Gairah Pria Bayaran

Gairah Pria Bayaran
Bab.11 # Permainan Elvira


__ADS_3

Pagi buta Elvira meninggalkan mension mewahnya. Mengendarai mobil Lamborghini keluaran terbaru milik nya dengan kecepatan tinggi. Ia pergi ke rumah orang tuanya. Mengingat jika Mark sudah menghianati dirinya. Entah kapan Mark menyelingkuhi dirinya dengan Rosa di belakangnya. Ia tak tau sejak kapan, yang jelas Elvira membenci perselingkuhan, itu sebabnya ia membalas sakit hatinya pada Mark dengan membayar pria bayaran untuk bercinta dengan nya.


Sampai di mension orang tua nya, Elvira tersenyum tipis melihat mobil siapa yang terparkir di halaman depan Mension daddy nya.


Cih...


"Wanita murahan seperti mu memang seperti duri dalam daging, Rosa."


Elvira mengumpat dan meremas setir kemudinya, ia turun dan menutup pintu mobil mewahnya kencang.


Brakk....


Penjaga yang hendak membuka pintu mobil milik nona muda nya berjengit kaget mendengar suara keras pintu yang tertutup.


Elvira melangkah masuk ke dalam mension mewah orang tuanya. Ia tak perduli dengan penjaga yang heran melihat nya. Sampai di ruang tamu, ia tersenyum kecut melihat ibunya sedang mengobrol dengan sahabatnya, Rosa.


"El, kau datang sayang,"


Raline membuka tangan menyambut putri satu satunya. Dan Elvira tersenyum lebar langsung menubruk kan tubuhnya pada ibunya.


"Apa kau tak ada pemotretan sayang.?"


Tanya Raline pada putrinya, dan Elvira menggeleng. Matanya melirik ke arah sahabat nya yang duduk di samping ibunya.


"Ku pikir kau ada pemotretan El."


Rosa tersenyum tipis pada Elvira, ia mengepalkan tangannya melihat leher Elvira yang memerah bekas cupangan. Dadanya bergemuruh, rasa cemburu seketika muncul di hati nya.


"Mark dimana sayang, apa dia tak datang.?"


"Tidak mom,"


Rosa langsung terlihat kecewa saat mendengar jika Mark tak datang ke mension Damian. Ia pikir hari ini Elvira ada pemotretan dan ia pagi tadi sudah berada di mension Damian. Dan ternyata Elvira yang datang kemari dan Mark sendiri tak datang kemari.


Elvira tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kecewa Rosa.


"Aku tak akan pernah membiarkan kau menang Rosa."


Gumam Elvira menatap datar pada sahabatnya. Tak lama kemudian ayah nya datang.


Cup...


"Apa kau terlalu sibuk sayang, kau sudah hampir seminggu tak datang ke mension, apa Mark yang mengikatmu jika dirumah."

__ADS_1


Canda Damian pada putrinya dan di balas dengan kekehan Elvira. Tapi Rosa sama sekali tak menyukai candaan Damian, hati nya semakin terbakar. Mengingat jika semalam Elvira yang bercinta dengan Mark membuatnya semakin bertambah bergemuruh.


"Aunty, aku pulang terlebih dahulu ya,"


"Loh kenapa sayang, sebentar lagi sarapannya sudah siap."


Elvira menipiskan bibir nya mendengar jika Rosa akan pergi dari Mension daddy nya.


"Maaf aunty, Rosa ada keperluan mendadak."


Raline mengangguk mengiyakan. Dan tak lama Mark datang dengan senyum lebar nya.


"Pagi Dad, Mom,"


Elvira melirik ke arah Rosa, ia tersenyum lebar melihat wajah Rosa yang terlihat menyesal. Dan tak lama kemudian ia bangkit mendekati Mark dan mencium bibir nya sekilas.


"Ku pikir kau tak datang sayang."


Mark membalas ciuman Elvira, dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya.


"Ku pikir, aku akan bosan jika di rumah tak ada kamu El."


Mark tersenyum pada istrinya dan di balas senyum manis dari Elvira, tentu saja karna Elvira ingin melihat bagaimana reaksi Rosa saat ini.


