
Mereka mengambil semuanya dariku.
Aku harus melakukan hal yang sama. Dendamku akan tersampaikan secepatnya, kepada para monster.
...***...
Masa kini.
Aku mendarat di jalanan yang lebar, malam hari melakukan misi. Memotong kepala monster hitam dengan pedangku. Lantas makhluk itu langsung hilang menjadi debu. Ada banyak sekali jumlahnya yang harus dilenyapkan.
Di sebelah kanan, jalanan dipenuhi dengan tiga monster setinggiku. Langsung saja, aku berlari dan membasmi ketiganya. Menghilang juga, menjadi debu, habis.
"Di sini!" Huh? Seseorang menemukan anak kecil, berusia sepuluh tahun memegang boneka jahitan, dia keluar dari rumah kecil, sepertinya boneka itu dibuatnya sendiri.
"Jangan tinggalkan aku..." Dia memegang seragamku bagian lengan. Kasihan sekali.
"Tenang saja. Semua makhluk seram di sini akan mati sekalinya mereka menatapku." Aku tersenyum yakin, mengepalkan tangan. Anak itu bersembunyi di belakang kakiku, takut melihat dua monster kecil di depan sana dengan tangan pendeknya yang diangkat tinggi-tinggi.
"Hmph." Aku menggunakan posisi kuda-kuda yang kokoh, bersiap mengayun.
SRET! Kakiku melesat maju, berlari selincah harimau yang sedang marah. JRASSSH! Kedua monster hilang sekali serang.
Srek! Tiba-tiba, kakiku dililit sesuatu.
"!" Di belakang ada monster hitam yang memanjangkan tangannya seperti gurita, mengikat kakiku sempurna ...
BUK! Dia membantingku sekali, membuat tanah merekah. BUK! Dua kali. Kepalaku terasa pening. Bagaimana caranya lepas?!
Saat bantingan terakhir hendak menimpal, rekan prajuritku cepat memotong lengannya. SLASH! SLASH! CRASS! Kedua lengan dan kakinya terpotong habis, lantas kepalanya dipenggal, monster itu hilang menjadi debu.
"Terima kasih." Aku yang mengusap tanah kotor di pipi berkata, dia mengangguk.
"Kita harus membawanya pergi. Hei Falisha, kau bawa dia ke markas." Dia memeluk erat laki-laki kecil itu. Eh? Prajurit itu bilang apa tadi?
"Kenapa harus aku?!" Enak saja, aku di sini ditugaskan untuk membantai monster, bukan membawa anak kecil pulang!
"Ayolah, jaraknya tidak jauh, kok. Hanya-"
"Hanya dua kilometer, cukup jauh!" Aku memotong kalimatnya, berdiri lagi mengacungkan pedang.
"ROAAAR!!!" Teriakan monster datang, seperti hendak membelah ketujuh langit, memekakkan telinga.
WOOSH! WOOSH! Kuhindari kedua serangan itu, CRAT! Menusuk perutnya.
"ROAAAR!!!" Monster menggerung kesakitan, SLASH! Kepalanya berhasil kupenggal. "Kamu bawa dia pergi ke markas! Aku bisa membantai semua monster sialan ini!" Aku berusul pada prajurit itu yang sekarang menggendong anak kecilnya.
"Tidak, kau bawa dia pulang, Falisha." Prajurit berkata tegas, aku menatapnya tidak percaya.
"Kenapa?! Kenapa harus aku, hah?!" Seraya membunuh monster-monster kecil, kudekati mereka berdua.
"Kau masih remaja. Belum boleh mati karena misi apa pun. Aku ingin orang-orang sepertimu merasakan kebahagiaan saat semua monster sudah mati!" Prajurit berseru lancang. Walaupun sedikit ditekan karena bocah kecil itu masih melotot ketakutan.
Ha. "Kebahagiaan."
CRAS!!! Kali ini aku tidak menatap ke arah musuh, langsung saja mengayunkan pedangku ke arah sana. Monster yang hendak menyerang langsung mati, tubuhnya terbelah.
"Kebahagiaanku... sudah diambil. Tidak ada lagi hal semacam itu dalam hidupku." Aku berucap lebih halus, menatapnya datar.
Hening sebentar, menyisakan suara prajurit lainnya yang berusaha membunuh monster, menyelesaikan misi. Kami berdua saling tatap.
Melihat anak kecil itu, wajahnya ketakutan, keringat memenuhi setiap jengkal anggota tubuhnya, dan lain-lain. Aku merasa... seperti mengenang masa lalu itu. Saat kebahagiaanku direnggut pergi.
...
Aku mengepalkan tangan. "Baiklah, akan kubawa dia. Tapi janjilah agar misi ini tuntas dengan segera." Kugendong anak kecil itu, lantas membungkuk memberi hormat.
"Serahkan dia kepada kami!" Prajurit itu tersenyum lebar, maju menyerang monster di belakangku.
__ADS_1
"Pegang erat-erat ya." Ujarku lurus. Lantas, aku berlari pergi, menggendong bocah laki-laki yang membawa boneka melewati makhluk-makhluk berwarna hitam yang serangannya berhasil kuhindari.
