
Arga mengepalkan tangannya mendengar jawaban keduanya. Mereka berdua sama sekali tak mempan dengan ancamnya.
Arga berbalik dan berjalan ke ruang operasi. Elvira yang menatap Arga tersenyum. Tapi kedua pria di belakang Arga yang salah mengartikan senyuman Elvira. Sky dan Mark menganggap Elvira tersenyum padanya.
Mereka berdua mendekati Elvira berjalan mendahului Arga. Arga sendiri yang melihat keduanya hanya menatap punggung lebar mereka. Arga tak pernah menyangka jika Elvira akan di posisi yang seperti ini. Dua pria tampan dan mapan bisa takluk oleh pesona Elvira. Arga sendiri juga mengakui jika Elvira sangat cantik, wajar saja jika kedua pria ini ingin mendapatkan Elvira.
"El.."
Sky dan Mark masih menekan emosinya. Mereka berdua berusaha tak kembali terpancing emosi. Elvira membutuhkannya, apalagi Elvira akan segera melahirkan buah hatinya.
"Om,.."
Arga tersenyum lebar, ia mendekati Elvira dan mendorong kursi Elvira masuk ke dalam ruang operasi.
"Aku ingin menemani Elvira,"
Sky menoleh pada Mark, ia mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Mark yang ingin menemani Elvira melahirkan.
Arga sendiri berhenti, ia menoleh pada Mark dan juga Sky.
"Aku tak akan pernah mengijinkan kalian berdua menemani Elvira. Aku sendiri yang akan menemaninya."
Mark dan Sky menatap pintu yang tertutup rapat. Baik Sky maupun Mark mendekati pintu ruang operasi. Tak lama keduanya di kagetkan dengan suara Melisa.
"Jangan membuat onar, berdoa untuk Elvira. Kandungan Elvira lemah, dia punya miom di dalam rahimnya. Itu sebabnya dia tak kunjung hamil Mark."
Tubuh Mark seperti di hantam batu besar, Elvira punya masalah dalam rahimnya. Dan ia tak tau sama sekali. Empat tahun Elvira menyembunyikan sakitnya darinya. Apa Damian dan Raline tau jika Elvira sakit.?
Sedangkan Sky, ia menatap iba pada pintu ruang operasi. Ia tak menyangka jika senyum Elvira ternyata menyembunyikan kekurangannya.
Tak terasa mata Sky memerah, ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu, mengusap wajahnya kasar.
Sedangkan Mark sendiri, masih berdiri mematung, ia masih shock mendengar penuturan Melisa. Sekian tahun Elvira tak pernah menyinggung tentang dirinya. Apa Elvira tak pernah menganggap dirinya, hingga wanita itu tak ingin berbagi dengannya.
Hingga satu jam Mark masih berdiri di depan ruang operasi. Tak lama telinga Mark dan Sky mendengar suara tangis bayi. Mark menitikan air matanya, ia tak percaya jika Elvira hari ini benar benar menjadi ibu seperti yang di inginkannya.
Sky berjalan mendekati jendela, ia mengintip ke dalam saat mendengar suara tangis bayi. Sky juga tak kalah bahagia mendengar suara tangis bayi dari dalam.
Lima belas menit kemudian pintu ruang operasi terbuka. Sky dan Mark langsung menghadang wanita yang keluar dari dalam. Tak lama kemudian Arga juga keluar.
__ADS_1
"Ada apa?"
Wanita itu berlari tanpa menjawab Sky dan Mark. Mark dan Sky sudah gelisah di tempatnya, ia melirik ke arah Arga yang duduk di kursi.
"Tuan Arga katakan padaku apa yang terjadi dengan Elvira." Desis Mark menatap pria paruh baya di depannya.
"Elvira pendarahan.."
Mark dan Sky shock mendengarnya, Sky yang berdiri agak jauh dari Arga mendatangi Arga dan melayangkan tinjunya.
Bug...
"Katakan padaku, kau berbohong brengsek." Teriak Sky mencengkram erat kerah leher Arga. Melihat mata tajam Sky,. Arga melepaskan kerah lehernya dari tangan Sky.
Arga tak menjawab, ia juga tak membalas pukulan Sky padanya.
