Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Yasmin pingsan


__ADS_3

...***...


Saat telah berada di depan pintu kamar mandi. Samar-samar dia mendengar, suara Yasmin sedang muntah. Wajahnya sudah terlihat sangat cemas. Yasmin terdengar sangat tersiksa. Eza pun mengetuk pintu dan memanggil Yasmin.


"Sen—" Eza teringat ada Suci di sebelahnya. "Bu Yasmin! Ibu kenapa?"


Namun, tak ada jawaban dari dalam. Pintu itu diketuk hingga Yasmin menjawab panggilannya. Tetap tak ada jawaban. Hingga ketukan yang ketiga, pintu itu tiba-tiba terbuka. Yasmin keluar dengan wajah semakin pucat. Bagian bawahnya kerudungnya telah basah. Matanya menatap nanar pada Eza yang menyambutnya di depan pintu. Kepalanya terasa semakin pusing. Dia ….


"Bu Yasmin!"


Eza bergerak dengan cepat menyambut Yasmin tiba-tiba jatuh. Teriakan Suci juga sangat keras. Sehingga mengejutkan Dion yang berada di teras rumah.


"Senja! Senja … bangun lah, kamu kenapa?"


Mendengar Eza memanggil nama Yasmin dengan cara berbeda. Suci mengerutkan keningnya. Dia juga melihat pria itu begitu khawatir. Eza lantas mengangkat tubuh Yasmin dengan sekali gerakan. Din yang datang dari arah luar langsung menghampiri begitu melihat Yasmin dalam gedongan Eza.


"Yasmin," lirih Suci saat melihat tubuh Yasmin telah terkulai dalam gendongan Eza.


"Mbak, bukain pintu ruang itu! Aku mau baringkan dia di sana." Pinta Eza langsung berjalan tergesa-gesa. Suci pun berlari dan mendahului Eza.


Tubuh Yasmin dibaringkan di atas bed pasien. Eza memegang tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya dengan kuat. Lalu menggoyangkan tubuh wanita itu dan menepuk pelan wajahnya.


“Senja … Senja, bangunlah!”

__ADS_1


Suci langsung menuju lemari obat-obatan. Sedangkan Dion ikut masuk terpaku di dekat pintu.


“Kasih ini, Mas Eza. Dekatkan ke hidung Yasmin.” Suci menyerahkan minyak kayu putih yang wangi menyengat kepada Eza.


Tutup botol itu di buka, wangi khas minyak yang berasal dari pohon kayu putih itu menyeruak masuk ke pernapasan Eza. Lalu di mendekatkan ke hidung Yasmin. Sambil perlahan dia menepuk pipi wanita itu lagi. Dion dan Suci menjadi penonton di sana, menunggu dengan rasa cemas.


“Senja, Senja, Bangunlah!” Eza telah lupa dia sedang bersama orang lain sekarang. Nama Senja terus di panggilnya sehingga membuat tatapan mata Suci pun kembali bertanya-tanya.


Ketika Dion melihat bagaimana cara Eza memperlakukan Yasmin. Serta mendengar panggilan itu, membuatnya menggeleng kepala. Terlebih lagi setelah dia melihat raut wajah Suci yang terlihat curiga.


Dion pun mendekat, lalu berbisik di telinga Eza. “Ingat tempat Lo, Za. Di sini masih ada orang lain.” dia mengingatkan.


Eza yang langsung tersadar pun terdiam. Matanya terpejam sekali, menghela napasnya ringan. Dia telah melakukan kesalahan. Semoga Suci tidak curiga dan Yasmin tak menyalahkan dirinya. Eza mencoba bersikap tenang. Genggaman tangannya dari Yasmin dilepaskan. Lalu kembali membangunkan Yasmin.


Lima menit kemudian, mata Yasmin akhirnya terbuka. Eza, Dion serta Suci bisa bernapas lega. Suci langsung pergi ke dapur, mengambilkan air untuk Yasmin.


Eza membantu Yasmin duduk. Lalu memberikan air yang dibawa Suci.


Yasmin memandang satu persatu orang-orang di sekelilingnya.


"Bu Yasmin nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing," jawabnya lemah.

__ADS_1


Eza menatap wajah Yasmin yang pucat. "Kenapa Ibu bisa pingsan? Apa ibu makan dengan benar?" Eza memposisikan dirinya sebagai murid.


Yasmin memijat keningnya, dia mengingat, obat yang dia minum tadi pagi mungkin sudah hilang efeknya.


"Iya, kamu hari ini nggak makan siang, Yasmin. Waktu makan-makan tadi kamu hanya makan sedikit, kamu malah sibuk melayani tamu.


"Itu karena aku nggak napsu makan. Ternyata begini rasanya hamil muda," batin Yasmin.


"Bu … kenapa diam aja?" tanya Eza kemudian.


"Nggak apa-apa, saya mau naik istirahat." Yasmin mengabaikan perkataan Eza, lalu beralih pada Suci. "Mbak Suci, aku tinggal nggak apa-apa kan? Tolong sekalian antar dua anak didik saya ini."


"Iya, baiklah, kamu naik aja, istirahat."


"Kalian bisa pulang sekarang, terima kasih udah bantu saya hari ini." Yasmin berbicara sedikit dingin dengan kedua pemuda itu, kemudian turun perlahan.


"Biar saya bantu, Bu." Eza menawarkan bantuan.


"Nggak usah, saya bisa sendiri." Yasmin pergi tanpa melihat ke arah Eza.


Eza terdiam tak bisa berkata-kata. Dia membiarkan Yasmin pergi. Ada sedikit rasa kecewa dan juga tanda tanya dalam benaknya.


Dion yang juga heran melihat perubahan Sikap Yasmin, menyenggol bahu Eza. "Bu Yasmin kenapa?" tanyanya berbisik. Namun Eza diam terpaku tanpa jawaban.

__ADS_1


...***...


__ADS_2