
Clekk..
Damian menitikkan air matanya melihat putri cantiknya terbaring tak berdaya, banyak selang yang menempel di tubuhnya.
Damian mendekati Elvira, ia mengambil tangan Elvira dan mengecupnya berkali-kali. Sudah tujuh bulan Elvira meninggalkan mension dan dirinya. Dan saat bertemu, keadaannya seperti ini.
"Bangun sayang, daddy datang El."
Raline mengecup kening Elvira bertubi-tubi, ia tak menyangka jika Elvira akan terbaring seperti ini.
"Sayang bangun, ini mommy."
Elvira masih tak bergeming, ia masih nyenyak dalam tidurnya. Sudah tiga hari Elvira tak sadarkan diri setelah melahirkan.
"Maafkan mommy El." Lirih Raline.
"Raline apa yang mereka lakukan pada putriku.?" Raline mendongak menatap Damian yang menangis. Ia mendekati suaminya dan memeluknya.
"Maafkan aku.." Damian menangis di pelukan istrinya, melihat putri semata wayangnya terbaring koma.
"Katakan padanya aku akan menuruti semua keinginannya Raline."
Raline mengangguk mengiyakan, hingga lebih dari setengah jam berlalu. Damian melepaskan pelukannya dari Raline. Ia berdiri dan mengepalkan tangannya. Ia yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Melisa, ia yakin itu.
Di luar, Sky yang baru saja menjenguk putri Elvira bertemu dengan Mark. Matanya menatap tajam pada mantan suami Elvira. Jika bukan karna Elvira, dan ada di rumah sakit, ia yakin sudah membuat perhitungan pada Mark.
"Damian sudah datang."
Sky berhenti melangkah mendengar penuturan Mark. Ia berbalik menatap punggung Mark.
"Apa maksudmu, kau sudah bertemu dengan Elvira.?"
Mark menggelengkan kepalanya, ia menatap bayi mungil yang berada di inkubator.
"Aku akan menerima keputusan Damian, jika Damian memilih mu, aku ingin kau menjaga mereka berdua. Aku sangat mencintai mereka Sky."
Ucap Mark tiba-tiba, ia yakin jika Damian tak akan mengijinkan ia bertemu dengan Elvira. Meski hasil tes DNA mungkin saja miliknya. Tapi Mark yakin jika Damian tak akan membiarkan ia memiliki mereka berdua lagi. Ia sudah menyakiti Elvira, dan Damian tak akan pernah membiarkan siapa saja menyakiti putrinya.
"Aku sangat menyesal telah menyakiti Elvira. Tapi cintaku pada Elvira tak pernah berubah Sky." Ucap Mark menatap bayi merah yang bergerak gerak.
"Andai bayi Elvira milikmu, mungkin kau memang pria yang di kirim Tuhan untuk membahagiakan Elvira." Lanjut Mark.
__ADS_1
" Bagaimana jika dia milikmu," Jawab Sky menatap Mark.
Mark tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya. Sadar jika Damian bukanlah pria yang bisa menerima suatu kesalahan dan Mark tau itu.
"Apa kau pikir Damian akan mengijinkan ku.?" Ucap Mark tersenyum getir. Ia yakin jika Damian tak akan membiarkan ia memiliki Elvira lagi.
"Tanpa kau mengalah sekalipun aku memang menginginkan Elvira Mark Harrold, aku mencintai Elvira."
Desis Sky masih menatap punggung Mark. Mark tersenyum tipis, ia menoleh pada Sky lalu berbalik menoleh lagi pada bayi Elvira.
"Jika Damian memilih mu dan Elvira juga memilih mu. Bolehkah aku bertemu dengan mereka saat aku merindukannya."
Sky tak menjawab pertanyaan Mark, entah apa yang Sky pikirkan saat ini tentang Mark.
"Dimana Elvira.?" Sky tak menjawab pertanyaan Mark. Ia justru bertanya pada Mark Dimana Elvira.
"Ruang Orchid, tiga enam."
Sky berbalik dan meninggalkan Mark, ia akan menemui Elvira. Wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Ia tak perduli jika Damian akan menolaknya sekalipun. Ia akan mengatakan jika ia pernah bercinta dengan putrinya.
*
Damian yang keluar dari kamar rawat Elvira mendekati Melisa dan Arga yang berdiri di tak jauh dari pintu.
"Jangan membuat onar Damian, aku tak akan pernah mengijinkan mu menyakiti istri ku." Arga menatap Damian yang berdiri di depan mereka.
Cih...
"Kau sudah berani menyembunyikan Elvira dari ku Arga."
"Itu karna putrimu sendiri yang minta." Jawab Arga.
"Aku tak percaya itu, katakan padaku Melisa, apa yang kau sembunyikan dariku."
Desis Damian menatap tajam pada Melisa. Arga yang berdiri di samping istrinya mendesah lirih.
"Kendalikan dirimu Damian Elvira masih sakit." Geram Arga, menatap tak kalah tajam Damian. Melisa menundukkan wajahnya, ia tak bisa mengatakan semua itu pada Damian.
"Tuan Damian, Elvira hanya ingin menghindariku."
__ADS_1
Sky tiba-tiba saja datang dari belakang mengagetkan Melisa dan Arga, Damian juga tak kalah kaget seperti Melisa dan Arga. Kenapa Sky tiba-tiba saja ada di sini dan ada apa ini.? Jika Mark ada di sini, ia bisa mengerti karna Elvira mantan istrinya. Lalu bagaimana dengan Sky,?
Melisa menggelengkan kepalanya pada Sky, ia harap pria di depannya ini tak membuat ulah saat Elvira tak sadarkan diri. Jangan sampai Sky mengatakan yang sebenarnya pada Damian.
Mark yang berjalan tak jauh dari Sky tak percaya mendengarnya. Ia melangkah lebar mendekati Sky, Mark juga sama seperti Melisa, tak ingin Sky mengatakan yang sebenarnya pada Damian.
"Apa maksudmu Ausky Luis." Damian memicingkan matanya pada Sky.
"Selain Mark aku lah yang sudah menaburkan benih ku pada rahim Elvira."
Wajah Damian mengeras mendengar penuturan Sky. Ia berjalan mendekati Sky dan melayangkan tinjunya.
"Brengsek."..
Bug.. Bug.. Brakkk...
"Damian.."
Arga menarik tangan Damian yang akan mendekati Sky lagi. Sky hanya diam saja, ia tak membalas ciuman pukulan Damian padanya. Sky bangkit dari lantai, dan mengusap bibirnya.
"Kau pikir aku percaya padamu brengsek." Damian menoleh pada Mark. Damian juga tau sifat putrinya, itu artinya semua berawal dari Mark Harrold.
"Aku akan membunuh kalian berdua."
Damian mendekati Mark dan ia juga melayangkan tinjunya pada Mark membabi buta. Damian tau, apa yang Elvira lakukan pasti semata-mata karna Mark yang brengsek.
Brukkk...
Mark tersungkur di dengan darah segar mengalir di hidungnya. Padahal Damian hanya memukulnya dua kali.
"Damian stop, Elvira akan marah padamu." Arga menarik Damian lagi.
"Aku akan membunuh kalian berdua brengsek." Teriak Damian.
Damian berontak dan melepaskan tang Arga. Ia kembali menatap wajah Melisa di depannya.
"Dimana cucuku.?"
.
.
__ADS_1