
Elvira masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mobilnya meninggalkan perusahaan milik Daddynya. Bibirnya mengumpat dirinya sendiri yang terbawa arus. Terlena oleh Sky hingga ia membalas sentuhan Sky padanya.
"Apa karna aku sudah lama tak bercumbu dan bercinta, memalukan."
Berulangkali Elvira mengumpat tubuhnya sendiri yang aneh.
Sampai di mension Damian, Elvira mengerutkan keningnya saat mendapati mobil siapa yang terparkir di halaman mension.
"Apa Mark datang kemari,"
Elvira keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam. Sampai di dalam Elvira di buat mematung mendengar suara ibunya.
"Surat cerai.."
"Ya nyonya."
*
Raline menatap asisten Mark yang hampir malam datang ke Mension mewahnya.
"Selamat malam nyonya,"
Raline mengangguk dan tersenyum pada asisten menantunya. Raline menatap berkas di tangan Rendra, yang di sodorkan padanya.
"Maaf nyonya, tuan meminta saya mengantarkan berkas ini kemari."
Raline mengerutkan keningnya dan mengambil berkas untuknya dan membukanya.
"Surat cerai.."
"Ya nyonya.."
Raline tak percaya jika Damian akan secepat ini membuat putri mereka berpisah dari Mark Harrold. Raline juga melihat tanda tangan Mark di atas materai. Raline mendesah lirih, jika ternyata keduanya sudah setuju bercerai.
Sedangkan Elvira yang berdiri tak jauh itu mematung mendengar suara ibunya. Ia berjalan menghampiri ibunya dan Rendra.
"Sayang.."
Raline kaget saat tiba tiba saja Elvira sudah berada di depannya.
Rendra sendiri yang melihat istri tuannya berdiri dan pamit undur diri, saat sudah memberikan berkas pada nyonya Raline. Kini tinggal Elvira dan ibunya yang sama sama diam.
Tapi tak lama Raline membuka suaranya.
"El, Mark sudah menandatangani surat cerainya." Ucapnya lirih menatap wajah cantik putrinya.
Sedih dengan status baru yang menyandang Elvira, putri semata wayangnya yang paling di sayangi. Tak percaya jika Elvira akan menjadi janda di usia muda. Apalagi dia belum menjadi seorang ibu, pasti berita miring diluar sana akan semakin panas mendengar perpisahan Elvira. Dan pasti di salah artikan oleh orang lain.
"El tak apa mom."
Jawab Elvira pergi meninggalkan ibunya dan naik ke kamar miliknya. Membawa berkas di tangannya dari Mark Harrold, suaminya. Sampai di kamarnya Elvira membuka berkas di tangannya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ada rasa sakit yang luar biasa saat melihat goresan tinta di atas materai.
__ADS_1
"Kita akan jadi orang asing Mark Harrold."
Tak lama kemudian ponsel Elvira bergetar di dalam tasnya. Damian memberikan kembali ponsel milik Elvira yang di sembunyikan olehnya tiga hari lalu. Dan sekarang ponselnya berdering dan itu panggilan dari Mark. Elvira menetralkan nafasnya yang sesak sebelum menekan tombol hijau.
"Hallo.."
Terdengar hening di sebrang telpon, Elvira hanya mendengar suara hembusan nafas Mark di telinganya.
"Aku sudah menandatangani suratnya El, maaf jika selama ini aku melukai dan menghianatimu El. Aku tetap mencintaimu Elvira, semoga kau mendapatkan pria yang lebih baik dari aku El, maaf sayang."
Tut... Tut...
Elvira masih menempel ponselnya di telinganya, saat mendengar Mark menutup sambungan teleponnya.
Elvira mengusap pipinya yang basah, tertawa perih meratapi nasib cinta dan kisah rumah tangganya bersama Mark. Jika saat Mark menghianati nya saat bercinta dengan Rosa terasa sakit. Tapi sakit yang dulu tak sesakit mendengar penuturan Mark kali ini.
Tanpa sidang di pengadilan Mark sudah menandatangani surat perceraian mereka. Ternyata kisah rumah tangganya dengan Mark sesingkat ini.
Di depan pintu yang masih terbuka, Raline menatap Elvira yang menangis. Apa yang sebenarnya terjadi, sebenarnya Elvira masih sangat mencintai Mark. Tapi keduanya sangat gengsi dan mengedepankan ego mereka masing-masing. Hingga jalan perceraian yang menjadi titik akhir keduanya.
