Gairah Pria Bayaran

Gairah Pria Bayaran
Bab.44 # Penyusup


__ADS_3

Sky tersenyum lebar masuk ke dalam apartemen mewah milik nya. Di luar ia berpapasan dengan Calvin. Melirik sinis ke arah Calvin yang menatap nya penuh tanda tanya.


"Aku tau apa yang akan kau sampaikan padaku. Jangan membuat mood ku buruk dengan berita yang akan kau sampaikan. Aku malas membahasnya, menyingkir dariku."


Calvin mendesah lirih mendengar nya, ia belum mengatakan apapun tuannya sudah lebih dulu mengancamnya. Ayah dan anak benar benar membuatnya susah.


Sky berjalan melewati Calvin dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Duduk bersandar di kursi kerjanya. Tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah pucat pasi Elvira tadi, terlihat lucu di matanya.


"Kau yang sudah menyeret ku ke dalam rumah tangga mu nona. Apa salahnya jika aku yang akan merebut mu dari suamimu."


Membuka layar laptop di depannya dan tersenyum lebar melihat wajah Elvira yang sangat cantik saat pemotretan waktu dulu bersamanya.


"Kita lihat Mark Harrold siapa yang akan di pilih Elvira kau atau aku.?"


Sky tersenyum smirk membayangkan jika Elvira akan menjadi milik nya. Ia yakin jika istri Mark Harrold akan jatuh ke tangan nya.


*


Mark masih di dalam ruangan CEO miliknya. Ia mendesah kasar, mengingat pertengkaran nya tadi bersama Elvira. Elvira tau jika ia pernah menghabiskan malam panas bersama dengan Rosa. Tapi ia tak berselingkuh dengan Rosa, ia melakukan nya tanpa perasaan dan terbawa suasana.


"Apa maksudmu membayar pria untuk memuaskanmu El, apa selama ini kau tak puas dengan permainan yang ku berikan hingga kau mencari pria dan membayar nya demi memuaskan hasrat mu."


Mark menjambak rambut nya sendiri, masih belum percaya jika Elvira merendahkan nya dengan mencari pria lain demi memuaskannya. Padahal selama ini ia dan Elvira selalu bercinta sangat panas menurut nya. Lalu apa kurangnya hingga Elvira berbuat demikian.


"Brengsek.."


Brukk...


Mark menendang tempat sampah yang ada di dalam ruangan nya. Ia mengusap wajah nya kasar, melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


"Sialan, apa Elvira semalam juga menghabiskan malam bersama pria bayaran nya lagi.?"


Agrhh.... "Brengsek...


Mark menjambak rambut nya, nafasnya naik turun menahan emosi yang memuncak.


Tak lama Mark berjalan menuju kamar pribadi nya dan membaringkan tubuhnya di ranjang kecil dan empuk. Lelah memikirkan Elvira yang menghianati nya dan merendahkannya. Tak percaya dengan pemikiran Elvira yang sama sekali tak terduga oleh nya.


Memejamkan matanya membayangkan bagaimana Elvira tega menghianati nya.


Hingga Mark benar benar tertidur pulas, lelah semalam tak tidur kesana-kemari mencari Elvira. Tapi ternyata Elvira membuatnya kecewa dengan pengakuan nya.


*


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku Raline?"


"Baiklah jika kau tak mau memberitahu ku aku akan mencari tau sendiri." Ucap Damian menatap tajam pada istrinya.


"Jangan, biarkan Elvira menenangkan dirinya sendiri dulu. Jangan mengganggu nya, aku sendiri tak tau apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua. El akan mengatakan nya pada kita nanti." Hiba Raline pada Damian. Menatap penuh permohonan pada Damian, lalu menggelengkan kepalanya.


"Memangnya apa yang Elvira lakukan.?" Tanya Damian kembali pada istrinya. Ia yakin jika Elvira sedang tak baik baik saja.


"Aku tidak tau, mereka sepertinya bertengkar. El sama sekali tak mau bercerita dengan ku."


Jawab Raline pada suaminya, menatap Damian memohon agar membiarkan Elvira sendiri dulu. Damian mendesah lirih, ia mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Baiklah, tapi besok jangan halangi aku."


Damian pergi meninggalkan Raline dan keluar dari kamar nya sendiri. Damian memang pria yang tegas, ia tak bisa melihat masalah berlarut larut. Apalagi tentang putri semata wayangnya nya.

__ADS_1


Elvira turun ke lantai bawah dan masuk ke dapur, perutnya berbunyi sedari tadi. Wajar saja sejak kemarin Elvira belum makan sama sekali, terakhir makan saat bersama dengan Mark yang mengajak nya pergi ke pantai pinggir kota.


"Andai perutku tak sakit, aku tak akan makan malam, Mark pasti akan mengatakan nanti aku gen_"


Elvira mendesah lirih, dan mengambil roti lalu mengisinya dengan selai, memasukan kedalam mulutnya.


"Sayang.."


Elvira berjengit kaget saat mendengar suara ibunya lagi. Ia menoleh pada Raline dan tersenyum. "Kau makan malam El." Elvira tersenyum tipis, wajar saja ibunya bertanya, selama ini ia tak pernah makan lewat jam tujuh malam, Mark akan menegurnya jika ia terlihat gendut dan cabi.


"El lapar mom."


"Jangan terlalu menekan apa yang kau inginkan. Untuk apa kau bekerja siang malam jika kau tak menikmati hidup El. Kau harus senang dan bahagia, hanya kau satu satunya anak mommy dan daddy."


Elvira mengangguk mengiyakan ucapan ibunya. Ia mendekat dan mencium pipi Raline. "Ya mom aku akan bahagia." Raline mengangguk dan mengusak rambut Elvira, lalu pergi meninggalkan putrinya di meja makan.


Sedangkan Elvira sendirian mendesah lirih, ia menggelengkan kepalanya jika apa yang ibunya katakan adalah benar. Ia harus hidup bahagia dan tak terlalu banyak aturan yang selalu mengekangnya.


"Kau memang harus bahagia El, ayo semangat jangan terlalu di pikirkan. Hidup lah sesuai keinginan mu seperti kata mommy."


Elvira bangkit dari duduknya setelah menghabiskan roti selai dan masuk ke dalam kamar nya.


Sedangkan Raline yang mendengar suara Elvira tersenyum lebar. Ia tau jika Elvira sebenarnya terkekang bersama Mark, tapi cinta yang membuat Elvira tak seperti dirinya sendiri.


Clekk...


Akk...Hemm..


.

__ADS_1


__ADS_2