Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Meminta sesuatu


__ADS_3

...***...


Melihat sikap Eza, Yasmin pun hanya pasrah. Dia sudah malas berdebat dengan lelaki di hadapannya itu karena terlalu keras kepala. Percuma jika dia akan menolak, toh paksaan Eza akan tidak akan berhenti begitu saja.


"Sampai kapan kamu akan jadi orang yang keras kepala?" tanya Yasmin sambil melipat tangannya ke dada dan melihat Eza lekat-lekat.


"Sampai kau jadi milikku, cantik! Sampai dunia menjadi milik kita!" Eza pun tertawa dengan ucapannya sendiri yang terdengar menggelikan.


Yasmin yang mendengarnya pun langsung menarik napas panjang. "Sepertinya, kamu sering mengobral gombalan ke semua wanita."


"Hei, kata siapa? Bahkan aku sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Di hatiku hanya ada kamu, Senja."


"Sudah, sudah, cukup! Jangan terus menggombal."


"Baiklah, kita berangkat sekarang," ucap Eza menggandeng tangan Yasmin. "Perlu bantuan?" tawar Eza ketika wanita itu hendak naik ke motornya.


"Terima kasih," jawab Yasmin singkat. "Memangnya mau ke mana, sih?"

__ADS_1


Niatnya untuk pulang dan beristirahat pun harus tertunda. Entah kenapa hari ini Yasmin merasa sangat lelah. Tubuhnya seperti ingin terus berbaring. Kebetulan pekerja hari ini telah selesai, Yasmin pun ingin cepat-cepat pulang. Namun, kini Eza mengajaknya keluar lagi, dia pun terpaksa menuruti keinginan pria itu.


"Ke tempat yang indah, kamu pasti suka. Ya, walaupun tak seindah Bali, setidaknya di sini juga punya keindahan istimewa yang perlu kamu jelajahi." Seperti bias Eza memberikan senyuman terbaiknya.


Keduanya pun kini menikmati jalanan pegunungan menuju ke suatu tempat yang sejuk dan sangat nyaman untuk menghabiskan waktu di siang hari.


The Lost World Castle, sebuah destinasi wisata Yogyakarta yang terletak di dusun Petung, desa Kepuharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman. View pemandangan di sana sangat indah, mulai dari melihat kota Yogyakarta dan Gunung Merapi.


The Lost World Castle ini menyerupai bangunan kuno dan banyak orang mengatakan seperti Tembok Besar Cina ada juga yang menyebut seperti 'Benteng Takhesi' karena bangunannya menyerupai Benteng takhesi.


Benteng Takeshi memiliki bangunan megah dengan desain klasik dan vintage, dengan temboknya yang berwarna abu-abu dan nuansa warna hitam. Bangunan ini berdiri megah dengan luasnya yang mencapai 1,4 hektar.


“Langit ... ah maksudku Eza. Aku belum terbiasa memanggil dengan nama aslimu.” Yasmin tiba-tiba ingin merubah cara menyapa pria itu.


Eza terdiam sejenak. “Aku lebih suka kamu memanggilku Langit. Anggap saja itu panggilan sayang kita.” Eza terkekeh. Yasmin pun hanya berdecak menanggapi lelaki itu.


Yasmin pun mengabaikan hal itu. Dia memfokuskan perhatian pada pemandangan di depan matanya. Dia tampak begitu terpesona dengan keindahan itu. Saat menginjakkan kaki di rerumputan hijau nan luas, menyegarkan mata memandang, ditambah lagi batu yang tersusun rapi membentuk bangunan yang sangat indah. Benar-benar menakjubkan.

__ADS_1


“Tempat ini seperti kerajaan di negeri dongeng, sangat indah. Terima kasih sudah membawaku ke sini.”


Eza tersenyum mendengar ucapan Yasmin. Melihat kebahagian di wajah wanita itu, membuat Eza semakin yakin ingin mengungkapkan perasaannya.


Yasmin dan Eza menyusuri setiap sudut tempat wisata tersebut. Lelaki itu bahkan sama sekali tak melepaskan tangan Yasmin saat berjalan. Keduanya tampak begitu mesra, seperti pasangan kekasih yang sebaya. Padahal, jika ditelisik umur mereka terpaut sangat jauh.


Saat menghentikan langkahnya dan memperhatikan sekitar, terbesit dalam benak Eza untuk meminta sesuatu pada Yasmin.


“Bolehkah jika aku minta sesuatu?” tanya Eza saat menatap Yasmin yang sedang memfoto bunga sakura di depannya.


“ Apa?” Yasmin menengok.


“Aku pengen banget foto berdua sama kamu. Sekali ini saja. Please!” Eza memohon dengan wajahnya yang dibuat menggemaskan. Menangkupkan kedua tangannya isyarat permohonan. Sudah lama Eza menginginkan foto berdua dengan Yasmin karena selama ini dia hanya memandang foto yang dicurinya saat di Bali, atau dia hanya akan memandang Yasmin pada lukisan.


“Bukankah kau sudah banyak melukis wajahku? Apa itu kurang? Bisa saja kamu melukis kita, kan?” jawaban Yasmin seolah mengabaikan permintaan Eza.


Eza pun mendengus kesal. “Baiklah kalau tidak mau, aku juga nggak maksa.” Eza memasang wajah sendunya.

__ADS_1


Mungkin memang saat ini Yasmin susah untuk melembutkan hatinya. Meski kadang kala dia bisa bersikap baik, tetapi wanita itu sering berkata acuh saat Eza menginginkan suatu paksaan.


...***...


__ADS_2