*
"Apa kau yakin Damian, aku merasa Elvira masih mencintai Mark."
Damian menatap wajah istrinya, mendengus mendengar jika Raline membela pria brengsek itu.
"Elvira hanya belum terbiasa, apa kau rela Mark menyakiti Elvira. Kau bahkan tau jika Mark sudah keterlaluan Raline."
"Itu tidak penting."
Raline menghembuskan nafasnya perlahan mendengar jawaban suaminya.
*
Mark sendiri mengusap wajahnya, ia berdiri dan pergi meninggalkan perusahaan dan pulang ke mension mewahnya. Sudah berhari hari Elvira tak mengangkat ponselnya dan kebetulan Elvira mengangkat ponselnya. Hati Mark sangat sakit mendengar suara Elvira. Ia membesarkan hatinya mengatakan pada Elvira jika dia akan mendapatkan pria yang lebih baik darinya.
Sampai di mension mewahnya Mark menghembuskan nafasnya perlahan. Ia harus terbiasa tanpa Elvira mulai hari ini.
"Pelayan,.."
"Ya tuan.."
"Perbaiki ini, secepatnya."
Titah Mark memberikan foto pernikahannya yang ia hancurkan tadi. Mark tak akan membuang dan menghancurkan begitu saja tentang Elvira.
Mark masuk ke dalam kamarnya, dan mendesah lirih. Bagaimana bisa ia melupakan Elvira jika setiap malam ia dan Elvira bercinta di kamar ini. Tak ada yang terlewat setiap malamnya.
"Aku masih belum rela berpisah dari mu El."
*
__ADS_1
Tiga hari kemudian...
Elvira menuruni anak tangga bersama koper di tangannya. Kemarin ia sudah menghubungi sahabatnya untuk berlibur yang sebelumnya di batalkan karna Elvira belum mau keluar rumah dan masih mengurung dirinya. Dan pagi ini Elvira bersama dengan sahabatnya akan pergi.
Damian dan Raline yang melihat Elvira membawa koper di tangannya tersenyum lebar. Damian menghampiri putri semata wayangnya dan mengecup kening Elvira.
"Putri daddy mau liburan, apa daddy dan mommy perlu ikut sayang.?"
Elvira mengerucutkan bibirnya mendengar gurauan Damian. Dan Damian sendiri terkekeh, mengusap kepala Elvira dan mengecupnya kembali.
"Daddy pikir El anak kecil," Damian terkekeh kecil.
Elvira mengecup pipi Damian dan ia melangkah lagi mengecup pipi Raline lalu melambaikan tangannya pada mereka berdua.
"Bersenang senanglah sayang." Teriak Damian lagi.
"Ok dad.."
*
"Akhirnya gue pikir Lo gak jadi pergi lagi,"
"Bukankah kapalnya setengah jam lagi.?"
Elvira mengerutkan keningnya mendengar penuturan sahabat.
"Ya aku tau, tapi aku kabur dari ayahku. Telingaku sakit mendengar ocehannya terus." Sungut Kania.
"Apa..?"
"Dia mau di jodohkan lagi hari ini, tapi justru kabur." Sahut Lara tiba tiba berdiri di belakang Elvira. Kania mendengus mendengarnya, ia menatap tajam pada Lara yang mengejeknya terus.
"Sonia mana..?"
"Gue disini sayang."
Elvira menatap ke atas dan matanya membulat sempurna melihat Sonia dan empat pria di sampingnya.
"Apa apaan ini.." Teriak Elvira.
Baik Lara dan Kania berlari menghindari Elvira yang siap mengamuk pastinya.
"El, kita akan bersenang senang,"
Teriak Sonia dari atas, Elvira menghembuskan nafasnya perlahan melihat tingkah mereka yang di luar dugaannya. Ia menyusul kedua sahabatnya menaiki kapal pesiar mewah yang mereka sewa untuk liburannya.
Menyusul Sonia yang sudah lebih dulu naik di atas.
Elvira dan ketiga sahabatnya menyewa kapal pesiar untuk berlibur di tengah lautan luas. Tak ada yang mereka pikirkan selain bersenang senang. Selagi masih sendiri dan tak punya tanggungan mereka berempat akan kompak dalam segala hal.
"Mereka benar benar gila.." Umpat Elvira.
__ADS_1
Tinggalkan jejak lagi Bun biar semangat OTOR nulisnya.😘