Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Tantangan Pertama


__ADS_3

BUM!!!


Omni melemparkan peledak, ledakannya membuat asap yang tebal lagi, menutup pemandanganku.


"Komandan Kiara!!!" Seruku cemas.


KRAK...! Komandan membuat pembatas seperti Komandan Yakza, aku bisa melihatnya berdua melalui es yang jernih. Ia sedang berhadapan dengan Omni Peledak.


"Wah, mau duel lagi? Nanti kalah lagi." Dia tertawa, Komandan Kiara hanya tegas mencondongkan pedangnya.


WOOSH! WOOSH! WOOSH! Tiga serangan diluncurkan lincah, omni berhasil menghindar. BUM!!! Peledak ditangkis Komandan, CRAT! Akhirnya omni terluka, lecet medium terbuat di dadanya.


Omni mendengus, mengeluarkan lima tabung peledak. BUM!!! Meledak sekaligus, Komandan melompat ke belakang. SLASH! CRAT! CRAT! Lincah sekali dia menyerang balik, melukai sedikit kaki omni.


Tidak selesai, mereka berdua beradu serangan dengan lincah, hampir tidak bisa diikuti mata telanjang.


"Astaga! Kita harus membantunya!" Ucapku khawatir.


"Jangan, Dek! Omni itu dan Komandan Kiara memiliki bakat yang setara! Walaupun kita membantu, itu hanya akan memperlambat proses!" Pasukan menjawab.


Aku menggigit bibir. Baru kali ini ada duel yang benar-benar hebat. Bertahun-tahun aku bertarung, melihat pertempuran dan peraduan, hanya ini yang terlihat seperti dua bayangan bertukar posisi dengan gesit.


BUM!!!


Omni Peledak menghancurkan es milik Komandan untuk yang kesekian kalinya. "Menyerahlah, kau tidak akan bisa mengalahkanku!" BUK! Dia menendang perempuan yang terjatuh itu.


Komandan Kiara tersenyum, bangkit perlahan sambil menguap darah di bibir. "Aku tidak akan kalah darimu. Tidak akan lagi."


Lantas, kedua pihak kembali bertukar serangan. Puluhan kali Omni Peledak itu terluka, puluhan kali juga es milik Komandan dengan mudah dihancurkan, seolah-olah mereka berdua sudah tahu gerakan satu sama lain.


BUM!!! Komandan menghindari serangan omni.


"Ayolah, Kiara! Kau dan aku tahu apa yang akan terjadi jika kita tetap bertarung!" Omni tertawa, kondisinya tidak kalah parah dari lawannya.


"Tidak juga." Komandan Kiara terkekeh.


"Kita menemukannya! Di sini!" Salah satu pasukan berseru, menarik perhatian semua orang, bahkan kedua orang yang bertarung di dalam es.


"Menemukan apa?!" Aku heran.


"Tempat menuju pusakanya! Pusaka ketiga Daerah Selatan!"


Mendengar itu, prajurit langsung berlari meninggalkan Komandan dan Omni Peledak sendirian.


"Ayo, Dek!" Pasukan yang tadi berseru padaku.

__ADS_1


"Tapi- Komandan Kiara!"


"Tidak apa-apa! Kemampuannya lebih hebat dibanding yang kau kira! Ayo!" Dia menarik lenganku. Azriel dan Yuda juga sudah berlari jauh ke arah jalanan lebar.


Sejenak, aku memutar balikkan kepala. Komandan mengangguk tegas kepadaku. Omni Peledak ingin berlari menuju kita berkali-kali, namun Komandan Kiara selalu berhasil menghadangnya. Di luar fakta bahwa Azriel lebih hebat darinya, Komandan Kiara memiliki keterampilan yang luar biasa.


Lantas, semua orang sudah pergi. Suara pertempuran Komandan dengan Omni Peledak masih terdengar bahkan saat figur mereka sudah tidak terlihat ...


...***...


"Fal!!!"


Yuda memanggilku, ditengah-tengah barisan orang-orang berseragam pasukan yang sedang berlari kencang.


"Ya? Astaga, jangan tanya keadaanku lagi."


"Tidak, kok ... aku hanya penasaran."


"Penasaran?"


"Iya. Mereka berdua itu, aku merasakan aura yang sama seperti setiap kali bertemu dengan Kakak."


"Apa maksudmu?" Aku heran. Yuda sempat-sempatnya sedikit tersandung batu saat melesat, aku tertawa kecil.


"Memang." Wah! Azriel tiba-tiba menyusul di sampingku!


