
...***...
Keinginan utama setiap wanita adalah bisa bahagia dengan lelaki yang sangat dicintai. Terlebih lagi saat dia tau bahwa laki-laki itu akan menikahinya dan memberikan kehidupan yang baru baginya. Yasmin adalah salah satu wanita yang pernah gagal dalam rumah tangga. Dia tak ingin mengalami kegagalan itu sekali lagi. Dia sudah berjanji akan menjaga apa yang sudah dia dapat sekarang. Apalagi dia sangat tau lelaki di hadapannya ini sangat mencintai dirinya, begitupun juga sebaliknya.
Rencana hidupnya untuk sendiri setelah perceraian, sekarang berubah menjadi berbeda seratus delapan puluh derajat. Meskipun pernikahannya kali ini adalah sesuatu yang sangat tidak terduga, tanpa direncanakan, tanpa dia harapkan. Yasmin yakin ini keputusan yang terbaik. Meskipun di sudut hatinya yang paling dalam, rasa takut akan kegagalan masih saja ada.
Salah satu alasan kenapa Yasmin merasa takut seperti itu adalah, ketika dia sadar akan perbedaan umur yang amat jauh dengan Eza. Yasmin sempat berpikir, pernah terlintas juga jika suatu saat Eza akan berpaling. Mengingat dirinya yang akan semakin tua, sedang Eza masih sangat muda. Pria itu bisa saja tertarik dengan wanita lain, yang jauh lebih muda darinya. Lebih cantik, menarik. Yasmin memikirkan tentang sepuluh tahun ke depan, apakah hal itu bisa terjadi?
Detak jantungnya kian menderu saat mengingat hal ini. Sampai kini terlihat jelas di wajahnya, bahwa hal itu baru saja dia ingat lagi. Merasakan kehangatan genggaman Eza akan berpindah ke tangan wanita lain.
"Senja."
Panggilan Eza tak digubris Yasmin, dia masih larut dalam pikirannya. Eza memanggilnya sekali lagi.
"Senja, kamu kenapa termenung?" Kali ini Eza menekan tangan Yasmin untuk menyadarkannya.
Yasmin terkesiap merasakan, dia menyimpan kembali air mata yang hampir menetes, sekali lagi. "Emm?"
"Kamu kenapa, Sayang. Jangan bilang kamu menyimpan rahasia lain dariku."
"Nggak ada, Langit. Aku hanya terpikirkan sesuatu."
"Sampai kamu termenung dan tidak mendengarku?"
Yasmin tersenyum tipis. "Maaf, aku …."
"Ada apa? Coba cerita."
Namun, setelah pertanyaan Eza. Yasmin malah menguap menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Wanita itu sudah berusaha menahan kantuk sedari tadi. Menahan diri agar tidak menguap di depan Eza. Dia juga ingin masalah dengan Eza cepat selesai. Tapi setelah mereka membicarakan ini dan hatinya merasa lega. Yasmin kembali dikuasai rasa kantuk. Eza melirik jam tangannya, sudah lewat jam satu dini hari.
"Benar, sudah sangat malam. Kita sebaiknya pulang. Kita bisa bicarakan besok lagi." Eza mengambil keputusan.
Yasmin tak serta merta setuju dengan gagasan Eza tersebut. Dia masih ingin berlama-lama dengan calon suaminya itu. Entah mengapa, setelah melihat wajah Eza dia merasa tak ingin berpisah. Aliran hangat tiba-tiba terasa di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Kamu nggak mau pulan?"
Gelengan kepala ringan Yasmin perlihatkan. Dengan sorotan matanya yang mengiba tak ingin berpisah. Padahal mata itu sudah sangat merah, berharap segera terpejam.
Melihat raut wajah Yasmin yang manja akan perhatiannya, Eza pun tersenyum lebar. "Senjaku … Sayangku … ini sudah malam, kamu harus istirahat, aku juga. Besok kamu harus kerja, aku juga harus kuliah." Eza mencoba membujuk.
"Tapi … aku masih mau dekat kamu." Yasmin memanyunkan bibirnya, dan membuat Eza semakin gemas dan terkekeh karenanya.
"Cafenya juga mau tutup, tuh. Liat mas-masnya udah bersiap. Tinggal kita berdua disini." Eza menunjuk sekeliling kafe, memang hanya mereka pengunjung yang tersisa. Kafe ini akan tutup tepat jam dua malam.
Yasmin pun melihat sekeliling. "Ya udah, kita pulang. Tapi ke rumahku," ucapnya seraya berdiri dan mengambil kunci motornya di meja.
Tatapan mata Eza sempat tak percaya dengan ajakan Yasmin padanya. Jam ini, kerumah Yasmin? Wanita itu tidak bercanda kan? Bisa-bisanya Yasmin mengusulkan hal itu. Padahal Eza sudah menahan dirinya untuk tidak memeluk Yasmin berlebihan. Sekarang Yasmin ingin mereka berdua saja di rumah, bisa-bisa pertahanan dirinya jebol begitu saja. Namun, mengingat Yasmin sedang hamil, Eza harus tetap bertahan.
