
Mark menatap wajah Rendra di depannya, ia mendesah lirih saat melihat pria di depannya ini bersama dengan wanita yang dulu pergi bersamanya dan akhirnya bertengkar dengan Elvira. Sampai saat ini Mark belum bertemu dengan istrinya. Pesan yang Mark kirimkan sama sekali tak di balas Elvira, jangankan di balas, di baca saja tidak.
"Bagaimana tuan..?"
"Aku sudah katakan Rendra, aku tak membutuhkan sekertaris wanita, aku hanya ingin pria yang bekerja dengan ku, apa kau dengar Rendra."
Ucap Mark menatap Rendra, matanya menatap sengit pada Nada di samping Rendra. Mark tau apa yang wanita inginkan darinya. Sudah cukup Rosa yang menjebaknya dan akhirnya berhasil menghancurkannya rumah tangganya. Mark memang tetap menuduh Rosa yang menjebaknya. Pada dasarnya, Rosa memang sengaja, memancingnya.
"Tapi tuan."
" Keluar dari sini, jika kau tak setuju dengan pilihan ku. Aku tak suka kau membantah ku. Biarkan aku yang mencarinya sendiri." Sentak Mark pada Rendra dan Nada. Ia sudah lelah dengan semua wanita yang mencoba mendekatinya. Cinta nya hanya pada Elvira, Mark sangat mencintai Elvira.
"Keluar.."
"Mark, kau sombong sekali padaku, aku hanya ingin bekerja dekat dengan kekasih ku, dan kau sama sekali tak percaya pada ku. Apa istri mu yang tak membiarkan kah berinteraksi dengan wanita lain, dia sangat kuno."
Brakk...
Rendra dan Nada berjengit kaget saat melihat meja Mark hancur berantakan. Mereka berdua menunduk takut melihat wajah Mark yang berubah seram, menatap mereka berdua.
"Keluar, "
Rendra menarik tangan Nada keluar dari ruang CEO milik Mark. Ia tak ingin Mark marah lebih jauh lagi dan berimbas padanya. Ia sebenarnya tak tega melihat Mark hancur seperti itu. Ia sudah lama mengikuti pria yang menjadi atasannya itu. Bagaimanapun juga Mark sudah banyak membantunya. Dan Rendra tak ingin mengecewakan Mark saat ini, cukup sudah ia membantu Nada, pada dasarnya Mark sendiri yang menolak nya.
"Pergilah Nada, aku sudah membantumu, kau lihat sendiri jika tuan Mark yang tak ingin kau ada di sini, maaf."
Nada mengepalkan tangannya mendengar penuturan Rendra. Jauh jauh ia datang kemari dengan bermodalkan Rendra, agar membantunya, tapi ternyata pria itu sama sekali tak membantunya.
"Kau tak bisa seperti ini Rendra, kau harus membantu ku."
__ADS_1
Desis Nada menatap punggung Rendra. Rendra sendiri yang mendengar penuturan Nada berhenti melangkah. Ia lalu berbalik dan menatap tajam pada wanita yang sudah ia anggap adik ini.
"Ingat Nada, aku sudah membantumu, dan tuan Mark sendiri yang menolakmu bukan. Dan aku tak akan menghianati tuan Mark yang sudah memberiku makan selama ini."
Nada mengepalkan tangannya mendengar penuturan Rendra. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Rendra. Bibirnya mengumpat Rendra yang sama sekali tak bisa membantunya. Nada pikir Rendra akan membantunya mengingat mereka sudah sangat dekat.
Rendra mendesah lirih melihat punggung Nada yang menghilang di berbelok. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan nya, tapi tubuhnya seketika mematung mendengar suara di belakangnya.
"Aku tak menyangka kau akan menghianati ku Rendra."
Mark terkekeh kecil melihat semua orang tak ada yang tulus padanya. Mereka sengaja ingin menghancurkan hidup dan rumah tangganya. Mark berbalik dan masuk kembali ke ruang pribadi nya.
"Tuan.."
Rendra mengikuti langkah Mark, ia tak ingin Mark memecatnya. Ia tau jika tuannya pasti sangat kecewa padanya. Tapi Rendra tak tau jika Mark dan istrinya sedang bertengkar saat ini. Rendra pikir tak ada masalah dengan pernikahan tuannya, itu sebabnya ia membantu Nada.
Brukk...
Rendra sangat menyesal telah melakukan ini pada tuannya. Sungguh tak ada niat bagi Rendra akan menghianati tuannya. Ia hanya ingin membantu Nada mencari pekerjaan dan kebetulan tuannya memecat Rosa.
"Pergi dari sini,"
Rendra menggelengkan kepalanya mendengar Mark mengusirnya. "Saya tidak akan pernah pergi dari sini, sebelum anda memaafkan saya tuan." Kekeh Rendra bersimbuh di lantai dingin.
Mark memejamkan matanya, menikmati perasaan bersalahnya pada Elvira.
"Pergilah aku lelah,"
Mark melangkah pergi meninggalkan Rendra, masuk ke dalam kamar pribadi miliknya. Duduk termenung dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"El tak bisakah kau memaafkan aku, ayolah sayang, kau juga sudah membalaskukan El."
Hati Mark tak siap jika harus berpisah dari Elvira. Ia sangat mencintai Elvira, ia harus mempertahankan rumah tangganya dengan Elvira, apapun yang terjadi Elvira tetap istrinya.
Sementara Rendra berdiri dan melangkah pergi ke ruangan nya, ia yakin jika Mark tak akan memecatnya.
*
"Ingat tuan, kau hanya rekan bisnis Daddy ku, jadi jangan pernah kau tunjukan jika kita pernah menghabiskan malam bersama."
Sky tersenyum lebar mendengar penuturan Elvira. Ia yakin jika Elvira tak ingin semua orang tau. Elvira tak tau jika saat mereka berdua bercinta di kamar hotel Sky sudah menghapus semua cctv saat itu juga. Itu sebabnya Damian tak menemukan informasi kegilaan putrinya.
"Harusnya kau beruntung Damian tak tau kegilaan mu sayang."
Elvira menatap tajam pada Sky, ya Elvira sudah tau sekarang jika pria bayaran nya ini bernama Ausky Luis.
"Apa kau yang melakukan ini tuan,"
"Tentu saja, kau pikir aku akan membiarkan Damian mencekik mu."
Elvira mendengus mendengar penuturan Luis, mata cantik nya melirik ke arah berbagai menu di meja. Tangan nya mengambil makanan kesukaan nya dan memakannya. Elvira bahkan sangat lahap memakan semuanya tanpa melirik ke arah Sky sedikit pun.
"Kau rakus sekali, apa Mark tak memberimu makan selama ini."
Deg...
Elvira meremas sendok di tangan nya, menatap nanar pada isi piring milik nya yang tinggal sedikit. Lagi lagi Ingatan nya saat bersama dengan Mark terlintas di kepalanya. Mark selalu membatasi makan, dia bilang tak ingin melihatnya gendut. Padahal Elvira tau jika Mark melarang nya juga karna dia yang menjadi model dan harus menjaga penampilannya.
"Itu bukan urusan mu tuan." Ketus Elvira tak ingin orang lain tau, padahal Sky sudah tau tentang rumah tangga nya.
__ADS_1
.