
Sampai di mension mewah Damian, Sky menggendong tubuh Elvira masuk ke dalam kamar. Raline yang berpapasan dengan Sky yang menggendong putrinya mengikuti dari belakang.
Sampai di kamar Elvira Sky menurunkan Elvira di ranjang miliknya.
"Apa kau ingin sesuatu El.?"
Elvira menggelengkan kepalanya, Sky menganguk melihat gelengan kepala Elvira.
"Apa Baby Callista tidur aunty.?"
"Baru saja tertidur,"
"Dimana kamarnya.? Aku ingin melihatnya sebelum pulang."
"Di kamar sebelah,"
Sky menggangguk mengiyakan, ia mendekat ke arah Elvira dan mencium keningnya.
"Aku pulang sayang."
Elvira mengangguk mengiyakan ucapan Sky. Tak lama ia melihat punggung Sky yang menjauh. Ia menoleh ke arah ibunya yang menatapnya.
"Mom.."
Raline memeluk putrinya dan tersenyum lebar. Mengusap punggung Elvira dan berbisik pada putrinya.
"Mommy selalu mendukungmu sayang, apapun pilihan mu, mommy yakin kau akan bahagia."
Elvira menganguk mengiyakan ucapan ibunya, ia yakin jika cintanya tak salah.
"Pagi sayang.."
Cup...
Sky menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas di dalam bok. Putri Elvira memang sangat cantik, entah apa yang Sky rasakan saat melihat Callista yang tidur pulas di dalam bok bayi miliknya.
Tangannya terulur mengusap pipi dan hidung bayi mungil di depannya.
__ADS_1
"Aku akan menerima keputusan ibumu sayang, aku mencintaimu dan ibumu."
Sky mengecup kembali bibir mungil yang sedikit terbuka. Tak lama ia pergi meninggalkan Callista di kamarnya dan menuruni anak tangga. Sky akan pergi ke perusahaan miliknya. Satu Minggu lagi hasil tes DNA nya akan keluar dan Sky akan tetap sama, meskipun dia putri Mark Harrold.
*
Sudah beberapa hari ini Mark tak fokus bekerja, pikiran nya masih tertuju pada Elvira dan Sky yang akan menikah. Mark tak tau kapan mereka akan menikah, yang jelas Mark tak ingin tau. Itu akan membuat hatinya sakit luar biasa.
Padahal Mark sudah sangat merindukan Elvira dan bayinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia akan memendam rasa rindunya pada kedua wanitanya.
"Aku sangat merindukan kalian."
"Tuan, hari ini kita akan pergi ke Restauran."
Mark mengusap wajahnya kasar, kenapa ia bisa lupa jika hari ini ia sudah berjanji dengan rekan bisnisnya.
"Hemm.."
Mark berdiri dan di ikuti oleh Rendra di belakangnya. Pergi ke restoran di mana ia sudah berjanji dengan rekan bisnisnya jika hari ini akan bertemu.
Satu jam kemudian Rendra membuka pintu mobil belakang di mana Mark duduk. Menundukkan wajahnya kembali saat Mark keluar dari dalam mobilnya.
Mark berjalan lebar masuk ke dalam Restauran. Sampai di dalam Mark sudah di sambut oleh wanita yang berprofesi sebagai pelayan. Mark mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu hingga sampai di ruang VIP Restauran.
"Silahkan tuan."
Mark masuk ke dalam dan tatapan mata tajamnya menatap wanita cantik yang duduk di kursi sofa dan menatapnya tersenyum lebar.
"Selamat siang tuan Mark."
Mark tak menjawab sapaan wanita cantik itu. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia berjalan mendekati wanita itu dan duduk di depannya.
Belle yang tak mendapatkan jawaban dari Mark tersenyum kecut. Ia kembali lagi mendudukkan tubuhnya di kursi miliknya.
"Maafkan saya tuan, tuan Devano yang mengutus saya datang kemari."
Mark melirik sekilas, ia tak perduli dengan wanita di depannya ini.
__ADS_1
"Tuan ki_"
"Maaf nona, saya tak suka berbasa-basi, bisa kita bahas tentang kerja samanya. Saya banyak urusan yang harus saya kerjakan."
Ucap Mark tak ingin berlama lama bersama wanita yang duduk di depannya ini.
Belle menganguk mengiyakan, tak lama ia membuka berkas yang di bawanya ke hadapan Mark. Tapi sayangnya Belle menjatuhkan vas bunga hiasan di atas meja.
Prang...
"Maaf.."
Gigi Mark gemerutuk menahan emosi yang luar biasa. Kejadian seperti ini mengingatkan dirinya saat menghianati Elvira. Tak lama ia melirik ke arah wanita yang menunduk dan mengambil pecahan vas. Mark tersenyum tipis, ia acuh tak perduli dengan wanita itu.
"Aw.." Bella meringis merasakan perih di ujung jari telunjuknya.
"Katakan pada tuan Devano, perjanjiannya batal."
Belle shock mendengar penuturan Mark di depannya. Ia menggelangkan kepalanya mendengar penuturan Mark.
"Tuan, ada apa.?" Belle mendekati Mark, dia bingung melihat tatapan tajam Mark padanya.
Krett..
Mark berdiri kasar dari atas kursinya. Ia menatap tajam pada Belle yang mendekatinya.
"Bilang padanya jika aku tak suka bekerja sama dengan seorang wanita."
Desis Mark pergi meninggalkan wanita itu yang shock mendengar penuturan Mark.
Tapi tak lama ia tersadar dari lamunannya, rupanya Mark Harrold tak mudah rayu.
"Brengsek.."
Tapi Bella tak ingin kehilangan akal, Mark harus menyetujui kerja sama ini bersama dengan Devano. Belle tak akan melepaskan Mark Harrold, pria yang bersetatus duda itu pasti akan tergoda dengannya. Ya sebagian orang sudah tahu jika Elvira Jennifer dan Mark Harrold sudah bercerai. Itu sebabnya banyak wanita yang ingin berlomba untuk mendapatkan perhatian Mark Harrold.
.
__ADS_1