Gairah Pria Bayaran

Gairah Pria Bayaran
Bab.93# Damian murka


__ADS_3

Melisa dan Mark menoleh pada Sky saat mendengar gumaman Sky yang masih terdengar di telinga mereka. Entah apa yang di pikirkan oleh Mark mendengar penuturan Sky pada bayi Elvira. Yang jelas dadanya bergemuruh tak terima mendengarnya.


"Apa Sky daddynya." Gumam Mark dalam hati.


Melisa melirik menatap Mark mengusap matanya yang basah. Entah apa yang ia pikirkan melihat keduanya.


Sky menoleh ke arah Mark, ia memberikan bayi merah di tangannya pada Mark. Biar bagaimanapun Mark juga ingin menggendongnya. Sky tak bisa egois ingin mengklaim dia putrinya.


"Apa kalian ingin, tes DNA secepatnya. Aku akan mengabulkan permintaan kalian. Elvira pasti tak akan marah jika kalian tak ingin menunggu."


Keduanya bungkam, ingin segera mengetahui siapa ayah dari bayi Elvira. Tapi mereka tak ingin melakukan ini sebelum Elvira sadar dari komanya.


"Bagaimana jika Elvira lama tertidur." Lirih Melisa.


"Tidak, Elvira akan bangun, dia akan segera sadar." Sanggah Mark pada Melisa, matanya tak berkedip menatap wajah mungil di depannya. Mark tersenyum tipis, saat ia tersenyum padanya. Jari telunjuknya mengusap pipi cabi dan imut.


"Hidungnya sangat kecil El," Kekeh Mark menoel hidung yang sangat kecil. Tangannya, berpindah di mata yang terpejam dengan bulu matanya yang lentik.


"Dia memang seperti Elvira." Sky menatap wajah Mark dan bayi di tangan Mark.


Melisa mengambil bayi Elvira dan meletakkan lagi ke dalam inkubator lagi.


"Maaf dia sudah terlalu lama di luar, pergilah. Kurasa sudah cukup kalian bertemu dengannya. Sky dan Mark keluar dari ruang khusus dan menunggu Melisa keluar.


"Ada apa..?"


"Sampai kapan aku di perbolehkan melihat Elvira, aku sangat merindukannya." Kata Sky menatap Melisa di depannya. Melisa menghembuskan nafasnya perlahan melihat keduanya.


"Maaf aku tak bisa mengijinkan kalian bertemu Elvira. Ada orang yang berhak atas Elvira saat ini. Kalian tau, kau sudah bukan suaminya Mark. Dan kau juga tuan, aku tak tau hubungan Elvira denganmu, tapi yang jelas Elvira bukan istrimu. Jadi kalian sudah tau siapa yang aku maksud, maaf. Pergilah, sebelum Damian datang dan dia mengamuk pada kalian berdua, kalian jelas tau siapa Damian."


Melisa meninggalkan Sky dan Mark, ia sudah bingung mau menyikapi keduanya. Mereka berdua sama-sama sangat mencintai Elvira, mungkin. Melisa sendiri berpikir bukan hanya mereka yang akan terkena amukan Damian, tapi dirinya dan suaminya yang akan menerima amukan Damian. Pria itu jelas saja akan mengamuk padanya yang sudah menyembunyikan putri satu-satunya.

__ADS_1


Dua hari kemudian...


Melisa menatap Mark yang datang kembali menemuinya. Melisa tak tega melihat wajah memelas Mark. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak ingin membuat keributan dengan mengijinkan salah satu di antara mereka berdua.


"Untuk apa kau datang lagi kemari Mark, Damian akan datang dan dia pasti akan sangat marah. Pergilah, jangan menambah Damian semakin emosi."


Melisa mendesah lirih, baru saja Sky yang datang padanya, sekarang giliran Mark datang dan memohon padanya.


Mark keluar dari ruangan Melisa, ia pasti bisa menemukan keberadaan Elvira. Melisa dan Arga sungguh keterlaluan, padanya. Tak puaskah mereka menyembunyikan Elvira selama ini. Ketika Elvira sakit dan ia ingin bertemu dengannya, Melisa dan Arga masih belum mengijinkannya bertemu Elvira.


Mark tak tau jika Sky lebih dulu ada di sini dan saat ini Sky berada di ruang NICU. Melihat bayi Elvira yang cantik dan semakin imut menurutnya.


Mark berkeliling di dalam rumah sakit, dua hari tak bisa menemukan di mana kamar rawat Elvira. Arga memang sangat pintar menyembunyikan Elvira. Tapi tak lama bibir Mark terangkat saat dari jauh ia bisa melihat Arga dan Melisa. Mark mendekati keduanya, berjalan lebar dan mengagetkan sepasang suami istri yang sedang berbicara.


"Kau sungguh pintar tuan Arga."


"Mark.." Gumam Melisa, melihat Mark di depannya. Arga menoleh pada Mark, ia menghembuskan nafasnya perlahan jika Mark bisa menemukan keberadaan Elvira di sini.


"Aku tak akan pernah mengijinkan mu masuk ke dalam."


Damian dan Raline berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit. Damian sendiri yang masih emosi pada Raline dan Melisa mencoba menekan marah dan emosinya yang memuncak.


Dari jauh Damian bisa melihat Melisa dan punggung dua pria yang membelakanginya. Damian berjalan lebar mendekati Melisa dengan wajah yang mengeras.


"Beraninya kau menyembunyikan putriku sialan, dimana Elvira brengsek."


Melisa mendongak saat mendengar suara keras Damian. Melisa menatap Raline yang menarik tangan Damian dan memohon padanya.


"Tenanglah." Lirih Raline.


Sedangkan Arga dan Mark yang membelakanginya langsung menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Damian.."


Bug..Bug..Bug...


Prang....


Damian melayangkan tinjunya pada Arga, ia sudah geram dan ingin membunuh pria yang berani menyembunyikan putri satu-satunya.


Melisa shock, ia berlari ke arah suaminya, tapi lagi lagi Melisa berjengit kaget saat mendengar suara tembakan.


Dor..


Raline menangis melihat Damian yang bertindak seperti ini. Ia memeluk tubuh tinggi suaminya dari belakang. Sedangkan Mark yang melihat kejadian ini di buat diam mematung. Mark juga tak kalah shock melihat kejadian tak terduga ini. Sky sendiri yang masih di dalam kamar NICU tak tau dengan kejadian ini.


"Damian."


"Aku akan membunuhmu Arga," Teriak Damian. Dadanya naik turun menahan emosi, matanya memerah menahan amarah dan tangis sekaligus.


Bagaimana bisa Arga yang menyembunyikan putrinya. Pantas saja ia tak bisa menemukan keberadaan Elvira di manapun berada. Rupanya Arganio Werner yang menyembunyikan putrinya selama ini.


"Sayang jangan berteriak di rumah sakit."


Damian melepaskan tangan Raline dan berjalan mendekati Arga. Menekan senjatanya di kepala Arga, pria brengsek yang sudah mempermainkan dirinya.


"Aku tak akan pernah mengampuni mu jika terjadi sesuatu pada putriku." Damian juga melirik Melisa, ia berdiri menatap tajam pada wanita berpakaian dokter.


"Dimana putri ku.?" Desis Damian dingin dan menakutkan.


Melisa menunjuk pintu yang tertutup rapat, Damian berjalan mendekati pintu bersama dengan Raline yang mengikutinya.


Damian melirik Mark yang berdiri mematung, tangannya terkepal erat melihat Mark Harrold. Entah apa yang Damian pikirkan yang jelas ia hanya ingin putrinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2