Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Dokter Yasmin Mahesa


__ADS_3

...***...


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam. Akhirnya mereka sampai di kawasan rumah Yasmin. Eza akan mengantar Yasmin sampai di depan rumah, tetapi wanita itu menolak. Dia mau turun di tempat biasa. Namun, Eza bersikeras, dia tak mau membiarkan Yasmin jalan sendirian tengah malam begini.


Eza memelankan laju kendaraannya. "Senja, jangan buat aku semakin khawatir. Wanita berjalan sendiri tengah malam gini, bahaya."


"Tapi, aku …." Yasmin masih memiliki kekhawatiran dengan omongan warga.


"Kenapa? Kamu keberatan aku tau dimana kamu tinggal? Memangnya aku bisa berbuat apa kalau tau rumahmu?"


"Bukan begitu, Langit."


"Lagipula, siapa yang masih terbangun di jam segini?"

__ADS_1


Yasmin diam sejenak. "Baiklah, ikuti arah tunjukku."


Eza tersenyum penuh kemenangan. Yasmin akhirnya setuju, dengan begini dia tak perlu cemas lagi akan keselamatan wanita itu.


Suasana malam di kawasan kampung itu memang sepi. Tak ada aktivitas apapun lagi yang dilakukan warga. Kecuali para bapak-bapak yang melakukan ronda malam, itu pun mereka hanya berkeliling sekali saja pada jam tiga. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di pos ronda. Banyak hal yang bisa mereka lakukan disana. Semoga Yasmin dan Eza tak bertemu dengan orang yang bertugas malam ini.


Setelah melihat Yasmin masuk ke dalam rumah, barulah Eza merasa tenang. Dia pun kembali ke rumah dan beristirahat. Besok, dia tak sabar menantikan hari esok untuk bertemu dengan Yasmin lagi.


Keseharian di kampus berjalan seperti biasanya. Eza dan Yasmin masih bisa bertemu di dalam kelas atau di kantin. Namun, kali ini Eza tak bisa lagi mengantar Yasmin pulang. Wanita itu sengaja membawa motor sendiri agar punya alasan untuk menolak Eza.


Dua hari ini juga, Yasmin sibuk mengurus persiapan klinik barunya. Eza pun tak bisa lagi meminta libur pada bos kafe, dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Termasuk dengan kesibukannya memberi jasa melukis di alun-alun. Jadi, mereka lebih banyak melakukan komunikasi melalui telepon ataupun chatting-an.


Dalam hitungan hari, Yasmin akan secara resmi membuka kliniknya. Nama 'Dokter Yasmin Mahesa' akan mulai dia gunakan. Berkat bantuan dari beberapa senior, semua terasa mudah. Surat-surat yang harus diurus juga tak banyak, karena dia telah memiliki semua yang diperlukan.

__ADS_1


Sore harinya, setelah yasmin selesai merapikan ruangan yang bakal untuk praktik, dia masih mengobrol dengan Suci. Wanita itu bersedia bekerja dengan Yasmin karena pekerjaan sebelumnya tak banyak menghasilkan, sementara dia butuh untuk kedua anaknya. Yasmin menawarkan haji yang lumayan untuknya.


Yasmin mengunakan setengah dari rumahnya untuk dijadikan klinik. Mulai dari teras, ruang tamu hingga kamar tidur. Karena rumah itu terdiri dari dua lantai, Yasmin hanya akan melakukan aktifitas pribadinya di lantai dua. Sebelumnya dia tidur di lantai satu, kini harus pindah ke atas. Semua peralatan yang diperlukan sudah selesai di tata pada tempatnya.


Matahari mulai tenggelam dan berganti fajar. Selesai membersihkan diri, Yasmin lantas mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Ada beberapa panggilan telepon tak terjawab.


“Langit,” gumamnya. Yasmin lantas membuka aplikasi berwarna hijau membuka beberapa pesan yang dikirim oleh Eza. Kerwna kesibukannya hari ini, Yasmin tak ada waktu untuk memeriksa ponselnya.


“Maaf, tadi sedang sibuk. Ada apa telepon?” yasmin mengetik pesan tersebut dan mengirimnya pada Eza.


Tanpa menunggu lama, Eza pun langsung membalasnya. Ponsel lelaki itu bahkan tak pernah lepas dari genggamannya, karena pikirannya selalu dipenuhi oleh Yasmin. Saat pesan dan panggilan teleponnya tak ada respons, sudah dipastikan Eza akan begitu khawatir. Bayangan Yasmin sakit terus membuatnya cemas, apalagi wanita itu hanya tinggal seorang diri. Hampir saja dia nekat mendatangi rumah Yasmin jika sampai malam tidak ada kabar dari pujaan hatinya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2