Sedangkan Rosa tersenyum kecut melihat Mark sama sekali tak menoleh ke arah nya. Rosa masih duduk di tempat duduknya, dan ia lupa jika ia baru saja berpamitan pulang.


"Sayang sekali sarapan kali ini Rosa tak ikut serta."


Elvira menatap wajah Rosa sedih, dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan. Dan Rosa sendiri kaget, ia baru menyadari jika ia berpamitan pulang tadi. Ia menatap Elvira yang bergelayut manja di lengan kiri Mark. Cemburu, Rosa merasa sangat cemburu melihat Elvira yang bergelayut manja di lengan Mark.


"Ah ya mommy lupa, sayang sekali Rosa tak ikut serta."


Rosa menatap Elvira penuh kebencian, terlahir dari keluarga yang sangat kaya dan memiliki wajah yang cantik dan tubuh proporsional membuat Elvira semakin di kenal dan banyak teman. Tidak seperti dirinya yang tak mempunyai teman, hanya beberapa saja yang mau berteman dengan nya.


"Rosa pulang aunty,"


Rosa menatap Mark yang duduk di samping Elvira. Tak lama kemudian ia pergi meninggalkan mereka semua.


Elvira tersenyum tipis, ia menatap Mark yang tak menoleh ke arah Rosa sedikitpun. Ia tak tau, kenapa Mark sama sekali tak menoleh ke arah Rosa, padahal jika mereka berdua benar benar mempunyai hubungan harusnya Mark tak dingin pada Rosa.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan."


Elvira bergumam dalam hati, takut jika ia salah mengambil langkah dengan membayar seorang pria untuk membalas suaminya.

__ADS_1


*


Hachihh... Hachihh...


"Brengsek..... Wanita sialan awas saja jika aku menemukanmu nanti."


Sky menatap ke arah pintu apartemen nya, ia mengumpat Calvin yang lama perginya. Gara gara semalam ia yang mandi dengan air dingin guna menghilangkan hasrat dari bayang bayang wanita yang membayar nya dan pagi Ini ia berakhir dengan demam dan sakit kepala.


Clekk....


"Apa kau membelinya di Amerika Vin."


Sembur Sky pada Calvin yang baru saja masuk membawa satu kantong kresek kecil, berisi obat untuk nya.


Sedangkan Calvin sendiri diam, ia tak mengerti dengan tuannya akhir akhir ini sensitif sekali dengan nya, padahal ia sama sekali tak melakukan kesalahan apapun. Lagi pula ia juga pergi hanya membeli obat, dan tidak ke mana mana.


"Maaf tuan."


Calvin menunduk. Dan Sky langsung menyambar kantong kresek di tangan Calvin.


Calvin menggeleng kan kepalanya, melihat sikap tuannya yang sepertinya berubah, semenjak keluar dari kamar hotel tempat nya dia menghabiskan malam bersama dengan wanita yang membayar nya. Tuannya akan marah dan mengumpat wanita yang yang sudah membayar nya. Padahal jika tuannya mencari tau bukankah bisa di lakukan oleh nya. Apalagi hanya mencari wanita yang pernah bersamanya.


"Kadang seseorang akan bertindak bodoh, dan menyebalkan jika sedang jatuh cinta. Apa tuan juga sedang jatuh cinta, dengan siapa.?"


Gumam Calvin, berjalan ke arah kursi dan mendudukkan dirinya di sana.


"Bagaimana dengan ponsel nya."


Calvin berjengit mendengar tuannya sudah ada di belakangnya. Ia berdiri dan menunduk, tak berani menatap wajah tuannya yang masih terlihat marah.


Tak lama kemudian ia merogoh ponsel di saku jasnya, memberikan pada tuannya yang menatapnya tajam.


"Tidak tuan, saya mengambilnya pagi buta,"


Tau dengan apa yang tuannya pikirkan, ia lebih dulu mengatakan.


.


.


Bunda beri VOTE dan hadiah ya


Sertakan like dan komen nya

__ADS_1


__ADS_2