi. Ya, dialah yang kali ini harus tahu tentang permasalahannya. Biasanya Santi akan memberikan saran jalan keluar yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Yasmin karena saat ini tentu saja wanita itu tengah kalut dengan pikirannya, ditambah lagi raganya yang lemas membuat dia tak mampu berpikir jernih.
Ponsel yang berada di nakas diraih Yasmin. Dia menekan kontak nama Santi dan langsung menghubunginya. Tak menunggu lama, sahabatnya yaitu mengangkat telepon dari Yasmin dan saling bertanya kabar.
“Tumben telepon, udah nggak sibuk, Yas?” tanya Santi dengan nada sedikit kesal. Santi merasa akhir-akhir ini Yasmin memang jarang sekali menghubungi, bahkan pesannya saja selalu terlambat balas meskipun Yasmin sempat bilang jika peresmian klinik dilakukan hati ini.
“Udah kelar tadi sore, San, acaranya. Sekarang lagi rebahan, capek banget. Aku mau cerita, San. Kali ini aku benar-benar bingung harus ngapain. Otakku buntu.” Yasmin menghela napasnya kasar, ponsel yang dipegang digenggam sedikit kuat di telinganya.
“Ada apa, sih?” tanya Santi penasaran.
“Langit, ah maksud aku Eza. Aku sekarang menjalin hubungan dengannya, baru saja jadian kemarin.”
“Eza ... langit? Siapa dia?” jawab Santi dari sambungan telepon, terdengar wanita itu memasang telinganya betul-betul untuk mendengar cerita Yasmin.
__ADS_1
“Dia lelaki yang sempat dekat denganku di Bali, kamu masih ingat, kan? Aku bertemu dengannya di kampus sebagai anak didikku.”
“Yas, kenapa kamu nggak cerita dari awal, sih? Kenapa baru cerita sekarang? Terus gimana? Keliatannya kamu sudah mulai tidak membutuhkanku.”
Jawaban Santi terdengar ketus, dia sedikit kesal karena selama ini Yasmin menyembunyikan ini semua. Padahal, biasanya Yasmin tidak pernah lupa memberi kabar apapun padanya.
“Maaf, San. Bukan begitu, awalnya aku berpikir jika aku bisa melupakan dia. Namun, semakin hari, ternyata kita malah semakin dekat meskipun aku sudah bersikap tegas dan cuek pada Eza. Tapi ... setegas apapun aku, dan seberapa besar aku menolaknya, entah kenapa hatiku nggak bisa membencinya. Dia semakin membuatku jatuh cinta. Sampai akhirnya, kemarin kita memutuskan untuk berpacaran. Memperbaiki hubungan yang sempat terpisah. Aku juga tidak menyangka ternyata dia begitu mencintaiku.”
“Kisah kalian sungguh seperti drama, aku iri. Kapan aku punya kekasih,” tutur Santi dengan gelak tawa samar. “Eh tapi, lalu apa masalahnya? Harusnya kalian bahagia dong?” lanjutnya.
Yasmin terdengar menghembuskan napas kasar, siap tidak siap dia harus cerita pada Santi agar mendapatkan solusi. Dia tidak tahu lagi harus dengan siapa bercerita, hanya Santi yang dia punya.
“Hah! Apa, Yas?” Santi seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Aku nggak salah dengar, kan? Kamu hamil? Kok bisa?”
“Iya, San. Ini semua salahku, andai saja saat di Bali aku tidak ... tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.” Yasmin berusaha mengatur kalimatnya yang sejak tadi terasa mencekik.
“Yas, terus gimana? Eza tahu nggak?”
__ADS_1
“Nggak, dia belum tahu. Dan sebaiknya memang nggak perlu tahu.”
“Loh, kalau Eza nggak tahu, gimana nanti kandungan kamu? Siapa yang mau jadi ayahnya, Yas?” tanya Santi sedikit menekan.
Bukan perkara mudah untuk Yasmin memutuskan bahwa Eza harus mengetahui hal ini. Mungkin jika dia harus tahu, bukan sekarang. Akan ada waktu yang tepat di mana Yasmin akan berkata yang sesungguhnya.
“Aku bingung, San. Siapa sih yang nggak pengen hidup bahagia, baru aja aku nemu kebahagiaan dengan Eza. Aku merasa dicintai sebagai wanita, bahkan aku merasa Eza memperlakukanku layaknya ratu. Tapi, kehamilan ini membuatku bimbang. Dia baru aja kuliah semester empat di kedokteran, kasihan jika dia harus bertanggung jawab. Belum lagi nanti kalau keluarganya tahu, mungkin Eza tidak akan diakui sebagai anak, dan sama aja aku akan merusak masa depannya.”
“Tapi, apa kamu siap hidup sendiri tanpa suami dengan mempunyai anak? Maksudku, bagaimana nanti omongan orang, Yas? Kamu tahu, kan, orang di desa kamu sekarang pasti selalu mengorek informasi dan mencampuri urusan orang lain.”
“Makanya, aku bener-bener bingung, San. Aku harus gimana sekarang? Dan masalah Eza, apa sebaiknya aku ....”
“Sebaiknya apa?”
“Ah entahlah, aku masih belum bisa berpikir sekarang. Yang jelas aku tidak akan memberitahukan padanya dan mungkin aku akan mulai menjauhinya.”
“Menjauh? Apa kamu yakin? Apa bisa? Sedangkan kamu satu lokasi di kampus, dan dia pasti juga tahu rumah kamu, kan?”
__ADS_1
...***...