Namaku Falisha, perempuan. Umurku enam belas tahun.
Jalanan di sini sepi, sekarang malam hari. Ada peraturan khusus: Warga, rakyat, pejabat, para konsil, siapa pun tidak ada yang boleh keluar pada malam hari kecuali pasukan. Para Monster lebih kuat setelah matahari terbenam.
"Bagaimana... bagaimana caranya kebahagiaan itu diambil, Kak?"
"Hah?" Aku heran menatapnya, sambil lompat dan meninggalkan makhluk gelap yang mengejarku. Kecepatan mereka kalah.
"Tadi Kakak bilang, kebahagiaan Kakak sudah diambil? Itu maksudnya apa?" Bocah bertanya lagi, kenapa tiba-tiba begitu topiknya?
"Kamu tidak akan mengerti." Jawabku santai, kembali melihat ke depan agar tidak tersandung atau menabrak sesuatu hingga kami berdua jatuh.
"ROAAAAAAAR!!!" Seruan monster terdengar lagi, tapi pasukan di dekatku memotongnya habis.
"Aku heran, Kak. Kakak tidak mau membantuku sampai prajurit tadi menyebutkan kata 'kebahagiaan', jadi aku ingin tahu. Mungkin alasan Kakak ingin membawaku pergi ini berhak dimengerti olehku sebagai orang yang diselamatkan." Anak kecil berkata lagi, terdengar lebih pintar. Haduh! Kenapa generasi sekarang harus terlalu pintar, sih?!
Aku menghembuskan napas berat. "Kamu serius ingin tahu?" Masih berlari cepat melewati musuh-musuh.
Bocah mengagguk.
...
...***...
Delapan tahun yang lalu. Siang hari.
Aku sedang bersantai di tempat andalan semua orang saat bad mood. Taman Kebahagiaan. Atau biasanya kusebut Taman Segitiga, karena memang bentuknya segitiga. Dihias dengan rumput yang indah, tempatnya juga cenderung ramai. Dengan hadirnya cahaya terang matahari, tempat ini menjadi taman yang paling indah sedunia.
Aku duduk di salah satu kursi, menyandarkan kepala dengan tangan.
Kenapa aku bad mood? Karena aku kalah lomba matematika. Bocah perempuan ini, aku, selalu peringkat pertama di sekolah, nilai dan keterampilannya sempurna. Tapi kalah lomba matematika melawan anak seumuranku bernama Raphael.
"Haduhh..." Ujarku lemas. Kenapa bisa kalah, ya? Raphael... sehebat apa dia?
"Kamu ke sini juga? Kenapa? Kan kamu menang lomba itu. Juara satu." Aku berkata jengkel. Menatap laki-laki itu yang berdiri dengan santai.
"Aku hanya ingin meminta maaf. Kalau boleh jujur, sikapku di sana tadi agak menyebalkan." Raphael dengan rambut rapihnya dan wajah yang terjaga itu tertawa kecil, duduk di sampingku.
Beberapa hari sebelumnya, Ibu mengajarkanku agar lebih mengerti tentang perasaan orang lain. Jadi aku putuskan untuk bertanya sesuatu padanya.
"Raphael..."
"Panggil saja Raf, Raphael terlalu panjang, kan?" Dia memotong kalimatku, terkekeh lagi.
"Di mana rumahmu? Dan bagaimana metode belajarmu sampai bisa menang lomba itu? Siapa Ayah dan Ibumu?"
...
Jawabannya membuatku terkejut.
"Apa?!" Seruku keras, membuat beberapa orang heran menatapku.
"Sudah satu minggu yang lalu, Fal. Ibu dan Ayahku dibunuh oleh 'Monster'." Raphael masih tersenyum. Kenapa... kenapa bisa dia tidak menangis setelah bicara seperti itu?!
...
Monster...
Berita itu sudah lama, tapi beberapa orang menganggapnya sebagai mitos. Kasus orang yang hilang di berita muncul berkali-kali, jadi aku percaya saja. Dua minggu yang lalu baru ada peraturan bahwa tidak boleh keluar rumah saat malam hari, apa pun itu. Jadi aku menurut saja.
Kasihan sekali Raphael...
"Aku... aku tidak tahu rasanya hidup tanpa orang tua, Raf. Maaf ya kalau aku ada salah." Kataku sambil menunduk. Raphael hanya melambaikan tangan.
Sekarang aku mengerti rasanya... benar kata Ibu. Tidak semua hidup bisa kumengerti. Aku tidak boleh menganggap diriku terlalu pintar. Apalagi galau berlebihan seperti ini hanya karena kalah lomba. Raphael lebih baik, santai menerima keadaan. Bahkan meminta maaf kepadaku yang seharusnya tidak dilakukan...
__ADS_1
Setelah beberapa percakapan dan candaan, aku bisa menyimpulkan bahwa Raphael adalah anak yang baik, hanya saja dia humoris dan sering sekali tersenyum. Setengah jam kemudian, kami berdua memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Raphael bilang dia dirawat oleh pengasuhnya sekarang.
