Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Tempat tinggal


__ADS_3

...***...


Siang itu, secara kebetulan jadwal kuliah siangnya telah dibatalkan, karena dosennya mengubah jadwal. Dia hendak mampir ke rumah Yasmin, tapi harus minta persetujuan dari kekasihnya itu. Eza pun menelepon, dan tanpa di sangka Yasmin sendiri yang mau dia datang. Tentu saja hal itu membuatnya sangat senang. Eza bergegas melajukan motornya menuju rumah Yasmin.


Sebagai seorang pria yang sangat mengagungkan sang kekasih. Membuat dirinya merasa dibutuhkan adalah perasaan yang luar biasa. Memberi yang terbaik, melakukan apapun yang wanita dicintai minta. Eza sangat ingin Yasmin bisa bergantung pada dirinya. Walaupun tidak untuk semua hal. Dia sendiri tahu, Yasmin wanita yang sangat mandiri. Jadi, kesempatan seperti ini tak akan dia lepaskan.


Sesampainya di rumah Yasmin, Eza langsung masuk dan menyapa Suci. "Siang Mbak Suci, Bu Yasmin ada?"


"Oo … ada Mas Eza, langsung ke ruang tengah aja Mas, udah di tungguin."


"Terima kasih, Mbak."


Saat Eza sampai di ruang tengah, langkahnya terhenti. Dia melihat Yasmin sedang mengobrol dengan seorang lelaki, masih muda. Obrolan mereka sepertinya menarik, Yasmin bahkan bisa tertawa. Eza diam memperhatikan, Yasmin tak menyadari kedatangannya. Hal itu membuat Eza sedikit tak suka. Dia pun berdehem, menyadarkan Yasmin.


"Oohh, Eza. Kamu udah datang? Saya perkenalkan dulu, ini Galang, dokter yang akan membantu saya di klinik." Yasmin memperkenalkan keduanya.


Raut wajah Eza sedikit kaget. "Membantu di klik, kenapa Senja nggak ngasih tau sebelumnya?" Dia membatin. Tatapan mata Eza beralih pada Galang yang juga menatapnya.


Galang berdiri dan memperlihatkan senyuman ramah. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Saya, Galang," ucapnya seraya tersenyum.


"Eza," jawabnya sedikit ketus. Tangan Galang bahkan dijabatnya tak sampai satu detik.

__ADS_1


Yasmin menyadari perubahan sikap Eza. "Eza." Panggilnya kemudian, yang membuat Eza melihat padanya. "Duduk dulu." Yasmin mengarahkan Eza agar duduk di sofa yang masih kosong, bersebelahan dengan lelaki tadi.


Galang merasakan atmosfer sedikit berbeda setelah kedatangan Eza. Saat pertama mereka saling bertatapan. Eza tampak tidak suka dengan dirinya. Tentu saja dia merasa sangat bingung. Mereka baru berkenalan, rasanya sudah dimusuhi oleh Eza.


Yasmin menghela napas. "Apa yang dipikirkan anak ini," batin Yasmin. Lalu dia mulai berkata, "Eza. Saya mau minta bantuan dari kamu."


"Bantuan apa, Bu Yasmin?" Raut wajahnya berubah seketika, dia menatap Yasmin dengan lembut.


"Galang sedang mencari tempat tinggal. Jika rumah kos yang kamu tempati sekarang masih ada tempat kosong, bisa kamu bantu dia untuk tinggal di sana?"


Eza melirik pada Galang sekilas. "Apa, tinggal denganku? Masalah kedatangannya, aku belum tau apa-apa. Sekarang Senja mau aku membantunya?" batinnya lagi, dia sedikit keberatan.


"Eza, kenapa diam aja? Di rumah kamu masih ada tempat kosong atau nggak?" Yasmin mengulangi.


"Haahh, sayang sekali." Helaan napas Yasmin berat. "Galang, terpaksa sementara kamu tinggal di hotel, apa nggak apa-apa?"


Galang sudah mengatakan sebelumnya, jika dia tidak bisa menginap di hotel. Pria itu akan kesulitan untuk tidur, karena tidak suka dengan suasananya. Terlebih lagi jika dia sendirian. Yasmin merasa sedikit bersalah. Sebelumnya dia telah berjanji akan menyediakan tempat tinggal. Tapi karena kesibukannya, dia terlupa.


"Mbak Yasmin. Saya tidak bisa tidur kalau di hotel." Galang mengingatkan sekali lagi.


Mata Eza membulat besar. "Mbak? Mereka sudah sedekat itu?" gumamnya dalam hati. Rasa panas mulai naik ke puncak kepalanya.

__ADS_1


"Iya, tapi nggak ada jalan lain. Mencari tempat tinggal sekarang akan butuh waktu lama. Sebentar lagi klinik akan buka." Yasmin diam sejenak. "Bagaimana kalau menginap di sini dulu aja malam ini."


"Apa?" Eza tiba-tiba berteriak, langsung berdiri. Membuat kedua orang itu pun tersentak. "Kenapa dia harus tidur disini!"


"Eza, kenapa kamu? Saya belum selesai bicara!" Yasmin membelalakkan matanya. "Duduk!" perintah Yasmin tegas.


Sikap Eza membuat Galang kebingungan. Dari mata saja sudah bisa dilihat, ada yang lain dari tatapannya itu. Galang menyunggingkan senyuman tipis. Dia menebak, jika Eza pasti menyukai dosennya sendiri. "Ini akan menarik," batinnya.


Eza pun kembali duduk. Sedikit rasa bersalah karena tiba-tiba berteriak. Apalagi melihat tatapan mata Yasmin yang marah. "Maaf, Bu Yasmin. Saya … hanya kaget."


Sikap Eza membuatnya harus lebih bersabar. "Saya belum selesai bicara. Jika Galang tidur di sini malam ini, saya akan minta Mbak Suci ikut menemani saya."


"Saya tidak masalah Mbak. Kalau Mbak Suci tidak keberatan," kata Galang lembut.


"Saya keberatan!" Lagi-lagi Eza membantah. Dalam pikirannya, walau ada Suci sekalipun, dia tetap tinggal satu atap dengan Yasmin. Eza sama sekali tidak dapat menerimanya.


"Kenapa kamu keberatan? Memangnya kamu bisa ngasih solusi?" Yasmin bertanya.


"Tinggal di tempatku saja. Aku akan berbagi kamar denganmu." Eza mengatakan langsung pada Galang. Mereka kini saling berhadapan.


Yasmin memperhatikan kedua pria di depannya. Terutama tatapan mata Eza yang terlihat sangat jelas, menunjukkan ketidaksukaannya. "Langit, jaga sikapmu," batin Yasmin. Lagi-lagi dia menghela napas.

__ADS_1


...***...


__ADS_2