Gairah Pria Bayaran

Gairah Pria Bayaran
Bab.82# Raline tau


__ADS_3

Mark mengumpat dirinya sendiri, ia tak mungkin membiarkan Sky merebut Elvira darinya.


Melihat mobil Sky yang menjauh Mark masuk ke dalam mobilnya. Menjambak rambutnya sendiri, ia tak bisa kehilangan Elvira, bayi itu miliknya. Ya Mark yakin jika Elvira mengandung benihnya dan bukan benih Sky.


"Kita akan bersaing Ausky Luis, Elvira milikku dan akan menjadi milikku sampai kapanpun juga. Aku tak perduli benih siapa yang di kandung Elvira, milikku atau milikmu. Tapi aku tak akan melepaskan Elvira. Aku akan mengambil milik ku kembali."


Rahangnya mengeras, tangan nya mengerat pada setir kemudi mobilnya sendiri.


Mark tak akan pernah membiarkan orang lain merebut miliknya.


Di dalam taksi, Elvira menatap jauh ke depan. Ia sama sekali tak menyangka jika kedua orang itu akan mengetahui secepat ini.


"Apa Sky sudah lama mengikuti ku,?" Gumamnya sendiri.


"Nona sudah sampai."


Elvira berjengit mendengar suara dari depan, ia menoleh ke samping dan benar ia sudah sampai di mension mewah Damian. Merogoh tas miliknya dan memberikannya uang pada supir taksi, lalu keluar.


"Nona kembalinya."


Elvira tetap melanjutkan langkahnya dan berteriak pada penjaga gerbang.


Penjaga gerbang berlari sat mendengar suara nona mudanya.


"Nona.."


Crekk..


Elvira berjalan masuk ke dalam, ia tak menggubris teriakan penjaga yang mengatakan suruh menunggu. Jarak pintu gerbang ke dalam memang lumayan jauh. Tapi tak lama Elvira menoleh ke belakang saat mendengar ada mobil di belakangnya.


"Sayang,.."


Elvira melirik sekilas, ia melanjutkan langkahnya kembali menuju mension mewah Damian. Sky yang melihat Elvira mengacuhkan nya geram sekaligus gemas pada wanita yang keras kepala itu. Ia membuka pintu mobilnya dan berjalan lebar pada Elvira.


Hap...


"Brengsek lepaskan aku,"


Elvira berontak memukul dada bidang Sky yang menggendongnya.


Sky tak perduli dengan rontaan Elvira ia melangkah mendekati mobilnya dan menurunkan Elvira agar masuk ke dalam mobil. Elvira masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


"Masuk, aku tak mau kau lelah dan berdampak padanya."


Elvira menurut dan masuk ke dalam mobil Sky. Sky bernafas lega melihat Elvira yang diam saja.


Sky masih belum menyalakan mobilnya, ia menatap wajah Elvira.


Sky mengambil tangan Elvira dan mengecupnya. Elvira menoleh pada Sky dan menarik tangannya.


"Aku akan menikahi mu Elvira."


Elvira menoleh pada Sky saat mendengar penuturan Sky padanya.


"Aku tak ingin calon anakku, tak mempunyai daddy."


Menatap mata cantik Elvira. Tak lama Sky menyalakan mobilnya. Elvira masih belum mengatakan sepatah katapun pada Sky. Bibirnya terkunci rapat, tapi tak lama ia menoleh pada Sky saat mobil Sky sudah sampai di depan mension.


"Untuk apa kau menikahiku, bagaimana jika anak ini bukan anakmu. Aku tak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya."


Elvira berbalik dan membuka pintu, tapi Sky lagi lagi membuat Elvira diam membisu.


"Benih siapapun dia, aku tetap akan menikahimu. Aku mencintaimu tanpa hadirnya dia sekalipun aku mencintaimu Elvira, dan akan menikahi mu."


Tubuh Elvira mematung mendengar penuturan Sky padanya. Tak lama tangannya menekan tombol pintu mobil.


Elvira berjalan masuk ke dalam mension tanpa menoleh ke belakang. Sky yang melihat Elvira masuk ke dalam menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyalakan kembali mobilnya dan pergi meninggalkan mension Damian.


Sampai di dalam kamarnya Elvira duduk termenung di ranjangnya. Ia menoleh ke arah ponsel di dalam tasnya. Tersenyum tipis saat melihat Sonia yang menelponnya.


"El, bagaimana mana.?" Sonia sudah lebih dulu membuka mulutnya.


"Apa.."


"Elvira..."


Elvira tertawa terbahak mendengar Sonia yang geram padanya. "Ya aku hamil.." Jawab Elvira.


"What.. Oh my God.. Apa Mark sudah tau." Tanyanya khawatir.


"Bukan hanya Mark yang tau, pria itu juga sudah tau aku hamil. Aku sendiri tak tau bayi ini milik Mark atau milik Sky." Jawab Elvira enteng, ia tak ingin sahabat sahabatnya kasihan padanya. Meski Elvira ingin menangis sebisa mungkin Elvira akan menjadi kuat seperti yang terlihat oleh mereka.


"Lalu bagaimana ini El." Sonia sudah kelimpungan mendengar penuturan Elvira. Sonia geram dengan Elvira yang santai dan terdengar acuh. Bukankah ini hal yang sangat berat. Bagaimana Elvira bisa berbicara sesantai ini, apalagi sambil tertawa.

__ADS_1


"Menurut mu aku harus bagaimana Sonia, apa aku harus mengatakan jika dia hasil dari keduanya."


Elvira cekikikan, padahal tak terasa air matanya meleleh begitu saja.


"El jangan gila." Teriak Sonia.


Tak lama hanya terdengar suara nafas keduanya. Baik Elvira dan Sonia sama sama diam.


"El, Kania dan Lara kemarin bertanya padaku. Mereka berdua juga ingin menelponmu, tapi mereka tak ingin kau marah pada mereka. Maaf aku sudah mengatakan pada mereka berdua."


Sesak Sonia pada Elvira di sebrang telpon. Sedangkan Elvira tersenyum mendengar penuturan Sonia.


"Kenapa harus minta maaf padaku, lagi pula ini benar. Cepat atau lambat mereka akan tau, aku percaya pada kalian."


"Apa kau baik baik saja sekarang El.?"


"Kau pikir aku akan menangis berguling guling."


Sonia tertawa mendengar candaan Elvira, tapi tidak dengan tawa Elvira yang terpaksa. Hingga setengah jam berlalu Elvira menyudahi sambungan ponselnya.


Di depan pintu Raline yang berdiri mendengar semua perkataan Elvira. Tubuhnya kaku dan terasa lemas, apa yang barusan Elvira katakan. Apa maksud nya Elvira mengatakan semua itu.


"El.."


Tubuh Elvira mematung mendengar suara ibunya, ia berbalik dan benar saja, Raline berdiri di depan pintu dan menatapnya.


"Mom..."


Bibir Elvira bergetar melihat Raline menatapnya tajam. "Katakan pada mommy.?" Raline masuk dan mengunci pintu kamar Elvira.


Elvira sendiri yang mendengar penuturan ibunya gelagapan. Ia menatap wajah ibunya dengan mata memelasnya.


"Mom..."


Plakk...


Mau visual nya gak nih bunda 😁


Bab selanjutnya ada visual nya yah mana yang kasih aku hadiah 🤣🤣


__ADS_1


.


__ADS_2