
Sampai di rumah sakit, Sky menatap tajam pada perawat pria yang baru keluar dari ruangan Elvira.
"Dimana Elvira.?" Tanya Sky menatap ruangan kosong di depannya.
"Maaf tuan, tuan Damian membawa pulang nona." Jawabnya menunduk, takut dengan tatapan tajam Sky padanya.
Nafas Sky memburu mendengar jika Elvira sudah pulang bersama Damian. Kenapa ia tak tau jika Damian membawa Elvira pergi semalam. Setelah mengatakan jika ia dan Elvira pernah menghabiskan malam bersama, Damian justru membawa Elvira pergi tanpa mengatakannya padanya.
Sky tak akan melepaskan Elvira begitu saja, Elvira miliknya. Mau Damian dan Mark sekalipun ia akan mendapatkan Elvira.
"Brengsek, kenapa kau tak mengatakannya padaku sialan." Teriak Sky, mengepalkan tangannya.
Bug..Bug..
Pria di depannya ini hanya menunduk, dia hanya pasrah menerima pukulan dari tuannya. Ya perawat pria itu adalah orang Sky yang memantau Elvira. Niat hati ingin mengelabuhi Damian agar ia bisa bertemu dengan Elvira, tapi nyatanya Damian lebih dulu membawa Elvira pulang dan pria di depannya ini tak memberitahukan padanya.
"Brengsek.."
Sky menjambak rambutnya sendiri, jika Elvira sudah pulang. Pasti akan lebih sulit lagi untuk bertemu dengan Elvira. Apalagi Damian sudah tau semuanya dan dia marah padanya. Ia yakin mension akan di jaga ketat lagi oleh Damian.
Sky berjalan pergi meninggalkan anak buahnya. Ia menelpon Calvin agar mencarikan penerbangan saat ini juga. Ia tak menyangka jika Damian akan membawa Elvira pergi begitu saja.
Setelah Sky pergi dari rumah sakit, kini tinggal Mark yang datang. Dia juga ya kalah shock mendengar jika Damian membawa Elvira pulang ke negaranya.
Mark tak menyangka jika Damian benar benar tak ingin ia mengetahui tentang Elvira.
"Apa Sky tau, apa pria itu pulang bersama Damian.?"
Mark mengepalkan tangannya, jika benar Sky juga pergi bersama Damian, membawa Elvira pulang apa itu artinya dia kalah.
"Apa aku kalah."
Terkekeh kecil mengingat jika mungkin saja ia tak bisa bertemu lagi dengan Elvira. Tentu saja, saat Elvira belum hamil saja, Damian sama sekali tak membiarkan ia bertemu Elvira, apalagi dengan sekarang. Mark hanya pasrah, selain menerima kenyataannya, ia juga harus mengikhlaskan jika dia akan kalah.
__ADS_1
*
"Apa kau belum tau kemana Damian membawa Elvira, Calvin.?"
"Belum tuan." Jawab Calvin menundukkan wajahnya.
Sky mendesah lirih, ia tak tau kemana lagi Damian membawa Elvira pergi. Sayangnya Sky tak terlalu hapal dengan kota ini. Damian penguasa di kota ini, tentu pria tua itu akan menyembunyikan Elvira.
"Kenapa kau suka sekali bersembunyi El."
Sky terkekeh kecil, setelah bersembunyi selama tujuh bulan, kini Elvira lagi lagi bersembunyi darinya.
"Apa aku harus menghancurkan mension mu Damian, baru kau akan mengatakan padaku di mana Elvira."
Calvin hanya menunduk mendengar penuturan tuannya. Calvin tau siapa Ausky Luis, jangan sampai Damian dan Sky berperang. Membayangkan bagaimana dua penguasa akan saling beradu kekuatan sungguh membuat Calvin takut.
*
Elvira sendiri yang berada di kamar rawatnya mengerakkan tangannya. Matanya perlahan terbuka sedikit, tapi Elvira memejamkan lagi saat silau lampu menembus kornea matanya.
"Mom."
Raline tak mendengar suara lirih Elvira. Ia memberikan susu pada cucunya yang merengek tadi.
Elvira yang melihat makhluk kecil bergerak gerak di depan ibunya tersenyum tipis. Ia yakin jika dia adalah bayinya.
"Mom.." Memanggil lebih keras lagi ibunya.
Raline yang mendengar suara Elvira kaget, ia menoleh pada wanita yang terbaring di atas ranjang pesakitan. Dan tak terasa air matanya mengalir deras melihat mata Elvira terbuka dan menatapnya. Hampir satu bulan lamanya Elvira tidur di ranjang dengan alat bantu di tubuhnya. Dan saat ini putrinya sudah bangun, Elvira sudah sadar dari komanya.
"Sayang apa kau bangun.?"
Raline berlari keluar memanggil dokter yang tak jauh dari kamar Elvira. Tak lama kedua dokter masuk kedalam di ikuti oleh Raline di belakangnya.
__ADS_1
Raline meraih ponsel di atas meja nakas, menghubungi suaminya yang berada di perusahaan. Raline bahkan sampai lupa dengan cucunya sendiri jika bayi mungil itu tak merengek pasti Raline lupa.
Mendengar penuturan Raline jika Elvira sadar dari komanya, Damian bangkit dan berjalan tergesa gesa keluar dari perusahaan miliknya. Tak perduli dengan meeting yang akan berlangsung. Elvira lebih dari segalanya bagi Damian.
Dari jauh seseorang tersenyum miring melihat Damian yang keluar dari perusahaan miliknya. Ia yakin jika Damian akan bertemu dengan Elvira. Ia mengikuti mobil Damian dengan sepeda motor besarnya. Sudah hampir setengah bulan ia mengikuti Damian dan hasilnya nihil. Pria itu terlalu cerdas untuk di intai, itu sebabnya ia memakai sepeda motor yang baru di belinya. Dan ia yakin jika ia akan berhasil menemukan Elvira kali ini.
Damian sendiri yang di ikuti tak tau dan tak menyadari. Ia terlalu bahagia mendengar jika putrinya sadar dari komanya. Sebulan lebih Elvira tidur dan mengabaikan putrinya, tentu Damian sangat sedih.
Sampai di rumah sakit Damian turun tergesa-gesa masuk ke dalam.
"Jadi kau ada di sini selama ini El." Gumamnya lirih, turun dari sepeda motornya dan mengikuti langkah Damian dari jauh.
Clekk...
Damian tersenyum lebar melihat senyum Elvira yang menyambutnya. Putrinya sedang menggendong bayinya, Raline yang melihat suaminya datang, mengambil cucunya dari tangan Elvira. Damian sendiri berjalan mendekati Elvira dan memeluknya.
"Dad maafkan El."
Elvira terisak di pelukan Damian yang memeluknya tak kalah erat. Raline yang melihatnya juga tak kalah sedih dan terharu. Tak lama mereka bertiga di kagetkan dengan seseorang yang memanggil Elvira.
"El.."
#
Mereka bertiga shock melihat pria muda yang berdiri di depan pintu. Damian sendiri yang melihat pria itu mengeraskan rahangnya. Itu artinya, dia tadi mengikutinya.
Elvira menatap Sky yang berjalan mendekatinya. Tubuhnya menegang tangannya saling meremas satu sama lainnya. Ia melirik ke arah Damian yang berdiri di sampingnya.
"Untuk apa kau datang kemari.?"
"Bertemu Elvira."
Jawab Sky, tanpa mengalihkan pandangannya dari Elvira. Wanita yang sangat ia rindukan selama ini.
__ADS_1
Mendengar jawaban Sky Damian mengepalkan tangannya.