
Devano tersenyum miring mendengar penuturan Sky. Tangannya melambai pada dua wanita cantik yang tak jauh darinya agar mendekat ke arahnya.
Sky menoleh pada dua wanita cantik yang datang menghampirinya. Tak lama kedua wanita berpakaian seksi duduk di samping kiri dan kanannya. Melirik sinis ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Sky juga membiarkan tangan wanita itu meraba raba tubuh dan pahanya. Bibir Sky terangkat jika nya ternyata sudah sembuh saat mendapatkan sentuhan tangan wanita di sampingnya ini.
"Tuan Ausky Luis, mereka berdua bisa menemanimu sampai pagi. Mereka berdua juga masih perawan, bukankah anda hanya ingin perawan."
Sky terkekeh mendengarnya, meletakkan gelas di tangannya dan tersenyum lebar pada Devano.
"Ternyata anda tau seleraku tuan, tapi sayangnya aku tak membutuhkan mereka berdua."
Sttt...
Desisan wanita di samping Sky saat tangannya di cengkram erat oleh Sky. Sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya langsung menarik tangannya kembali dari tubuh Sky.
"Pergi dari sini, atau aku akan mematahkan tangan kalian."
Devano menatap tak percaya pada Sky, ia melirik kedua wanita yang duduk di samping Luis.
"Aku tau, kau menginginkan mereka tuan Vano, jadi ambil mereka dan menyingkir dariku nona." Sentak Sky menatap keduanya. Kedua wanita itu beringsut menjauh dari Sky, tak berani mengangkat wajahnya yang terlihat seram dan menakutkan.
Devano mengeratkan genggaman tangannya, putra Haidher benar benar sangat sombong dan arogan.
"Lalu untuk apa anda datang kemari tuan Luis, ku pikir anda butuh hiburan. Apa anda menginginkan yang lain selain mereka.?"
Sky melirik sekilas, bibirnya terangkat mendengar penuturan Devano.
"Ya aku memang menginginkan wanita lain, dan dia wanita berkelas tentunya."
Jawab Sky menatap jauh ke depan. Elvira wanita yang akan ia rebut dari Mark Harrold. Sky tak akan kalah dengan Mark, ia yakin itu. Elvira hanya akan menjadi miliknya.
__ADS_1
*
"Untuk apa kau menemui bajingan itu El,?" Tanya Damian menatap wajah putri semata wayangnya. "Jangan menemuinya lagi El, kau sudah bercerai dengan Mark." Lanjutnya lagi.
Deg...
Elvira meremas tangannya, ia tak menyangka jika semua ini akan berakhir begitu saja. Dua hari ia keluar dari Mension mewah Mark Harrold dan saat ini Elvira benar benar tak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di sana. Daddy nya benar benar serius ingin ia dan Mark bercerai.
"Dad, apa harus secepat ini.?"
Menatap Damian di depannya yang juga menatap ke arahnya. Damian mendesah lirih, ia berbalik meninggalkan Elvira yang berdiri di ruang tamu. Elvira menatap punggung Damian yang menjauh.
"Apa ini yang ku inginkan,?" Lirih nya sendiri dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Raline yang tak sengaja mendengar pembicaraan suami dan putrinya juga tak kalah bingung. Melihat Elvira yang sepertinya shock saat mendengar jika dia bercerai dari Mark suaminya.
Raline melangkah keruang kerja milik suaminya, membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Raline menatap wajah suaminya, yang duduk di kursi kerjanya.
"Bukan tak ingin bercerai, tapi belum terbiasa. Elvira akan terbiasa tanpa Mark, aku akan mencarikan pria yang lebih baik lagi dari Mark. Elvira harus melupakan Mark, pria brengsek sepertinya tak pantas untuk putriku."
Kata Damian tak ingin di bantah oleh istrinya. Raline hanya mengangguk mengiyakan, tak lama ia keluar dari ruang kerja suaminya dan pergi ke kamar Elvira.
"El..."
Elvira menoleh pada ibunya dan tersenyum lebar. Raline menatap wajah cantik Elvira yang sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan dari Elvira.
"Mom, apa ini yang terbaik untuk El,?"
"Daddy mu sudah memilihkan yang terbaik, kau akan terbiasa sayang. Mommy juga tak rela kau tersakiti seperti ini El. Mommy sudah bilang, kau harus senang El, jangan terlalu berpikir yang macam macam."
__ADS_1
Raline mengelus kepala putrinya, bukan tanpa alasan ia mengatakan seperti itu pada Elvira. Elvira memang harus senang dan boleh tertekan, mungkin itu salah satu Elvira tak kunjung hamil. Tapi Raline tak ingin berprasangka buruk pada Mark. Ia yakin Tuhan belum memberikan kepercayaan pada keduanya saja. Hingga sampai saat ini putrinya belum juga di karuniai seorang anak.
*
Sedangkan Mark yang sudah berada di mension mewahnya mengamuk. Banyak barang mewah seperti Gucci dan lemari hancur berkeping keping. Bahkan kaca lemari juga sempat melukai dirinya.
Tak ada yang berani mendekati tuannya, pelayan hanya bisa bersembunyi di kamar masing-masing.
"Ausky Luis, kau ingin merebut istri ku, Cih... brengsek."
Masih di liputi oleh rasa amarahnya Mark berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Di kamar juga Mark mengamuk, seprei dan bantal juga Mark buang.
Mendudukkan dirinya menatap seluruh isi kamarnya. Mendongak menatap foto pernikahan nya dengan Elvira. Matanya memerah dan giginya gemerutuk menahan emosi.
"Aku tak akan pernah membiarkan pria lain mengambil Elvira dariku. Ausky Luis, aku tau kau sudah merencanakan semuanya. Kau ingin merebut Elvira dariku."
Nafasnya memburu Mark berjalan ke lemari dan menatap pakaian milik Elvira. Menatap nanar jika pakaian seksi ini sering di pakai Elvira saat malam dan yang pasti, dia akan selalu menggodanya.
"Apa tak ada maaf untuk ku El, aku mencintaimu Elvira. Aku bersumpah El aku tak mencintai Rosa, maafkan aku El."
Sungguh Mark sangat menyesali perbuatannya yang menjadikan rumah tangga nya dan Elvira hancur berantakan. Jika Mark bisa mengulang kembali waktu, Mark tak akan pernah tergoda dengan Rosa. Percintaan singkat mereka yang hanya Mark rasakan sebagai nafsu ternyata mengubah hidupnya. Menyesal tentu Mark sangat menyesali, dan ia tak sanggup bila harus kehilangan Elvira.
Tak jauh dari Mark, Elvira juga tak kalah melamun. Pernikahan yang sudah terjalin empat tahun lebih harus kandas oleh ego mereka masing masing.
"Maafkan aku yang bersalah padamu Mark, bukan kau yang salah tapi kita yang salah. Maaf, jika kita berjodoh Tuhan akan memberikan kita yang terbaik."
Elvira mengusap pipinya yang basah, memejamkan matanya jika pernikahan yang sudah ia bangun harus berakhir dengan perceraian. Padahal Elvira sama sekali tak berfikir akan bercerai dari Mark Harrold. Rasa sakit yang ia terima dari Mark, tak sedikitpun berniat akan mengakhiri pernikahan mereka. Tapi pada kenyataannya pernikahan mereka harus berakhir dengan perceraian.
.
__ADS_1