"Kenapa diam? Ayo, Langit?" Wanita itu langsung menarik tangan Eza hendak keluar dari kafe. Kekasihnya itu terlihat pasrah mengikuti kemauannya.
"Eh, Senja. Tunggu, bayar dulu." Eza menahan tangan Yasmin dan membayar minuman mereka saat sampai di meja kasir.
Ketika sampai di parkiran, Eza memakaikan helm Yasmin. "Kenapa tiba-tiba mau ajak aku ke rumahmu, Senja. Di jam segini?"
Eza terkekeh kecil. "Siapa juga yang nggak mau." Eza mencubit hidung Yasmin. "Aku cuma heran. Aku suka kamu manja kayak gini lagi. Setelah beberapa hari ini kamu memperlihatkan sikap dewasa kamu."
"Kamu suka aku yang dewasa atau yang manja?" tanya Yasmin kemudian.
"Dua-duanya aku suka. Karena rasanya beda. Apalagi kalau dewasa di atas …." Eza mengecilkan suaranya.
Yasmin terbelalak begitu mendengarnya, Dia tau arah pembicaraan Eza barusan. "Hisss …." Yasmin memukul lengan Eza.
"Auu, Senja?"
"Udah … jadi pulang nggak?"
"Iya, iya, kita pulang."
__ADS_1
***
Sebenarnya, ada satu hal yang membuat Yasmin mengajak Eza ikut pulang bersamanya. Selain itu, banyak yang harus dia ceritakan pada Eza. Mengingat kekecewaan di mata Eza saat mengetahui berita yang Hilman buat. Yasmin benar-benar merasa sangat bersalah. Dia ingin membuat harinya semakin lega. Menceritakan semua tentang dirinya, tak akan ada yang disembunyikan lagi. Terutama tentang penyakit yang membuat dirinya kehilangan sosok ibu.
Malam sudah sangat larut. Kawasan tempat tinggal Yasmin benar-benar sudah terlihat sunyi. Letak rumah yang berada hampir di ujung jalan, nyaris tidak ada kendaraan yang lewat. Setelah menyimpan motor mereka di bagasi, Yasmin langsung menyeret Eza masuk melalui pintu yang ada di bagasi.
Eza terkekeh melihat Yasmin seperti terburu-buru. Terlihat tidak sabar untuk melakukan sesuatu. Apakah yang ada dipikiran Eza, yang ingin Yasmin lakukan sekarang?
"Senja, pelan dong … kamu kenapa tarik aku sih? Buru-buru banget." Eza mendekat dan merangkul pinggang kekasihnya. "Kamu mau itu ya?" Bisik Eza kemudian.
Yasmin menghentikan langkahnya, mendelik pada Eza yang melihat penuh arti padanya. "Itu apa, Langit?" Dia pura-pura tidak mengerti, walau sebenarnya Yasmin tau, tapi bukan itu tujuannya mengajak Eza datang.
"Itu … Hem Hem?" Eza menaik turunkan alisnya. Lagi-lagi Yasmin memukul lengannya, kali ini lebih keras, hingga membuat Eza mengaduh cukup keras.
"Jangan mesum kamu. Kamu pikir aku minta kamu datang cuma buat itu?" Tiba-tiba aura manja Yasmin hilang. Eza jadi sulit menebak pikiran ibu hamil ini.
"Iya, iya maaf. Trus buat apa kesini?" tanya Eza kemudian. Sedikit merasa bersalah telah mengubah mood wanita itu menjadi rusak.
Yasmin mendengus, dia kembali berjalan dan meninggalkan Eza. Pria itu pun mengikuti langkahnya yang lebar. Terlihat sudah merasa kesal dengan pikiran Eza yang mengada-ada. Memangnya dia wanita apa, yang meminta hal seperti itu terang-terangan.
"Senja, tunggu. Jalannya jangan cepat-cepat, nanti kamu tersandung." Eza kembali menyamakan langkah mereka.
Ketika sampai di dapur, Yasmin menghentikan langkah, membuat Eza pun berhenti. Yasmin mundur satu langkah dan mendorong Eza masuk ke dalam. Tubuh pria itu terdorong terpaksa dengan wajah heran. Hingga sampai di depan kompor, Yasmin berhenti.
"Senja?" tanya Eza berbalik.
"Masakin nasi goreng," ucap wanita itu kembali manja. Ekspresinya tiba berubah, matanya memohon menatap mata Eza.
Eza terdiam sejenak, bingung seketika. "Kamu cuma mau aku masakin nasi goreng?" pernyataan Eza mendapat anggukan Yasmin. "Astaga, Senja. Kamu kan bisa bilang, kenapa harus nyeret aku kayak tadi?"
"Hehe …." Yasmin tersengih lucu.
"Kamu lapar?" Yasmin kembali mengangguk. "Ya udah aku masakin, tunggu sebentar."
__ADS_1
Dengan wajah berbinar Yasmin menarik kursi di meja makan, lalu duduk dengan tenang. Eza menggelengkan kepala dan tersenyum manis, lalu bersiap untuk masak.
...***...