
Cup...
Mark menciun bibir Elvira sekilas lalu mengambil ponselnya dan menelpon Rendra agar mengambil mobil taksi yang di sewanya lalu mengembalikannya pada sang pemilik. Sedangkan ia dan Elvira akan pulang bersama dengan mobil yang di bawa Elvira.
"Sayang kita singgah di sini dulu."
Mark tiba tiba saja menghentikan mobilnya di depan subuah pusat perbelanjaan. Mark turun dan mengajak Elvira masuk ke dalam. Sembari menggandeng tangan Elvira.
"Sayang kita beli buah, ibu menyusui harus banyak makan buah."
Kata Mark berjalan mendorong keranjang troli dan menarik tangan Elvira lagi.
Sedangkan Elvira sendiri tersenyum tipis. Ya Elvira sudah tau bagaimana Mark dari dulu yang selalu mengingatkan dirinya dan akan selalu mengontrol makannya. Sekarang Mark masih seperti ini, sebenarnya Elvira tau jika Mark sangat perhatian padanya. Dan benar apa yang di katakan Mark benar jika ibu hamil harus banyak makan buah.
Mark menghentikan langkahnya saat tak mendapati jawaban Elvira.
Mark langsung berbalik ke arah Elvira saat sadar jika dia mengulanginya kebiasaannya yang dulu. Mark lupa jika Elvira tak suka ia selalu mengontrol apa yang Elvira inginkan dan makan.
"Sayang maafkan aku, ayo kita pulang El."
Elvira menatap Mark dan menarik tangan Mark kembali. Sedangkan Mark yang di tarik tangannya oleh Elvira berbalik dan menatap wajah Elvira.
"Kenapa kita harus kembali Mark, kau bilang ibu hamil harus makan banyak buah. Jadi jangan salahkan aku yang akan gendut nanti Mark."
Mark tersenyum, ia menarik kembali tangan Elvira. Mark pikir Elvira akan marah padanya, tapi ternyata Elvira tak marah padanya. Mark tau jika Elvira tak suka ia mengatur semua tentang dirinya. Mark yakin sedikit demi sedikit ia akan merubah sikapnya yang seperti ini. Biarkan Elvira ingin menjadi apapun sesuai keinginannya, asalkan istrinya dan putrinya tetap bersamanya.
*
Mark dan Elvira keluar dari dalam mobilnya, mereka berdua sudah di sambut oleh Helena. Wanita yang hampir paruh baya yang menggendong putrinya.
__ADS_1
"Aunty.."
Helena tersenyum mendengar Elvira yang memanggilnya. Helena mendekati Elvira dan Mark lalu mencium pipi Elvira. Mark tersenyum melihat wanita yang begitu berarti untuknya.
"Aunty merindukanmu El."
Elvira tersenyum tipis, ia memeluk Helena dan mengucapkan terimakasih pada wanita yang sudah ia anggap Ibu untuknya.
"Maafkan El aunty,"
Helena menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf Elvira padanya. Tak lama Mark mengagetkan mereka dan menyuruh mereka masuk ke dalam mension. Apalagi saat melihat Callista yang tertidur din pelukan Helena.
"Dia tadi mengamuk El, memangnya kalian dari mana.?"
Elvira kaget mendengar penuturan Helena padanya, tak lama ia salah tingkah mengingat aksi gilanya tadi bersama Mark saat di mobil tadi.
Sedangkan Mark sendiri melirik ke arah Elvira lalu tersenyum lebar.
Mark tersenyum dan berjalan menuju dapur miliknya. Mark sengaja meninggalkan Elvira, ia tau Helena pasti akan bertanya macam macam padanya. Itu sebabnya Mark lebih baik menghindari Helena.
Melihat Mark yang pergi meninggalkannya, Elvira menatap putrinya yang berada di dalam gendongan Helena.
"Aunty biarkan aku yang menggendongnya."
"Kita tidurkan saja, dia baru saja mengamuk mencarimu El."
Jawab Helena berbalik melangkah menaiki anak tangga.
Elvira sendiri yang mendengar perkataan Helena melirik ke arah dapur. Ia kemudian mengikuti langkah Helena masuk ke kamar sebelah kamarnya saat bersama Mark dulu. Elvira membuka pintu kamar dan matanya langsung menatap kamar yang penuh dengan mainkan anak anak perempuan.
__ADS_1
Berbagai boneka ada di kamar ini, dan sejak kapan Mark mendisain kamar ini untuk putrinya.
"Dua hari yang lalu Mark sendiri yang merubah kamar ini saat ia tau jika Callista putrinya."
Ucap Helena tiba-tiba, Helena tau apa yang di pikirkan Elvira. Sedangkan Elvira mengangguk mengiyakan ucap Helena. Ternyata Mark sangat menyayangi putrinya. Tak hanya Mark yang sangat bahagia, tapi ia juga sangat bahagia menjadi seorang Ibu.
Helena mendekati Elvira setelah menidurkan Callista di ranjang miliknya. Dan Elvira sendiri kaget saat tiba-tiba saja Helena memeluknya erat dan menangis di pelukannya.
"El maafkan Mark, dia sangat mencintaimu sayang. Hampir tujuh bulan dia mencarimu ke sana kemari. Dia sering menangis dan menginginkan kau kembali padanya, dan memaafkannya. Maafkan dia El, Mark tak sengaja melakukannya, dia terbawa hawa nafsu saat itu."
Elvira mematung mendengar penuturan Helena. Itu artinya Mark dulu mencarinya kemana-mana, Mark sering menangis karnanya.
"Aunty, bukan Mark yang bersalah tapi aku yang bersalah. Aku yang sudah membuat rumah tangga kami hancur, aku seharusnya yang minta maaf."
Helena mengusap matanya yang basah. Ia lalu menatap Elvira dan menggenggam tangan Elvira.
"Aku tau perbuatan Mark memang tak pantas di maafkan El. Tapi kau harus tau jika dalam hubungan rumah tangga pasti akan ada badai. Tapi percayalah El, semua itu ada hikmahnya bukan. Dan setelah ini kau harus berjanji padaku untuk bahagia bersama dengan Mark Elvira. Kau dan Mark sudah sangat lama bersama Elvira, kau tau jika Mark mencintaimu El. Aunty akan mendoakanmu selalu."
Elvira memeluk Helena dan terisak di pelukan wanita paruh baya di depannya. Elvira tak bisa membayangkan bagaimana dulu Mark yang mencarinya dulu.
"Maafkan aku aunty."
Mark yang melihat mereka di depan pintu tersenyum tipis, mengusap matanya yang basah. Ia tak percaya jika Elvira akan kembali lagi padanya. Sedangkan dia sendiri hampir putus asa, mengingat jika pria yang menginginkan Elvira adalah Ausky Luis. Pria yang bukan sembarang pria, Mark tau siapa Sky sebenarnya. Dan beruntungnya Sky melepaskan Elvira untuknya.
Tak lama Mark pergi melangkah menuju ke kamar miliknya dan Elvira. Sampai di kamarnya Mark menatap kamarnya yang kosong. Ia lupa jika ia sudah menghancurkan kamarnya. Mark mengusap wajahnya kasar, bagaimana jika Elvira tau jika barang miliknya tak ada.
Lemari rias, lemari milk Elvira menyimpan barang koleksinya juga tak kalah luput di hancurkan oleh Mark. Mark berjalan mondar mandiri di kamarnya, bagaimana caranya agar Elvira tak melihat kamarnya.
Clekk..
__ADS_1
Mark berjengit kaget mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menoleh pada pintu dan melihat mata Elvira yang berkeliling melihat kamarnya.
"Sayang.. "