
Mark saat ini sedang berada di mension Damian. Mark sendiri yang duduk menggendong putrinya tak berani menatap wajah mertuanya itu. Mark tau jika Damian masih marah padanya.
Sedangkan Elvira yang baru keluar dari kamar miliknya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Dad kami pulang dulu."
Damian menoleh ke arah Elvira dan istrinya. Ya Elvira dan Callista sudah sejak siang berada di mension mewahnya. Dan ia yang baru saja pulang dari perusahaan tak sengaja bertemu Mark yang melangkah masuk ke dalam. Entah kenapa Damian masih emosi melihat Mark Harrold. Pria yang sudah menyakiti putrinya.
"Maaf aku menjemput istri dan anakku." Kata Mark mendongak menatap wajah Damian. Bukan karna Mark takut pada Damian, tapi karna Mark tak ingin memancing emosi Damian lagi padanya. Apalagi Callista ada bersamanya.
Damian meninggalkan Mark dan masuk ke dalam kamarnya. Raline yang melihat suaminya meninggalkan mereka hanya menggelengkan kepalanya. Ia mendekati Elvira dan menciun pipi cucunya sekali lagi.
"Jangan hiraukan daddymu, dia hanya kecewa padamu, Mark." Tukas Raline pada Mark.
"Aku tau mom, maafkan aku."
Raline mengangguk mengiyakan ucapan Mark. Tak lama ia melihat Elvira dan Mark pergi meninggalkan mension mewahnya.
"Maafkan daddy Mark." Tukas Elvira saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Mark menoleh dan mengecup bibir Elvira sekilas. Mark juga mengecup pipi putrinya yang berada di pangkuan Elvira.
"Daddy seperti itu memang wajar sayang, karna aku sudah membuat putrinya menderita."
Elvira tersenyum tipis, tak lama Mark menyalakan mobilnya meninggalkan mension mewah Damian.
__ADS_1
*
Rosa berjalan gontai masuk ke dalam rumah sakit. Sudah berulang kali Rossa melakukan perawatan wajah. Wajahnya yang tergores dan meninggalkan jejak hitam tak secantik dulu. Banyak jejak kuku di wajahnya dan itu dari sahabat Elvira. Tak hanya meninggalkan jejak di wajahnya, tapi tubuhnya juga tak luput dari goresan kuku mereka.
Rosa sangat membenci keadaannya yang seperti ini. Tak hanya jatuh miskin ia juga seperti monster yang berjalan. Harusnya ia menuntut sahabat Elvira, tapi apalah daya nya yang tak memiliki uang sepeserpun.
Pergi ke sana kemari tak ada yang mau menerimanya sebagai karyawan. Rossa tahu jika ini adalah ulah Damian dan Rosa sangat membenci Elvira. Entah kenapa hanya Elvira Elvira dan Elvira. Kenapa harus Elvira yang kaya dan dirinya miskin.
Kenapa juga harus Elvira yang harus mendapatkan Mark menjadi suaminya, sedangkan dirinya yang mencintai Mark tak bisa mendapatkan Mark. Hanya percintaan singkat mereka di ruangan Mark dulu.
"Bagaimana dokter apa aku bisa mengembalikan wajahku dan menghilangkan bekas luka di wajahku" tanya Rosa pada Dokter wanita di depannya.
"Maaf Nona memang bekas luka itu akan sangat susah dihilangkan, meskipun lukanya sembuh tetap saja ada bekas di wajah anda. Tapi setidaknya luka itu sudah mengering. Nona sendiri yang terlambat membawa ke rumah sakit, hingga luka anda semakin melebar dan infeksi. Tapi nona jangan khawatir Itu hanya bekasnya saja."
"Jika luka di wajah ku tak tidak bisa hilang sepenuhnya. Untuk apa aku membayarmu mahal,"
"Maaf Nona jika wajah anda ingin kembali seperti semula, anda harus melakukan operasi plastik. Sementara anda saat ini hanya melakukan perawatan dari luar di wajah saja bukan. Itu sebabnya luka anda hanya mengering dan masih meninggalkan jejak."
Jawab dokter menatap pasiennya yang sudah beberapa bulan datang ke kliniknya.
Mendengar jawaban dokter, Rosa berdiri dan berbalik menutup pintu dengan kencang. Ia tak percaya jika wajahnya tak bisa kembali seperti semula. Masih ada saja jejak koreng dan bekas kuku sahabat Elvira. Ya Rosa datang ke klinik kecantikan dengan uangnya dulu, saat berada di Club malam. Rosa sering meminta pada rekan ranjangnya. Tak banyak yang di berikan mereka pada Rosa.
"Brengsek, semua gara-gara Elvira. Kenapa Damian harus menghancurkanku seperti ini hanya karena aku bercinta dengan Mark."
*
__ADS_1
Keesokan harinya...
Mark yang keluar dari mobil bersama putrinya berjalan masuk ke dalam perusahaannya. Mark sengaja membawa Elvira setiap hari dengannya. Mark masih merindukan Elvira dan putrinya. Itu sebabnya Mark membawa istri dan putrinya kemanapun.
"Sayang mainan Callista jangan lupa." Teriak Mark bersama Callista yang berada di dalam gendongannya. Dan Elvira sendiri yang masih berada di dalam mobil menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Mark.
Elvira turun dari mobilnya setelah mengambil mainan putrinya, tapi tak lama kemudian Elvira terkesiap saat rambutnya di tarik seseorang.
Elvira menoleh siapa orang yang menarik rambut miliknya. Elvira menatap tajam pada wanita yang sudah menghancurkannya.
Bug...
Rosa terjengkang kebelakang dan tangannya terlepas dari rambut Elvira.
"Brengsek.."
Elvira tersenyum lebar melihat wajah Rosa. Ia berjalan mendekati Rosa dan berdecak di hadapan Rosa.
"Kenapa dengan wajahmu Rosa.?" Ejek Elvira pada Rosa.
Rosa menatap Elvira penuh kebencian. Nafasnya memburu menahan emosi pada wanita yang selalu di puja banyak orang.
"Kau sudah menghancurkanku brengsek, kau tau Mark dan aku saling mencintai. Tapi kau sudah merebut Mark dariku sialan."
Elvira tertawa mendengar penuturan Rosa, tangannya terulur membalas Rosa dengan menarik rambutnya seperti yang Rosa lakukan tadi padanya.
__ADS_1
"Dengar Rosa, aku bisa menghancurkan wajahmu lebih dari yang sekarang ini. Kau tak akan pernah bisa memang dariku. Mark milikku dan aku tak akan pernah membiarkan orang lain merebut Mark dariku." Tukas Elvira menatap Rosa penuh kebencian. Sedangkan Rosa sendiri dadanya naik turun mendengar penuturan Elvira.
"Ingat Rosa, aku tak akan pernah memaafkanmu lagi jika kau berani mengambil milikku lagi."