"Bisa dibilang mereka berdua punya hubungan. Tapi entah apa itu, bisa jadi pacar, atau keluarga." Dia melanjutkan kata-katanya, aku dan Yuda antusias mendengarkan.


"Semuanya! Masuk!" Salah satu prajurit membuka pintu kastil besar di depan kami, semuanya berlari masuk.


"Kenapa ada kastil di Pulau Tiga?!" Tanyaku heran.


BUM!!! Suara ledakan di belakang mengalihkan perhatian, bunyinya lebih keras dari sebelumnya.


"Komandan Kiara!!!"


"Cepat, Fal! Kita harus masuk!" Azriel berseru.


"Tapi!!! Komandan-"


"Dia bisa menjaga dirinya sendiri! Hubungannya dengan Omni Peledak pasti spesial! Aku bisa merasakannya!" Dia berteriak, memegang lenganku.


Aku terpaksa masuk ke dalam kastil besar, ruangan di dalamnya begitu lebar dan berisi perabot-perabot layaknya bangsawan, gorden yang rapih, tembok yang bersih, karpet yang kontras, dan barang mewah lainnya.


BAM! Pintu tertutup keras, pasukan terakhir masuk menghembuskan napas. Suasana menjadi sedikit gelap, dan sunyi.

__ADS_1


"Kenapa ada tempat seperti ini? Apakah Daerah Selatan itu kota monarki?" Yuda bingung, tubuhnya bergerak ke sana kemari dengan prajurit lainnya yang penasaran.


Aku mengangkat bahu, masih mengkhawatirkan Komandan.


"Ini adalah museum, Dek. Museum untuk mengenang para leluhur. Tempat ini diblokade sejak adanya monster delapan tahun yang lalu, beberapa dari kami belum pernah pergi ke tempat ini, tidak ada yang menduga, di sini sangat luar biasa." Pasukan yang tadi menemaniku menjawab dengan pelan. Aku ber"wow" pelan.


"Tidak ada waktu untuk main-main! Ikut aku!" Prajurit di kejauhan sana berseru tegas, dia yang bilang menemukan pusaka ketiga tadi.


Setelah beberapa kontak mata, kami semua mengikutinya. Menuju pintu yang besar di ujung ruangan.


Saat dibuka, isinya nihil, tidak ada suara, cahaya, atau apa pun.


"AWAS!" Aku berseru, anak panah hendak meluncur membunuh pasukan di depan.


CRAS! Dia gesit membelahnya dengan pedang cahaya.


Lampu-lampu akhirnya menyala, menunjukkan ruangan yang menjorong ke depan dengan tembok berwarna putih susu. Ada banyak lubang di tembok yang menjadi asal anak panah itu muncul.


"Berlari!!!" Orang yang di depan memerintah, kami semua berkumpul dan bergerak sekencang mungkin menuju ujung ruangan, ada pintu lagi di sana.


ZUNG!!! Aku membentangkan tangan, tameng transparan melindungi kami semua.


"Terima kasih!" Satu orang berseru.


Lantas, kami sibuk menginjakkan kaki melewati ratusan anak panah yang menghantam tamengku.


WOOSH! WOOSH! WOOSH! Tiga anak panah yang berapi membuat tameng meletus, aku terkejut merasakan panasnya.


"Menunduk!!!" Sial! Kali ini semuanya berapi! Ruangannya panas tiada banding! Ada apa dengan para leluhur?!


"Tiarap!!! Bergerak sambil berbaring! Jalan!!!" Ini menyebalkan!!! Sekarang kita harus melata seperti ular. Untung saja anak panah berapi ini tidak akan mengenai kita kalau tiduran.


CRAT!


"AGH!!!" Salah satu orang berteriak. Aku dengan cepat memutarkan kepala, dia ditusuk oleh pasukan di belakangnya.


"Hahahaha, tidak akan kubiarkan kalian lolos. Pusaka itu milik kami!" BWUSHHH! Itu omni! Omni yang menyamar menjadi pasukan! Dia pasti diam-diam masuk saat kami berlari menuju kastil.


Perawakannya tua, memakai pakaian orang kantoran. Namun yang menarik perhatian, Seluruh tubuhnya berapi, tapi dia tidak terganggu sama sekali.


Omni Api, haduh ...


Dia mulai membuat keributan, membuat api yang membakar beberapa orang. Azriel dan beberapa orang di belakang sana mencoba melawan.


Aku bertekad tegas, membuat tameng yang lebih kuat agar mereka terlindungi dari anak panah. Peduli setan kalau rasanya sakit, aku belum boleh mati.

__ADS_1


__ADS_2