
Sedangkan Elvira yang berada di dalam mension orang tua Melisa termenung saat melihat kedatangan Melisa. Melisa mengatakan jika orang tuanya masih mencari keberadaannya. Tapi bukan itu yang ia pikirkan.
"Apa yang kau pikirkan Elvira, aku sudah mengatakan jangan terlalu banyak melamun. Sebentar lagi kau akan melahirkan."
Ya Elvira akan melahirkan sesar sebelum waktunya. Karna miom dalam kandungan Elvira, tak memungkinkan Elvira melahirkan normal dan jatuh tempo bulan. Itu sebabnya Elvira akan melahirkan di usia delapan bulan.
"Apa aku harus sesar dokter.?" Tanya Elvira menatap Melisa.
"Ya tak ada pilihan lain. Aku tak bisa mengambil resikonya El."
Melisa menatap wajah wanita cantik di sampingnya dan mendesah lirih. Ia tau jika Elvira bukan takut, tapi Elvira menginginkan hal yang lainnya. Mungkin Elvira ingin di temani dengan ayah dari bayi yang di kandungnya saat melahirkan nanti. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak tau siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.
Melisa sendiri tak tau, apa alasannya dan siapa pria selain Mark yang sudah menaburkan benih pada rahimnya. Ia tak pernah bertanya dan tak ingin melihat Elvira bersedih. Sebenarnya Melisa ingin bertanya, tapi ia takut menyinggung Elvira.
"Aku sudah mengatakan padamu, jangan terlalu dipikirkan. Kau akan segera mengetahui siapa ayah dari bayi yang kau kandung."
Elvira tersenyum tipis saat mendengar penuturan dokter Melisa di depannya.
Ia mengusap perutnya yang membuncit, tak terasa sudah tujuh bulan ia meninggalkan Berlin dan tinggal di sini bersama dengan orang tua Melisa.
Sedangkan wanita yang sudah sangat tua itu menyentuh tangan Elvira dan menggenggam tangan Elvira.
"Semua akan baik baik saja."
Elvira tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ia sangat menyayangi mereka semua. Mereka memperlakukan nya sangat baik.
"Dokter, apa tuan Arga tak pulang.?"
__ADS_1
Melisa tersenyum, ia mengusap kepala Elvira.
"Apa kau merindukannya, dia akan pulang nanti, menemanimu melahirkan."
Jawab Melisa, ia tau jika Arga suaminya sangat menyayangi Elvira. Mereka sudah menganggap Elvira sebagai putri mereka sendiri. Apalagi mereka tak mempunyai anak perempuan. Ya baru kali ini Arga tak pulang bersamanya, biasanya suaminya akan pulang menengok Elvira.
"Aku hanya merindukan daddy dan mommy."
Lirihnya, baru kali ini Elvira mengeluh dan merasa sedih. Entah karna hormon hamil, atau apa. Yang jelas Elvira sangat merindukan keluarga nya, sentuhan tangan ibunya dan elusan tangan daddynya. Ia merasa sedih, di kehamilan nya ia sama sekali tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Padahal mereka sangat mendambakan ia bisa hamil dan memiliki cucu. Tapi ia justru pergi menghindari semuanya.
Melisa mendekat dan memeluk Elvira, ia mengusap punggung Elvira yang bergetar. Melisa tau jika Elvira pasti sangat merindukan keluarganya.
"Tunggulah sebentar lagi, semua akan baik baik saja."
Melisa juga tak kalah menangis melihat wanita cantik yang sangat rapuh. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyemangatinya.
Malam harinya, Elvira sungguh gelisah saat akan tidur, ia menyentuh perutnya yang membesar. Tak terasa perutnya semakin membesar dan ia akan melahirkan sesar.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Elvira, mungkin karna ada seseorang yang dekat dengannya dan ayah dari bayinya merindukannya. Hingga ia tak bisa tidur nyenyak, tak seperti hari hari biasa.
"Ada apa dengan ku.?"
Elvira bangun dari ranjang dan berjalan menuju jendela kamarnya. Menoleh ke arah jalan yang tak terlalu jauh. Elvira menggelengkan kepalanya, tak mungkin ia merindukannya tiba tiba. Apa mungkin ia sudah lama tak bertemu dengannya, hingga ia sangat merindukannya.
"Apa dia milikmu, kenapa aku sangat merindukanmu."
Belakangan ini Elvira memang sangat merindukan seseorang dan itu sangat menyiksanya. Padahal saat awal kehamilan trimester pertama dan kedua ia tak terlalu memikirkannya. Tapi entah belakang ini, ia seperti ingin sekali bertemu dengannya.
__ADS_1
Dug...
Shh...
Elvira meringis merasakan sakit saat tiba-tiba saja bayinya menendangnya. Ia mengusap perutnya yang membuncit.
"Ada apa, jangan nakal, sebentar lagi kita akan bertemu, hemm."
Ucap Elvira mengusap pipinya yang basah. Empat tahun ia menantikan menjadi seorang ibu dan sebentar lagi ia akan menjadi ibu yang ia inginkan. Elvira mencoba memejamkan matanya, menyambut hari hari yang baru sebagai wanita hamil.
Sedangkan tak jauh dari mension, seorang pria sedang menatap ke atas. Ia tau, mungkin saja kamar itu milik Elvira. Ia seperti melihat bayangan seseorang di jendela kamar yang remang remang.
Ia berdiri menatap tak berkedip pada jendela kamar yang di yakini jika Elvira juga belum tidur.
"Apa aku tak bisa masuk ke dalam.?" Tanyanya pada pria yang baru saja datang.
"Tidak tuan, mension ini di kelilingi oleh alarm. Jendral Arga menjaga ketat mension orang tuannya. Sebaiknya tunggu besok pagi, jika tuan ingin bertemu dengan nona."
Dia hanya mendesah lirih mendengarnya. Ia tau bahwa Arga tak mungkin sembarang membangun mension. Apalagi dia seorang jenderal, sudah pasti banyak jebakan yang tak terduga di dalamnya. Apalagi ia adalah penyusup, sudah pasti akan sangat sia sia.
Tak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam mension Arga. Termasuk dirinya, itu sebabnya ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap dari jauh. Bertamu juga belum tentu di ijinkan masuk. Ia akan menunggu Elvira keluar dari mension, itu adalah jalan satu satunya.
"Aku sangat merindukannya,"
.
.
__ADS_1