Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Malam romantis


__ADS_3

...***...


Keduanya menikmati makan malam dengan keindahan panorama pantai yang begitu memukau walau dalam gelap. Namun, suara deburan ombak serta semilirnya angin mampu membuat suasana menjadi romantis, ditambah lagi hangatnya warna lampu yang menerangi restoran tersebut.


“Langit, kamu tahu apa yang kau suka?” tanya Yasmin begitu melihat makanan yang sudah tersaji di depannya.


“Tentu saja aku mengingat semua ucapanmu waktu itu, saat kamu bercerita, otakku akan merekam semuanya. Tidak mungkin aku melupakan tentangmu walau hanya sedikit. Sekarang makanlah, nikmati malam ini sebahagia mungkin. Buang semua rasa gundah dan pikiran kalut. Oke?” Eza memantapkan kata-katanya yang disambut anggukan oleh Yasmin.


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan. Piring kotor pun di clear up oleh salah satu karyawan. Lalu satu orang staf membawa lagi satu nampan berisi dessert. Dia meletakkannya tepat di depan Yasmin, dan satu lagi diletakkan di depan Eza.


“Silakan menikmati,” ucap seorang staf lalu pergi meninggalkan mereka.


“Ini apalagi, Langit?” Yasmin menggeleng-gelengkan kepalanya karena begitu terkejut dengan hidangan penutup yang ada di depannya. Sebuah love cake berukuran mini dengan tulisan 'Thank You, My Senja' di tepi piring putih yang cukup lebar seperti di hotel berbintang.


“Hidangan manis, untuk wanita manis. Kamu suka, kan? Kamu pernah bilang, banana chocolate cake adalah kesukaanmu.”


“Kamu benar-benar mengingat semuanya, Langit.” Yasmin terkesima, lagi-lagi dia dibuat kagum oleh kejutan-kejutan indah Eza malam ini. “Tapi, ini terima kasih untuk apa?”

__ADS_1


“Terima kasih karena hari ini, kamu sudah mau menjadi ratuku, dan untuk enam hari kedepan.” Eza lalu tersenyum, tatapannya begitu menusuk Yasmin hingga ke relung.


Debaran cinta yang sebenarnya sudah ada semakin terasa kala dia harus merasakan perhatian hangat dari Eza yang begitu besar. Tak sengaja, mata Yasmin berkaca-kaca. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi karena terharu dengan sikap Eza. Seharusnya, dialah yang sangat berterima kasih karena begitu dihargai dan dianggap tuan putri untuk seorang lelaki.


Setelah menyelesaikan makan, mereka pun jalan-jalan santai di tepi pantai. Menghirup udara malam, olahraga sejenak menghilangkan rasa kenyang setelah makan banyak hidangan.


Malam pun semakin larut, malam romantis mereka terasa sangat sempurna. Segala kejutan yang Eza persiapkan telah selesai dan berjalan dengan baik. Kini waktunya mereka untuk kembali ke hotel.


Layaknya laki-laki sejati. Eza mengantar Yasmin hingga ke depan kamar. Wanita itu tak berhenti tersenyum. Pria itu menggandeng tangannya mesra. Bunga pemberian Eza diletakkan pada lengan, sehingga aroma wanginya selalu terhirup oleh indera penciumannya.


"Terima kasih," ucap Yasmin berbalik saat telah berada di depan pintu kamarnya.


"Oya? Apa itu?"


"Lihat saja besok."


"Lagi? Kejutan apa lagi kali ini? Kau selalu membuatku terkesan. Beruntung wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak."

__ADS_1


"Aku ingin kamu yang menjadi wanita beruntung tersebut."


"Aku? Hahaha, Langit ini sudah malam. Kita lanjut bercanda besok saja."


Eza terdiam, Yasmin seperti sengaja mengindari obrolan mereka. "Baiklah, aku akan menjemputmu besok jam tujuh."


"Oke, selamat malam."


"Boleh aku minta satu hal?"


"Apa itu?"


Eza lalu mendekatkan wajahnya. Mengarahkan bibirnya tepat di kening Yasmin. Kecupan manis ia berikan sebelum mereka berpisah. Yasmin terkesiap, lalu memejamkan mata sesaat merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Eza menyentuh kulitnya.


"Selamat malam, Senja."


Mereka melambaikan tangan, perpisahan yang terasa pahit untuk keduanya. Untuk Yasmin maupun Eza. Yasmin menutup pintu hatinya sangat rapat, dan Eza pun belum mampu untuk membukanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2