
...***...
Setelah seseorang pernah merasakan kekecewaan yang teramat dalam hidupnya. Maka akan sulit baginya untuk memulai sesuatu yang sama. Begitu juga dengan cinta, mulai mempercayai kembali, akan membutuhkan keyakinan. Rasa kecewa yang pernah membuatnya sakit hingga menyebabkan luka yang dalam. Takut akan mengecewakannya lagi, dan takut akan memulai lagi.
Yasmin telah melalui fase ini dalam kehidupannya. Untuk dia bangkit kembali butuh kekuatan yang besar. Disaat kekuatan itu datang tanpa terduga. Dia malah dipertemukan dengan yang sulit untuk dijalani. Apakah awal dari yang baru ini tidak akan semulus yang pertama? Jelas, ini tak akan mudah, sebab itu Yasmin sulit untuk memulai.
Kehadiran Eza yang mampu membawanya merasakan hal yang sangat berbeda. Membuat Yasmin berpikir sampai ribuan kali. Dia tau cinta itu tidak salah. Hanya saja rintangan yang akan dia hadapi akan sangat panjang. Eza mencintainya, itu yang dia rasakan. Begitupun dia, yang yakin akan perasaannya kini. Kenapa begitu mudah? Entahlah, Cinta tak bisa ditebak. Cinta adalah sebuah misteri, sebuah labirin yang harus ditaklukkan.
Kini disaat Eza memintanya, Yasmin belum mempunyai jawaban. Karena ada satu hal yang belum diungkapkan. Eza pasti belum tau. Jika Yasmin mengatakan bahwa apa yang mengganjal di pikirannya kini. Apakah Eza tidak akan berubah? Masihkah Eza mau menerimanya?
Yasmin ingin mencobanya. Bagaimanapun dia harus tau reaksi Eza. Dia harus yakin dulu, apakah Eza mampu melalui ini. Dia harus percaya dulu, Eza tak akan mengecewakannya. Pria itu akan menjadi miliknya, jika Eza memang takdir yang Tuhan kirimkan.
"Senja … Senja, kamu mendengarku?" Eza memanggil karena wanita itu cukup lama terdiam. Terus memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
"Emm?" Yasmin tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Eza menatap mata Yasmin semakin dalam. "Kenapa diam? Maukah kamu menjadi kekasihku? Aku akan mencintaimu melebihi diriku sendiri."
Yasmin menurunkan tangan Eza dari dagunya. "Langit, aku … suka semua perhatian darimu. Tapi ada satu hal yang harus kamu tau. Kamu mungkin akan berubah pikiran."
Langit mengenggam lengan Yasmin. Meyakinkan wanita itu. "Aku hanya tau, aku menyukai, bagaimanapun dirimu. Kamu juga merasakannya, kan?"
"Langit, aku—"
"Halo … permisi …!" Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil dari luar.
Setiap kali Eza selalu membuatnya terkejut. Tindakan yang tiba-tiba Eza selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Yasmin membulatkan matanya, memandangi punggung pria itu menjauh. Tak lama Yasmin juga ikut keluar.
Seorang pembeli wanita sedang duduk menunggu. Sesaat kemudian Eza datang membawa sebuah lukisan, lalu menyerahkan kepada wanita itu. "Silakan liat dulu, Mbak."
Wanita itu melihat hasil lukisan dirinya, dia tersenyum. "Bagus sekali, saya suka." Dia menyerahkan kembali pada Eza. "Tolong dibungkus, Mas."
__ADS_1
"Oke, Mbak, sebentar ya." Eza pun melakukan pekerjaannya.
Yasmin yang baru saja keluar, merasa di perhatikan tiba-tiba. Wanita itu memandanginya cukup lama. Membuat Yasmin bingung, dengan tatapan mata wanita itu. Lalu wanita itu mendekat.
"Mbak, Senja?" tanyanya kemudian.
Dipanggil Senja oleh orang lain, sungguh mengejutkan. Wanita ini mengenal dirinya?
Lalu wanita mengulurkan tangan. "Saya Intan, Mbak. Maaf membuat Mbak kaget. Saya tau Mbak dari lukisan Mas Eza," jelasnya kemudian.
Yasmin menyambut uluran tangan Intan sesaat. Dia hanya tersenyum, pasti Eza mengatakan sesuatu tentang dirinya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Eza yang tengah sibuk membungkus lukisan milik Intan.
Intan mengikuti arah pandangan Yasmin. "Saya melihat-lihat semua lukisan yang ada di sini beberapa hari yang lalu. Saya tertarik pada sebuah lukisan wanita di tepi pantai. Dia tersenyum, terlihat sangat bahagia. Mbak, tau … Mas Eza terlihat sangat mencintai wanita yang ada dalam lukisan itu." Sambung Intan.
Yasmin masih diam mendengarkan. Dia semakin binggung. Eza menceritakan tentang dirinya pada orang lain?
__ADS_1
...***...