Mark menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan. Ia mengusap wajahnya kasar, menyesal. Sudah pasti Mark sangat menyesal telah menyakiti Elvira. Apalagi mendengar Elvira yang sulit hamil ternyata wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan saat ini, Elvira sedang pendarahan. Semoga Elvira baik baik saja di dalam. Ia ingin menembus dosanya pada Elvira, ia ingin membahagiakan Elvira kembali.
" Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku El. Apa aku tak pernah berarti untuk mu Elvira. Apa kau menganggap aku orang lain Elvira.?"
Mark mengusap wajahnya kasar, ia tak bisa membendung air matanya.
Arga melirik ke arah Mark dan Sky bergantian, mendesah kasar jika keduanya ternyata sangat menginginkan Elvira.
"Aku akan tetap menikahi Elvira." Jawab keduanya berbarengan.
Arga mendesah lebih kasar lagi mendengar keduanya. Ia sendiri juga bingung dengan keadaan ini. Memikirkan Elvira yang terjebak di antara keduanya.
"Elvira pernah bilang padaku jika dia sangat merindukan salah satu dari kalian. Dia juga bilang padaku, jika dia berharap anak yang di kandungnya adalah anak dengan pria yang dia rindukan selama ini."
Mark dan Sky menahan nafasnya mendengar penuturan Arga. Wajah mereka berdua tak kalah menyedihkan.
"Bayi Elvira perempuan."
Lagi lagi ucapan Arga, membuat keduanya menitikan air matanya.
Tak lama pintu terbuka menampilkan Melisa yang baru saja membuka penutup wajahnya.
"Bagaimana dengan Elvira.?" Tanya Mark dan Sky.
__ADS_1
"Elvira koma, dia kehilangan banyak darah."
Mark menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Melisa. Sementara Sky sendiri mencengkram erat tangan Melisa. Melihat Sky menyakiti istrinya, Arga berdiri dan melepaskan tangan Sky dari istrinya.
"Beraninya,"
"Katakan padaku itu bohong,"
Melisa bungkam tak menjawab pertanyaan Sky. Tapi tak lama kemudian, Melisa mengatakan jika Elvira sudah berada di kamar rawat VIP.
Mark dan Sky berjalan mencari keberadaan Elvira. Melisa yang melihat keduanya, mencegahnya.
"Aku tak akan pernah mengijinkan kalian bertemu Elvira."
Mark dan Sky menoleh Melisa, rahang keduanya mengeras mendengar ucapan Melisa.
Melisa sendiri menatap wajah Sky dan Mark bergantian.
"Percayalah padaku demi Elvira, aku akan memberikan yang terbaik untuk Elvira. Dia akan baik baik saja." Ucap Melisa menyakinkan mereka berdua.
Tak lama kemudian Melisa meninggalkan Sky dan Mark. Melisa pergi berganti pakaian, ia akan merawat Elvira dengan tangannya. Melisa bingung dengan keadaan ini. Apa ia harus memberitahukan Damian dan Raline jika Elvira koma atau bagaimana.
"Sayang" Melisa berjengit kaget mendengar suara suaminya. Ia menoleh pada Arga, yang mendekatinya.
"Aku bingung dengan semua ini, bagaimana dengan Damian dan Raline. Mereka akan marah besar jika tak di beri tau Arga."
Arga diam, ia juga sama bingung seperti istrinya. Tapi tak lama kemudian, ia memeluk tubuh Melisa.
"Bayinya sudah lahir, beritahu mereka. Ini bukan saatnya menyembunyikan sesuatu lagi. Elvira sakit Damian dan Raline harus tau."
Melisa menggangguk mengiyakan, ia mengambil ponsel di tangannya dan menghubungi Raline. Mengusap pipinya yang basah, dan menatap wajah suaminya dan di balas anggukan Arga.
"Melisa," Jawab Raline di sebrang telpon.
Raline tersenyum lebar, ia tak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan putrinya dan cucu yang berada dalam kandungan Elvira. Semenjak Melisa bilang akan pergi lagi mengunjungi Elvira, wanita itu belum memberitahukannya tentang Elvira. Dan Raline tentu tak sabar ingin berbicara pada putri satu satunya.
"Dimana Elvira Melisa, aku sudah rindu dengannya."
Setelah mengatakan itu tubuh Raline bergetar ketakutan saat melihat wajah Damian yang mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Elvira sudah melahirkan dan dia koma."
Prakk...