
Deg...
Elvira menyambar berkas di tangan Melisa dan membacanya. Matanya berkaca-kaca melihat hasil di kertas putih yang mengatakan, sembilan puluh sembilan persen adalah cocok.
"El..."
Melisa mendekati Elvira dan memeluknya, seketika juga Elvira menangis di pelukan Melisa. Elvira tak menyangka jika hasilnya akan cocok dengan putrinya.
"El kau harus tau, jika semua ini adalah kehendak Tuhan."
Elvira mengangguk mengiyakan ucapan Melisa, masih menangis di pelukan Melisa. Elvira meraung di pelukan Melisa.
" El jangan seperti ini, beritahu dia, dia pasti akan bahagia. Dia pantas mendapatkan semuanya El, percaya padaku."
Kata Melisa mengusap punggung Elvira yang bergetar hebat. Ia tau jika Elvira sangat berharap semua ini. Dan sekarang semuanya sudah berakhir dan Elvira sudah mengetahui siapa ayah dari bayi putrinya.
Hingga setengah jam berlalu, Elvira baru berhenti menangis. Melisa mengusap air mata Elvira yang mengalir. Ia sudah menganggap Elvira sebagai putrinya. Melisa sangat menyayangi Elvira, begitupun dengan suaminya, mereka berdua sangat menyayangi Elvira.
"Pulanglah."
Elvira mengangguk mengiyakan, tak lama ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Melisa di ruangannya.
Melisa menghembuskan nafasnya perlahan, ia menatap kertas putih di tangannya. Ia tak menyangka, jika Elvira mengandung putrinya.
Sampai di parkiran, Elvira duduk di dalam mobilnya. Menguatkan hatinya jika dia pasti tak akan salah memilih.
Elvira mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang pulang ke mension mewah Damian.
*
Sampai di mension Elvira menaiki anak tangga, sampai di atas Elvira langsung berjalan ke kamar putrinya.
Clekk...
"El..."
Elvira tersenyum lebar melihat ketiga sahabatnya berada di kamar putrinya. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut ketiga sahabatnya. Ia sangat merindukan mereka bertiga.
"Kau jahat El.."
Mereka terisak memeluk Elvira yang sangat mereka rindukan.
"Maaf.."
Sesal Elvira pada sahabatnya. Raline yang melihat itu juga terisak, ia menatap wajah cucunya yang ada di pangkuannya. Nasib tak berpihak pada cucunya yang malang.
*
Sudah tiga jam, bibir Sky memberenggut menatap ponsel di tangannya. Bagaimana mungkin Elvira tak mengangkat ponselnya dan berani mengabaikan telpon darinya.
__ADS_1
"Calvin.." Teriak Sky emosi, padahal saat ini Sky berada di dalam ruang meeting. Banyak karyawan dan rekan bisnisnya yang menatap Sky penuh tanda tanya.
"Ya tuan.."
Calvin menundukkan wajahnya, ia bingung dengan tuannya yang berteriak saat sedang meeting.
"Dimana ponselmu.?"
Calvin merogoh ponsel di tangannya dan memberikannya pada tuannya. Sky menyambar ponsel di tangan Calvin dan menghubungi Elvira. Panggilan kedua, Elvira mengangkat sambungan telepon darinya.
"Hallo.."
Sky mendengus mendengar suara Elvira di telinganya. Bagaimana mungkin Elvira tak mengangkat telepon darinya sementara dari nomor Calvin, Elvira langsung mengangkat teleponnya.
"Sayang kenapa tak mengangkat telpon dariku." Ucap Sky pada Elvira, dan semua orang yang melihat Ausky Luis heran dan melongo.
Sky tak perduli dengan tatapan semua orang, yang penting adalah Elvira.
"Aku baru saja mengambil ponselku di mobil yang tertinggal." Jawab Elvira.
Sky mengerutkan keningnya mendengar jawaban Elvira.
"Tertinggal di mobil, kau dari mana sayang.?"
"Dari rumah sakit tadi."
Sky diam mendengarkan jawaban Elvira lagi, untuk apa Elvira datang ke rumah sakit. Dan dengan siapa dia pergi ke sana. Sedangkan hasil tes DNA itu lima hari lagi baru keluar.
"Sky.."
"Sky.." Sky terkesiap mendengar Elvira memanggilnya lagi.
"Ya sayang.."
"Kau sedang di mana.?"
"Meeting sayang."
Elvira terkekeh kecil mendengar jawaban Sky. Dan Sky mendengus mendengar Elvira yang mengejeknya. Sky mengatakan jika Elvira sudah mengabaikan teleponnya hingga berpuluh puluh kali. Hingga setengah jam berlalu Sky baru mengakhiri sambungan teleponnya.
Sky tersenyum lebar, ia melirik ke arah semua orang yang menatapnya.
"Lanjutkan.."
Calvin menghembuskan nafasnya perlahan, ia mengangguk menatap semua orang yang berada di ruang meeting agar melanjutkan meeting nya lagi.
*
Tiga hari kemudian...
__ADS_1
Elvira menuruni anak tangga bersama dengan baby sister dan putrinya.
Raline dan Damian yang melihat Elvira menuruni anak tangga heran.
"Sayang kau mau kemana.?"
Tanya Damian melihat Elvira membawa putrinya. Damian yakin jika Elvira akan mengajak putrinya pergi bersamanya.
"El mau mengajak Callista jalan sebentar saja Dad."
Damian mengangguk mengiyakan ucapan Elvira. Sebenarnya Elvira belum terlalu sembuh, tapi Damian tak bisa melihat putrinya memohon padanya. Dan Elvira tersenyum, ia mengajak putrinya pergi bersamanya. Sebelum Damian berubah pikiran dan tak mengijinkannya keluar dari mension.
"Nona kita akan kemana.?"
"Taman.."
Pengawal yang menjadi supir mengangguk mengiyakan ucapan nona mudanya dan tak lama ia menyalakan mobilnya menuju taman.
Sampai di taman, Elvira mengambil putrinya dari gendongan baby sisternya.
"Tunggu aku di sini saja, aku akan pergi sebentar."
"Tapi nona.."
"Aku akan baik baik saja, aku juga akan lama di dalam kau hanya perlu menunggu disini."
Wanita di depannya ini hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama ia melihat Elvira pergi masuk ke dalam taman.
"Kita akan bertemu daddy sayang."
Gumam Elvira pergi bersama dengan putrinya.
*
Sampai di depan perusahaan, Elvira yang menggendong Callista di tangannya menghembuskan nafasnya perlahan. Perlahan masuk ke dalam dan menaiki pintu lift. Elvira tak perduli dengan tatapan mata tajam para karyawan yang menatapnya heran.
Ting...
Elvira keluar dari pintu lift, berjalan keluar dan menatap ke depan. Langkah kaki Elvira semakin bergetar, saat ia sampai di depan pintu ruangan CEO.
"Nona.."
"Apa tuanmu ada di dalam.?"
Elvira tersenyum tipis melihat anggukan pria di depannya ini. Elvira kembali lagi melangkahkan dan sampai di depan pintu Elvira membuka pintu perlahan.
Elvira mematung melihat pria di depannya yang tak jauh darinya. Lama Elvira diam hingga Callista yang ada di gendongannya merengek.
Sedangkan pria yang duduk di kursi kebesarannya dan membelakangi pintu tak tau jika Elvira datang kemari.
__ADS_1
Hingga telinga tajamnya mendengar suara rengekan bayi dan ia membalikan badannya, shock melihat wanita dan putrinya berdiri di depan pintu.
"El.."