
Tujuh bulan berlalu...
Damian sungguh sudah kehilangan akal, mencari keberadaan putrinya.
"Raline dimana Elvira.?" Tanyanya, pada istrinya. Ia sungguh sangat merindukan putri satu satunya, Elvira.
"Elvira akan baik baik saja, percayalah. Kau tau jika putri mu bukan wanita yang lemah Damian." Jawab Raline, padahal ia sendiri tak tahan.
"Lalu kenapa dia pergi Raline, aku juga tidak akan membiarkan Mark mengambil cucuku." Teriak Damian. Ia sudah putus asa mencari keberadaan Elvira. Tapi Elvira sampai sekarang belum terlihat oleh anak buahnya. Setau Damian hanya Mark, Elvira hanya menghindari Mark. Padahal yang sebenarnya Elvira menghindari Sky dan Mark.
"Kau tau, jika El ingin menyendiri Damian." Jawab Raline.
"Tapi setidaknya beri tau aku, apa kau tau dimana Elvira, bagaimana dengan keadaannya. Bayinya dan Elvira Raline, apa kau tega dengan anak dan cucu kita Raline.?"
Mendengar pertanyaan Damian padanya, Raline menggelengkan kepalanya. Ia gugup saat melihat mata tajam Damian padanya.
"Aku tidak tau Damian." Masih kekeh tak ingin Damian tau.
"Beri tau aku, jika Elvira baik baik saja Raline."
Raline menatap wajah Damian, meremas tangannya dan lagi lagi menggelengkan kepalanya.
Melihat gelengan kepala istrinya Damian mendesah kasar.
Ia sungguh tak percaya sudah tujuh bulan lebih Elvira menghilang dan pergi meninggalkan mension begitu saja. Damian yakin jika ada yang di sembunyikan oleh Elvira dan Raline. Tapi Damian akan sabar dan tak ingin membuat hal bodoh. Ia yakin jika Elvira baik baik saja.
Raline sendiri pergi meninggalkan Damian di ruang kerjanya. Ia tak bisa membendung air matanya sendiri. Kerinduannya dengan Elvira tak bisa ia bendung. Sudah tujuh bulan Elvira pergi meninggalkan mension dalam keadaan hamil muda.
"Bagaimana jika dia menginginkan sesuatu, apa ada yang akan memberikannya." Gumamnya sendiri.
*
Mark menatap nanar pada foto pernikahan nya dengan Elvira. Ia berulang kali mengusap wajah kasar. Sudah tujuh bulan berlalu dan ia tak bisa menemukan keberadaan Elvira. Mark tau jika Damian juga sama mencari keberadaan Elvira.
__ADS_1
"Sayang apa kau benar marah padaku El. Maafkan aku Elvira, pulanglah."
Rendra yang berada di depan pintu hanya menatap iba pada tuannya. Ia sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Apa hanya perselingkuhan, atau yang lainnya. Apalagi melihat wajah tuannya yang tak terawat, sungguh membuat Rendra kasihan.
Tak hanya Mark, Sky juga sama, dia tak putus asa mencari keberadaan Elvira. Semua anak buahnya yang berada di kota Berlin sudah Sky sebar dan hasilnya tetap sama.
"Jika Elvira tak ada di kota ini, itu artinya dia pergi dengan identitas palsu. Apa ada seseorang yang lebih dari Damian, siapa.?"
Tangannya terkepal erat, ia tak habis pikir, siapa orang yang sudah menyembunyikan Elvira dari semua orang.
*
Sedangkan Elvira yang berada di atas balkon, sedang menikmati keindahan alam di pagi hari.
"Nak, kau belum makan pagi."
Elvira menoleh dan tersenyum, ia mendekati wanita tua yang selama ini tinggal bersamanya.
"Apa perutmu sakit.?"
Elvira hanya menggelengkan kepalanya. Elvira memang menanti Melisa datang, ia ingin menanyakan bagaimana tentang ibu dan daddynya. Ia tak ingin daddynya menyakiti ibunya. Damian pasti sudah curiga jika ibunya yang membantunya pergi dari mension.
"Dia baik baik saja.."
Elvira mengikuti langkah wanita lanjut usia. Selama tujuh bulan, Elvira hanya tinggal di mension ini bersama dengan wanita lanjut usia ini dan wanita yang menjaganya. Ibu dari dokter Melisa yang juga berprofesi sebagai dokter.
Raline dan dokter Melisa yang telah membantunya pergi dari mension. Ya Raline, ibunya yang sudah mengecoh dan menghapus semua cctv di manapun. Ibunya juga yang memalsukan data miliknya. Ia pergi bersama Melisa dengan suami Melisa yang bekerja sebagai jendral.
Elvira sebenarnya kasihan pada ayahnya, Damian sangat menyayanginya. Pria tua itu pasti, mencarinya kemana mana. Tapi ia tak bisa berbuat apa apa.
*
Melisa yang baru saja keluar dari pesawat terbang sesekali menoleh ke belakang. Menggelengkan kepalanya jika tak mungkin ada yang mengikutinya dan curiga padanya. Tak lama ia masuk ke dalam mobil dan pergi ke mension mewah ibunya di kota X.
__ADS_1
"Kenapa seperti ada yang mengikuti ku."
Melisa menggelengkan kepalanya lagi, tak mungkin ada yang mengikutinya. Lagi pula selama ini tak ada yang mengikutinya saat bertemu dengan Elvira.
Menempuh perjalanan lebih dari dua jam dari bandara menaiki mobil. Melisa bernafas lega saat sudah sampai di mension mewah orang tuanya.
Melisa tersenyum melihat wanita cantik dan hamil tua menyambutnya. Ia mendekati Elvira dan menyentuh perutnya.
"Bagaimana dengan Baby nya El.?"
"Dia baik baik saja."
Sedangkan tak jauh dari sana di depan pintu gerbang, seseorang menyentuh dadanya yang bergemuruh. Melihat wanita yang di cintainya ternyata ada di sini. Apalagi saat melihat perutnya yang besar. Tak terasa air matanya meleleh begitu saja.
Ya ia baru saja sadar jika wanita itu pasti ada hubungannya dengan kepergian Elvira. Dan ternyata benar, Elvira ada bersamanya. Pantas saja Damian dan semua orang tak bisa menemukannya termasuk dirinya. Rupanya jendral Arga yang sudah menyembunyikan Elvira dari semua orang.
"Itu benar benar nona Elvira tuan.?"
Menatap punggung lebar Elvira yang semakin melebar. Mengusap wajahnya yang tak bisa membendung air matanya. Elvira ternyata baik baik saja disini. Perutnya juga sudah sangat besar, ia yakin dia adalah putranya.
"Kenapa selama ini aku tak mencurigai dokter itu."
Ia yakin wanita itu yang merawat Elvira dan bayinya. Masih yakin jika Elvira mengandung anaknya. Ia yakin jika Elvira juga mencintai nya.
"Lalu bagaimana sekarang tuan."
Yang di tanya hanya diam saja, ia masih menatap wanita cantik yang tak terlalu jauh. Ya ia bisa mengenali wanita yang di cintainya meski terlihat dari jauh sekalipun.
Ia yakin jika Arga tak mengijinkan seseorang masuk ke dalam mension mewah nya.
.
.
__ADS_1