
Elvira mengumpat pria bayaran nya yang membuatnya menjadi orang bodoh saat ini. Ia melemparkan kain selimut bekas pakai orang lain yang entah di dapat dari mana oleh Sonia.
"Oh ya ampun, jangan sampai aku besok gatal gatal Sonia, lalu kudisan tertular karna selimut sialan ini."
Sonia berdecak mendengar gerutuan Elvira. Ia menyalakan mobil dan pergi dari sana meninggalkan hotel tempat ia menemukan Elvira dalam keadaan bodoh.
Tak lama kemudian Elvira berganti pakaian yang ada di dalam mobil nya. Sonia hanya melirik ke arah belakang, di mana Elvira sedang mengganti kemeja dengan pakaian Elvira yang ada di mobil.
Melihat Elvira sudah berganti pakaian, Sonia menepikan mobilnya, berbalik dan menatap wajah Elvira penuh selidik.
"Ingat El, aku tak akan membantumu mu jika kau tak mengatakan nya pada ku."
Ancam Sonia, pada sahabatnya. Elvira hanya mendengus mendengar nya, ia berbalik dan menatap Sonia. Kemudian berpindah ke depan duduk bersama Sonia.
"Aku bertemu dengan pria yang ku bayar waktu itu."
"Apa.."
Elvira mengusap telinga nya mendengar lengkingan keras Sonia. Ia melirik sekilas ke arah Sonia kembali.
"Aku tak melakukan hal bodoh Sonia."
"Lalu, apa yang kau pakai El."
Plakk.... Aw...
__ADS_1
Sonia meringis merasakan sakit di tangan nya. Ia melirik ke arah sahabat nya. "Jangan bilang kau terpesona dengan pria bayaran mu itu El," Elvira diam, jika ia terpesona dengan ketampanan nya, mungkin iya. Tapi Elvira bukan terpesona dengan itu, saat berdekatan dengan nya. Elvira menyentuh perut nya yang rata, pria itu mengelus perut nya dan mengatakan jika ia hamil anaknya.
"Tidak..."
Sonia menghembuskan nafasnya perlahan, melajukan mobilnya kembali menuju kamar hotel.
"Mark menelpon ku berkali kali El, dia terlihat khawatir dengan mu yang tak menghubungi nya satu hari."
Elvira diam ia tak tau apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Mark tentu sudah menelepon nya berkali kali. Ia tau Mark, pria itu sangat mencintai dirinya, begitupun dengan nya Tapi entah saat ini, saat mendengar suara ******* dan lenguhan saat malam ulang tahun pernikahan mereka. Apalagi Mark saat ini sedang berbohong padanya.
"El sebaiknya kau telpon Mark, dia sangat menghawatirkan mu."
Elvira tak menjawab nya, ia masih kecewa dengan Mark yang berbohong pada nya. Padahal jika Mark mengakuinya,ia juga akan mengakui perbuatan bodohnya, kemudian memulai lembaran baru bersama seperti dulu. Tapi Mark justru membohongi nya lagi saat ini.
"Aku akan menelponnya nanti," Jawab Elvira lirih, masih gamang harus berbicara dengan Mark yang melukainya lagi.
*
Sedangkan Mark keluar dari ruang meeting dengan tergesa gesa. Ia tak ingin duduk di kursi miliknya saat pikiran nya melayang jauh pada Elvira. Ia akan menyusul Elvira di lokasi pemotretan nya saat ini juga. Tak perduli dengan mereka semua, yang ia pikirkan hanya Elvira. Kenapa istrinya sama sekali tak menelponnya dan tak menjawab telponya juga. Ia yakin saat ini istri nya sedang marah pada nya. Tak mungkin Elvira tak menelponnya sampai selama ini. Biasanya istrinya akan menelpon saat tiga jam sekali, dan ini sejak kemarin Elvira belum memberinya kabar.
Rosa yang melihat Mark pergi terburu buru mengepalkan tangannya, ia yakin jika Mark akan pergi menyusul Elvira saat ini. Terlihat dari raut wajah nya yang gelisah dari tadi. Ia tau saat ini Elvira sedang pemotretan di luar kota, dan Mark pasti akan menyusulnya.
Tak lama kemudian Rosa mengikuti langkah Mark, dan memanggil nya.
"Tuan, anda mau kemana, meeting belum selesai.?"
__ADS_1
Mark menghentikan langkahnya mendengar suara Rosa. Ia berbalik dan menatap tajam pada wanita yang membuatnya menjadi pria brengsek. Mendekati Rosa dan mencengkeram erat dagu Rosa, hingga Rosa meringis kesakitan.
"Jangan pernah campuri urusan ku Rosa, apapun yang ku lakukan, sama sekali tak ada urusan nya dengan mu. Dan ingatlah Rosa, bekerjalah sebagaimana kau menjadi sekertaris yang baik, bukan menggodaku dan terus menyentuh ku. Aku sama sekali tak berminat dengan mu Rosa."
Mark menghempaskan dagu Rosa begitu saja. Lalu kemudian pergi meninggalkan Rosa. Ia tak perduli dengan wanita itu, yang ia perdulikan hanya Elvira.
*
"El hari ini kau ada pemotretan lagi, kau belum menghubungi Mark. Aku akan pulang terlebih dahulu, aku banyak pekerjaan ku El." Sonia mengingatkan sahabatnya, kemudian mengambil tas miliknya, bersiap pulang.
"Nona, waktu nya kita berangkat sekarang." Caca mengagetkan Elvira, tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan.
"Kau mau pulang Sonia,"
Ck...
Sonia berdecak pada sahabatnya, bukankah ia tadi sudah mengatakan nya jika ia akan pulang.
"Ya aku tak mungkin menemanimu terus El, aku juga punya pekerjaan ku sendiri. Ingat El jangan berbuat bodoh lagi."
Elvira tak menjawab, kemudian pergi ke lokasi pemotretan bersama dengan Caca. Sedangkan Sonia hanya mendesah lirih, membayangkan bagaimana kecewanya Elvira pada Mark.
"Mereka berdua memang egois dan tak ada yang ingin mengalah. Padahal sudah bertahun tahun."
Sonia tak ingin pusing dengan rumah tangga Elvira. Dirinya saja, baru bercerai dari suaminya. Sama seperti Elvira jika suaminya menghianati nya. Itu sebabnya ia tau apa yang Elvira rasakan. Tapi ia tak bertindak bodoh seperti Elvira yang membayar seorang pria untuk membalas sakit hatinya.
__ADS_1
.