
Elvira mengambil ponsel di atas nakas, ia menekan tombol nomor seseorang dan menempelkannya di telinganya.
"Bagaimana hasilnya.?" Tanya Elvira pada orang di sebrang telpon.
"..."
"Ya aku akan datang kesana."
"....."
"Ya baiklah.."
Tut...Tut...
Elvira menghembuskan nafasnya perlahan, ia akan datang ke rumah sakit terlebih dahulu. Elvira mencari keberadaan baby sister putrinya dan mengatakan jika ia akan pergi sebentar saja. Dan tanpa menunggu, Elvira pergi meninggalkan putrinya bersama baby sisternya.
Raline yang melihat putrinya menuruni anak tangga segera mengikutinya.
"Sayang kau mau kemana.?"
Elvira menoleh pada ibunya dan menatap Raline memohon. Raline menatap penampilan Elvira yang sepertinya akan pergi ke luar.
"Hanya sebentar mom"
"Kau baru keluar dari rumah sakit sayang, jangan macam-macam El."
"Aku akan baik baik saja, mom." Hiba Elvira mengecup pipi ibunya dan pergi meninggalkan ibunya.
Cup....
"El..."
Elvira tak menggubris ucapan ibunya, ia pergi meninggalkan mension mewah orang tuanya dan pergi ke rumah sakit. Padahal baru saja dua hari lalu Elvira baru pulang dari rumah sakit dan dia sudah keluar dari Mension seorang diri.
Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
"Apa itu Elvira,?"
Gumam Mark menggelengkan kepalanya mengikuti mobil putih yang di yakini adalah Elvira di dalamnya. Hingga satu jam kemudian dia mengerutkan keningnya melihat Elvira keluar sendiri dari dalam mobilnya. Mark tak percaya dengan Elvira, bagaimana bisa mantan istrinya mengendarai mobil seorang diri.
"El...." Panggilnya.
Elvira berbalik dan kaget saat mendapati Mark berjalan menghampirinya.
__ADS_1
"Mark.." Gumamnya lirih.
Sedangkan Mark sendiri tersenyum lebar. Ia mendekati Elvira dan memeluk mantan istrinya erat. Menyalurkan semua kerinduan nya pada wanita yang selama ini di cintainya. Mark tak perduli jika ada seseorang yang melihatnya. Ia sangat merindukan wanita cantik di dalam pelukannya. Biarkan saja Damian akan menghajarnya lagi, yang penting ia sudah bisa memeluk wanita cantik yang sudah membuatnya gila.
Elvira sendiri hanya diam mematung, merasakan pelukan Mark sangat erat di tubuhnya. Semenjak sadar dari komanya, ia baru melihat pria yang bersetatus sebagai mantan suaminya.
"Aku sangat merindukanmu El" Ungkapnya terisak di bahu mantan istrinya.
Elvira masih diam mematung mendengar suara isakan Mark. Entah apa yang ia pikirkan tentang mantan suaminya ini.
"Bagaimana dengan keadaan mu sayang.?" Tanyanya pada Elvira.
"Lepaskan aku tuan Mark Harrold, kita bukan suami istri lagi." Kata Elvira menatap jauh ke depan.
Mark tersenyum masam mendengar penuturan Elvira yang dingin padanya. Ia melepaskan pelukannya dari Elvira dan menatap wajah cantik mantan istrinya.
"Maaf." Sesal Mark, tak lama kemudian Mark menoleh ke belakang. Mark menoleh lagi ke arah Elvira.
"Kau pergi sendiri El.?" Lanjutnya lagi pada Elvira.
"Itu bukan urusan mu." Elvira berbalik, tapi lagi lagi Mark menarik tangannya.
"Maaf jika aku baru menjenguk mu, selamat atas pernikahan mu dengan Sky. Aku juga minta maaf tak bisa menjenguk putrimu El."
Elvira bungkam mendengarnya, Mark sudah tau jika ia akan menikah dengan Sky.
Elvira menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mark. Matanya menatap wajah Mark, yang sangat menyedihkan.
"Aku akan menikah dengan Sky, Mark. Carilah wanita yang mencintaimu Mark, dan menikahlah." Ucap Elvira pada Mark. Mark tersenyum tipis, matanya menatap mata Elvira intens. Ada rasa yang entah itu apa saat Elvira mengatakan itu padanya.
"Apa kau ingin bertemu Dokter El.?"
Mark tak menjawab pertanyaan Elvira, mana mungkin ia akan menikah dengan wanita lain selain Elvira. Cintanya hanya untuk Elvira, bukan untuk wanita lain.
"Ya.."
"Bolehkah aku mengantarmu El.?"
Elvira menggelengkan kepalanya menolak Mark. Mana mungkin ia akan mengajak Mark datang menemui Melisa.
"Maafkan aku."
Elvira menundukkan wajahnya merasa bersalah pada Mark. Sedangkan Mark tersenyum masam, mungkin ia yang terlalu berharap jika Elvira akan mau berdekatan dengannya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pergi, apa kau ingin aku menelpon Sky agar menjemput mu."
Kata Mark merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Elvira menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Mark.
"Tidak aku baik baik saja, terima kasih."
Mark mendongak menatap Elvira, yang menggelengkan kepalanya.
"Kau yakin El.?" Tanyanya lagi pada Elvira. Sungguh Mark tak tega melihat Elvira jalan sendiri. Apalagi Elvira baru saja sembuh dari komanya.
"Ya, jangan khawatir aku akan baik baik saja." Jawab Elvira meyakinkan Mark.
Tak lama Mark mengangguk mengerti, tersenyum lebar pada Elvira dan berbalik masuk ke dalam mobil miliknya dan pergi meninggalkan Elvira.
Mark menoleh pada Elvira dan tersenyum lebar sebelum meninggal Elvira.
Melihat Mark pergi meninggalkan nya, Elvira mengusap pipinya yang basah. Kenapa Mark sangat menyedihkan, ada apa dengan pria itu. Tak mungkin Mark tak bisa melupakan dirinya.
Elvira berbalik dan pergi masuk ke dalam di mana ruangan Melisa berada. Elvira sudah tak sabar ingin segera mengetahui hasil dari tes DNA.
Ya Melisa menelpon Elvira tentang hasil tes DNA. Sebelum ia koma Melisa sudah lebih dulu mengambil Sempel putrinya saat baru saja ia lahirkan. Dan hari ini ia akan segera mengetahuinya, siapa ayah dari putrinya.
Clekk..
"Kau sudah datang.."
Melisa menyambut kedatangan Elvira dan menyuruh Elvira duduk di kursi. Elvira meremas tangannya, jantungnya berdetak lebih kencang dan tubuhnya berkeringat dingin. Melisa belum menunjukkan hasilnya dan ia sudah gemetar ketakutan. Bagaimana jika semua tak sesuai dengan keinginannya.
"El.."
"Ya aku siap.."
Melisa membuka berkas di tangannya perlahan. Matanya tak berkedip menatap wajah Elvira yang berkeringat dingin. Ia tau apa yang di pikirkan Elvira.
Melisa membukanya dan mendongak menatap mata Elvira.
"Bagaimana.."
Bibir Elvira bergetar hebat, menahan tangisnya. Menatap Melisa penuh harap harap cemas.
"Ya dia putrinya..."
Deg...
__ADS_1
.
.