
Rosa berjalan mengendap melewati pintu belakang Club. Ia sudah tak mampu lagi, menahan rasa sakit di area sensitifnya di gilir setiap malam dengan pria yang berbeda-beda. Tak hanya satu setiap malamnya, hingga miliknya benar benar sakit.
"Aku harus pergi dari sini, mereka tak boleh menemukanku."
Rintihnya, berjalan perlahan dan menatap kesembarang arah.
Sampai di luar, Rosa bernafas lega saat berhasil keluar dari dalam Club. Ia berlari sejauh mungkin menjauh dari Club tempatnya selama ini.
Sedangkan Sonia dan kedua sahabatnya yang baru keluar dari restoran melihat Rosa yang berjalan cepat sambil sesekali menoleh ke belakang. Lara mengepalkan tangannya, sudah beberapa bulan akhirnya mereka melihat wajah Rosa. Wanita yang sudah membuat Elvira menderita, karna ulahnya. Sahabatnya pergi entah kemana karna Rosa, wanita sial yang sok polos dan benalu yang sebenarnya.
"Wanita sialan,"
Sonia melirik ke arah Lara yang mengumpat, tak lama ia melihat Lara berjalan tergesa gesa mendekati Rosa. Rosa sendiri yang tak tau jika sahabat Elvira berjalan mendekatinya.
Sett..
"Aw.."
Plakk...
Tanpa ba-bi-bu, Lara melayangkan tangannya pada Rosa dan menjambak rambutnya.
"Brengsek lepaskan aku sialan." Teriak Rosa berontak.
"Gara gara kau wanita ******, aku akan membunuhmu, rasakan ini." Teriak Lara.
Plakkk.. Plakk..
Tak hanya Lara yang emosi, Kania juga tak kalah emosi saat melihat Rosa baik baik saja. Mereka berdua menjambak rambut Rosa dan menampar, mencakar dengan kuku mereka. Hingga Rosa berteriak keras kesakitan, tak ada yang berani menolong Rosa.
"Aku juga akan membunuhmu wanita sialan." Kania berteriak tak kalah emosi.
"Brengsek apa yang kalian berdua lakukan, lepaskan aku, sakit." Teriak Rosa,tapi tak di indahkan oleh Lara dan Kania. Mereka berdua menarik rambut Rosa hingga terlepas sebagian.
Menindih Rosa dan menamparnya berkali-kali. Bahkan tak segan segan Kania menggores wajah Rosa dengan kuku panjangnya berulang kali.
__ADS_1
"Akk lepaskan.."
Terang saja Rosa tak bisa berbuat banyak, selain dikeroyok oleh dua wanita bar-bar. Ia juga tak bisa bergerak leluasa karna milik nya yang sakit.
Sedangkan Sonia hanya berdiri mematung melihat dua sahabatnya bertindak gila. Ia sangat shock sampai hanya berdiri mematung. Tapi tak lama Sonia tersadar saat mendengar suara tepuk tangan dan sorakan di sampingnya.
"Ayo, hempaskan wanita itu."
Terdengar suara ramai di telinganya. Sonia terkesiap, melihat dua sahabatnya yang mengeroyok Rosa. Ia berlari kearah mereka berdua dan menarik tubuh Kania dari atas tubuh Rosa.
"Kania, lepaskan.."
"Lepaskan aku Sonia, aku akan membunuh wanita sialan ini."
Kania berontak dan mendorong Sonia dengan tenaganya, hingga Sonia terhuyung kebelakang.
Kania kembali lagi pada Rosa, mencakar wajah dan tubuhnya yang terbuka. Rosa memang memakai baju yang terbuka khas wanita penghibur. Hingga memudahkan kuku Kania dan Lara, membuat tato di tubuh Rosa.
"Akk, lepaskan aku, tolong." Teriak Rosa.
Sedangkan Sonia kembali lagi bangkit dan menoleh pada semua orang.
"Brengsek lepaskan, aku akan membunuh wanita sialan ini." Masih belum terima dan emosi, Kania berontak di tangan tiga orang yang menariknya.
Sonia menatap kedua sahabatnya, ia lalu menoleh pada Rosa. Rosa merintih kesakitan, wajah dan tubuhnya sangat perih, di tambah lagi kepalanya yang sakit luar biasa. Tampilannya sudah sangat menyedihkan, luka dari kuku Kania dan Lara banyak yang mengeluarkan darah.
Sonia menatap lagi pada kedua sahabatnya. Melihat Kania dan Lara yang masih emosi, terlihat dari dadanya yang naik turun dan nafasnya yang memburu.
"Kalian berdua kenapa.." Lirih Sonia tak habis pikir pada keduanya.
Kania melirik ke arah Sonia dan membuang wajahnya sebal. Ia tak habis pikir kenapa Sonia membela wanita sialan ini.
"Kau tau Sonia, aku akan membunuhnya."
Teriak Lara, masih belum terima dan emosi saat tak bisa menemukan Elvira di manapun berada.
__ADS_1
Sonia mendesah lirih, ia melirik ke arah Rosa yang sangat menyedihkan.
"Bukan seperti ini caranya."
Lara mendengus mendengar perkataan Sonia, ia berontak dari cengkraman tangan dua wanita yang memegang.
"Lepas.." Teriaknya.
Keduanya pun melepaskan Lara, begitupun deng Kania. Mereka membubarkan dirinya saat melihat tatapan mata Lara yang menatapnya tajam.
Lara menatap Rosa yang merintih kesakitan, ia mendekatinya lagi, tapi Sonia berlari menghadangnya.
Lara lagi lagi menatap Sonia sebal, kakinya terayun dan menginjak Rosa.
"Lara.." Ucap Sonia.
"Dengar wanita sialan, jangan pernah tunjukan wajah buruk mu pada kami, wanita sial. Awas saja jika kau berani macam-macam dengan Elvira lagi." Ucapnya meninggalkan Rosa.
Kania menatap Rosa penuh kemenangan, ia berjalan menyusul Lara yang mendekati mobil.
Sedangkan Sonia mendesah lirih, ia berbalik dan menatap wajah Rosa yang banyak meninggalkan jejak kuku. Tak hanya wajah, punggung dan dada Rosa juga tak kalah meninggalkan jejak. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya juga robek sana sini.
"Aku tak menyangka mereka akan sebrutal ini." Gumamnya lirih.
"Ingat jangan tunjukkan lagi wajahmu pada kami. Dan jangan coba coba lagi menyakiti Elvira lagi. Asal kau tau tak hanya mereka berdua yang akan melukaimu, aku juga akan melukaimu."
Sonia berbalik dan pergi meninggalkan Rosa yang merintih kesakitan. Rosa mengepalkan tangannya, tak habis pikir, jika ia akan berakhir seperti ini. Menghindari mereka yang suka menjamah tubuhnya dengan brutal menghujam miliknya tanpa ampun. Ia justru mendapatkan hal seperti ini dari sahabat Elvira.
Sedangkan di mobil Kania dan Lara, menatap sengit pada Sonia.
"Kalian berdua sudah sangat keterlaluan." Ucap Sonia.
"Kau membelanya." Teriak Kania dan Lara berbarengan.
Sonia menghela nafasnya perlahan, ia menyalakan mobil Kania. Tak mungkin Sonia membiarkan Kania yang menyetir, sudah pasti terbawa emosi.
__ADS_1
.
.