Pukul 19.20, malam hari. Di rumahku.
"Yes! Selamat ulang tahun, Falisha!" Ayah menyiapkan kue di atas meja. Bertepuk tangan dengan riang.
Ibu menyikut lengaku. "Anak Ibu sudah besar, nih!" Dia menyengir lebar, aku bersender imut di pundaknya, duduk di sampingnya dekat meja makan menatap kue cokelat yang lezat.
Ibu dan Ayah adalah... semuanya bagiku. Ayah tidak pernah marah padaku, kaya dan rendah hati. Dia selalu membelikanku makanan jika aku sebal akan sesuatu, membawaku ke tempat bermain kalau aku menangis walaupun aku tidak meminta, wajahnya juga sangat tampan untuk usia tuanya. Sungguh malaikat, dia itu.
Dan Ibu, dia makhluk hidup paling sempurna di muka bumi ini. Belum lagi sifatnya yang bisa membuat semua hati tenang. Selalu tersenyum, bergurau pada orang yang sedang tersakiti, menyegarkan suasana kalau hambar, aku sangat beruntung punya keluarga seperti ini.
"Eh, hadiahku!" Aku menepuk dahi, karena lomba tadi juara dua dan aku dapat hadiah, tapi itu tertinggal di dalam mobil.
Aku bergegas turun dari kursi.
"Tidak apa-apa, biar Ayah saja." Dia berusul, langsung membuka pintu rumah, berlari kecil ke luar.
Kan, dia benar-benar Ayah yang baik-
"AWAS, FALISHA!!!" Ibu tiba-tiba mendorongku jatuh, menyuruh bersembunyi di balik tirai.
Lampu-lampu mendadak mati, hitam, aku tidak bisa melihat apa pun.
Sret! Aku lincah berlari ke belakang, kututup seluruh tubuh dengan tirai berwarna terang di dekat jendela. Aku masih bisa melihat bayangan Ibu.
Dia... ditusuk, oleh seseorang. Bentuknya seperti monster, memakai topi fedora.
Kemudian, sosok pembunuh itu pergi. Dengan kaki yang berguncang dan otak yang masih berpikir apa-apaan yang terjadi, kudekatkan diriku dengan tubuh Ibu yang terkulai, melotot, matanya membuka lebar. Darah keluar sampai berkumpul mengenai kakiku.
"I... Ibu...?" Seluruh tubuhku bergetar, aku menatapnya tidak percaya. Baru... baru dua puluh detik yang lalu, aku bahagia hendak memakan kue ulang tahun. Kenapa... kenapa jadi seperti ini...?
"FALISHA!!!" Ayah langsung menggendongku pergi, ke luar rumah. Di sini hujan lebat, pakaian rapihku dan Ayah basah kuyup. Di jalanan sangat berisik dan kacau, memekakkan telinga, warga-warga berlarian panik, berseru khawatir.
"AKU TIDAK MAU MENINGGALKAN IBU! IBU KENAPA, AYAH?!"
"AKU TIDAK TAHU!"
"KITA LARI DARI SIAPA?!"
"AKU TIDAK TAHU!" Aku dan Ayah bertukar pikiran, masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak kupercaya ini... Ibu sendirian di rumah, sudah meninggal... dia sudah meninggal...
Aku tiba di jalanan yang lebih sepi, masih dibawa lari oleh Ayah.
Krek! Tiba-tiba, suara langkah kaki dari pepohonan lebat di samping kanan datang.
"Falisha, pergi." Dia melepaskan pegangannya, membuatku bebas.
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Ayah!"
"PERGI!!! PERGI DARI SINI!!!" DORR!!! Suara teriakan Ayah mengalahkan petir yang menyambar. Telingaku sakit sekali mendengar keduanya.
Tidak ada pilihan lain... dengan kaki yang bergempa dan tangisan yang hebat, aku melesat meninggalkan Ayah.
CRAT!!! Suara daging yang terpotong di belakang tiba-tiba hadir. Jangan-jangan... itu Ayah yang dibunuh juga...
"TIDAK!!!" Aku tidak berani melihat ke belakang, berlari secara berantakan ke depan. Hujan sempurna mengenai seluruh tubuh dan bajuku. Semuanya hancur lebur. Teriakan seluruh manusia yang berusaha kabur masih ada.
Sepuluh menit aku berlari sendirian, tiada henti. Sekarang aku hanyalah gadis kecil yang terdampar di tempat yang tidak kuketahui. Entah ke mana arahku bergerak sampai sini, tapi masih sama. Kondisinya hujan dan semua masyarakat cemas berseru, berteriak, bergerak ke sana kemari. Beberapa ibu meninggalkan anaknya. Beberapa budak membunuh tuannya di saat seperti ini. Kacau, sungguh kiamat.
Buk! Begitu saja, aku tepar, pingsan. Seluruh tubuhku lemah, aku berbaring di tengah jalan, terinjak beberapa orang, biarkan saja...
Di situlah... kebahagiaanku direbut untuk selama-lamanya... oleh Monster Bertopi Fedora.
Aku akan membunuhnya. Pasti. Suatu hari nanti...
__ADS_1