
Sky berjalan masuk ke ruang pribadi Damian. Dark jauh ia bisa melihat Elvira yang berbincang dengan sekertaris ayahnya. Sky mendekati Elvira dan wanita yang bersamanya.
"Selamat sore tuan.."
Elvira berbalik saat mendengar sekertaris ayahnya mengucapkan selamat sore pada seseorang. Matanya melotot melihat Sky ada di belakangnya.
"Kau.."
Sky tersenyum lebar melihat wajah Elvira yang kesal padanya. Mendekatkan wajahnya pada Elvira, yang menatapnya gugup. Sedangkan Elvira sendiri tangannya mendorong dada bidang Sky. Tentu saja ia gugup setengah mati, apalagi mereka tak hanya berdua. Ada sekertaris ayahnya dan pria yang bersama Sky.
Elvira memundurkan tubuhnya ke belakang saat Sky benar benar nekat mendekatkan wajahnya.
Hap....
"Aku merindukanmu sayang, Cup...." Bisik Sky di telinga Elvira, dan mengecup telinga Elvira. Tak perduli dengan wanita yang berdiri di depannya dan melihat aksi gilanya. Terang saja sekertaris Damian menatap shock. Bahkan saking shock nya dia sampai tak berkedip menatap pria di depannya ini mengecup telinga Elvira.
Bukan merinding dan geli wajah Elvira justru pucat pasi saat tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Sky berbarengan dengan ayahnya yang keluar dari ruangannya.
"El..."
Elvira menahan nafasnya, siap terkena amukan dari Damian. Sedangkan Sky mengangkat sudut bibirnya mendengar Damian keluar dari dalam ruangannya.
Sky menjauhkan wajahnya dari Elvira dan berdiri tegak lalu berbalik menatap Damian.
Damian yang shock melihat Elvira berpelukan dengan seorang pria, di buat menganga saat melihat wajah Sky.
"Tuan Sky.." Seru Damian.
"Maaf tuan Damian, saya menolong nona Elvira yang hampir jatuh saat tersandung."
Ucapnya tanpa rasa bersalah telah berbohong pada Damian. Tak perduli dengan wanita di belakangnya yang mengetahui aksi yang sesungguhnya.
Sedangkan Elvira sendiri mengepalkan tangannya mendengar penuturan Sky. Bagaimana bisa Sky mengatakan hal yang konyol menurutnya. Sedangkan ia sendiri, jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya akibat gugup dan takut. Ia melirik sekertaris ayahnya yang masih berdiri seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Ah terima kasih kalau begitu, ada perlu apa anda datang kemari tuan. Mari silahkan masuk ke dalam, apa mulai hari ini anda akan membimbing putri saya tuan Luis."
Cerocos Damian sambil mempersilahkan Sky duduk di atas sofa. Menatap wajah Sky yang tiba-tiba saja datang keperusahaan miliknya.
Elvira masih berdiri shock, ia menetralkan nafasnya, kemudian mengikuti langkah Damian dan Sky masuk ke dalam ruangan Damian. Ia tak perduli jika sekertaris ayahnya akan mengadukan yang sebenarnya pada Damian.
"Maafkan Elvira dad, jika Elvira menolaknya." Sela Elvira saat mendengar penuturan Damian tadi.
"El.." Seru Damian, mengerutkan keningnya mendengar penuturan Elvira. Sedangkan Sky sendiri melirik ke arah Elvira.
"Dad,"
Inilah alasannya Elvira datang keperusahaan Damian. Bukan untuk belajar, melainkan untuk mengatakan keinginannya pada Damian.
Damian menatap wajah cantik putrinya, menghembuskan nafasnya perlahan, lalu mengangguk. Ia tak bisa melihat mata Elvira memelas padanya.
Sky mengangkat sebelah alisnya saat melihat Damian menyetujui permintaan Elvira.
"Tuan Luis maafkan saya, bolehkah jika anda bersedia saat Elvira sudah siap. Tentang kerja sama kita, saya akan mengirimkan orang ku yang akan menggantikan Elvira."
Sesal Damian menatap wajah tampan dan rupawan pria muda di depannya ini. Padahal Damian sengaja mengirimkan Elvira sambil belajar berbisnis pada Sky. Tapi ternyata Elvira selalu memelas padanya.
"Tidak apa-apa tuan, lagi pula siapapun asal dia juga bisa di andalkan." Jawab Sky melirik sekilas pada Elvira.
"Terima kasih tuan Luis."
Elvira tersenyum lebar mendengar jika Damian membatalkannya. Setidaknya ia akan terbebas dari Mark dan Sky. Ia sudah berjanji akan pergi berlibur bersama sahabatnya tadi di dalam mobil. Menenangkan hati dari rasa kecewa dan bersalahnya.
Sedangkan Sky yang melihat senyum Elvira, mengumpat Elvira. Ia tau jika Elvira ingin menghindarinya.
Dan sekretaris Damian mengelus dadanya sendiri. Ia tak menyangka jika pria tampan seperti Ausky Luis pintar berbohong. Apalagi dengan tuan Damian.
"Apa aku salah lihat tadi."
__ADS_1
Gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri jika apa yang di lihatnya adalah nyata.
*
Mark pergi keperusahaan miliknya, sudah beberapa hari ia mengabaikan perusahaan miliknya karna masalah pribadinya. Meski sakit hati dan rasa bersalah pada Elvira tak seharusnya Mark mengabaikan perusahaan miliknya.
Hanya Rendra yang mengontrol perusahaan selama lebih dari tiga hari ini. Mark memang membiarkan Rendra bekerja dengannya. Meski kecewa jika Rendra berniat membantu Nada tapi Rendra tak tau apa tujuan Nada yang sebenarnya.
"Maaf El.."
Mark menatap ponsel di tangannya, tak lama Mark memblokir nama yang dari tadi menelponya. Mark tak ingin lagi berurusan dengan wanita lainnya lagi selain Elvira. Berharap jika Elvira akan kembali lagi padanya.
Turun dari mobilnya, Mark mengumpat saat melihat pemandangan yang membuatnya emosi. Untuk apa wanita itu datang lagi kemari. Mark berjalan lebar mendekati Rosa, wanita yang sudah membuat hidupnya hancur. Itu artinya saat Rosa menelpon dia sudah di sini.
"Mark.."
Mark mengeraskan rahangnya mendengar suara Rosa yang memelas padanya. Menatap tajam pada Rosa, wanita di depannya ini tak kapok dan masih berani menemuinya.
"Mark aku sudah di pecat dari tempatku bekerja. Aku juga sudah mencari pekerjaan ke sana kemari, tapi mereka tak mau menerimaku."
Adunya pada pria yang di cintainya, berharap Mark akan menerimanya lagi bekerja di sini dan menjadi sekertaris.
Mark tersenyum tipis, ia yakin jika semua itu adalah ulah Damian.
" Kau tau Rosa, semua yang kau terima ini belum seberapa. Damian akan menghancurkan mu perlahan." Desis Mark menatap Rosa tajam.
Deg...
Rosa berdiri mematung mendengar penuturan Mark. Damian yang melakukan semua ini, itu artinya...
"Tidak.."
.
__ADS_1