Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Arkane


__ADS_3

Leonardo dan Arkane berhadap-hadapan di samping pohon, mereka menjulurkan pedangnya. Perbandingan tubuhnya beda jauh, lebar Arkane dua kali Leonardo, dan juga dia lebih tinggi. Aku masih berusaha bangkit, pukulan tadi benar-benar di luar dugaan...


Ack... lenganku yang tertusuk waktu itu terbuka lagi...


Tidak apa-apa... baj*ngan ini melukai sahabatku, aku harus, melenyapkannya...


Gah! Sial... tidak bisa digerakkan! Aku tidak bisa berdiri! Leo harus kubantu kalahkan Arkane!


BUM! Arkane meleset menyerang, pedangnya menghantam tanah. Leo maju memotong tangan Arkane, GRASH! Tangan Arkane beregenerasi, muncul lagi. Bagian yang terpotong hilang menjadi abu.


"Menjengkelkan..." Leo menyengir geram.


WOOSH! Arkane langsung berada di kiri Leo, BUM! Pedang besarnya meleset, menyangkut di pohon. Arkane berusaha mengambilnya. SLASH! SLASH! SLASH! Leo lincah memotong tangan, kaki dan kepalanya, semuanya banglas, GRASH! Astaga, tangan, kaki dan kepalanya muncul lagi!


WOOSH! WOOSH! Pedang besar berhasil lepas dan diayunkan kemana-mana, BUM! Sekarang melanda tanah, Leo hanya menghindar sambil mundur.


Leo tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang...


Kalau begini, kita tidak bisa menang... pantas saja para pasukan gagal...


Setidaknya aku harus berhasil berdiri, kumohon... kutahan berat seluruh tubuku dengan tangan kanan, dadaku masih terasa sakit... ayo, sedikit lagi...


BUM! Arkane memukul tubuh Leo, memaksanya mundur lima langkah.


Yes! Aku berhasil berdiri!


WOOSH! "Berhasil, ya...?" Monster itu dengan cepat berada di depanku, melotot.


BUM! Aku menunduk, pedang Arkane mengenai pohon sekitar, aku berlari melewatinya menuju Leo.


"Kau tidak apa-apa?" Dia bertanya, berdiri di sampingku, aku hanya mengangguk, mataku masih tertuju ke monster itu...


Seperti baru bertemu, Arkane tidak terluka sama sekali... berdiri sempurna, dengan pedang besarnya disandarkan ke punggungnya.


"Menyerahlah, lemah. Kalian tidak bisa mengalahkanku." Ucap dia bangga.


"Ada satu cara untuk membinasakannya." Leo berkata halus, menarik napas ringan.


"Apa? Dengan kemampuannya itu? Bagaimana caranya?" Seluruh tubuhku menghadap Leo, ingin mendengar jawaban darinya.


"Kalau kusebutkan, monster itu akan tahu... jadi tugas kita sekarang adalah mengulur waktu sampai kuberi sinyal... saat sinyalku tersampaikan, kau lari sejauh-jauhnya dari dia, oke?" Kepalanya menghadapku, berkata lurus.


"Oke. Eh, sinyalnya apa?" Aku bertanya.


"Bakso kotak, itu sinyalnya." Dia menjawab.


Bakso kotak... Leonardo...


Tidak ada waktu untuk komplain, aku mengangguk setuju, kami memanggul pedang ke depan, cahaya putih pedang kami berdua membuat terang sampai tiga langkah, Arkane berjarak 25 langkah dari kami, wajahnya bahagia sekali...


ZRUNG! Astaga, bagian pedang besi milik monster itu turun, dan naik lagi sebagai pedang cahaya sekarang! Sama seperti pedang kami!


"Hei! Lebih adil kalau begini, bukan?!" Dari jauh dia berseru, sombong melihat pedangnya.


Sungguh, dari mana mereka muncul? Dan siapa yang membuat senjata untuk mereka?!


WOOSH! Arkane berlari cepat menuju kami, begitu juga sebaliknya.


ZUNG! Pedang Leo beradu dengan milik Arkane, aku hendak menyerangnya, berhasil ditangkis, Leo membidik kakinya sekarang, ditangkis lagi. Aku maju, mencoba menusuk kepalanya, ZUNG! Ditahan oleh Arkane, pedangku beradu, SLASH! Leo berhasil memotong tangannya, pedang monster itu jatuh, CRAS! Aku memenggal kepalanya, BUK! Leo menendang Arkane jauh-jauh.


GRASH! Tubuh Arkane tumbuh lagi, berlari mengambil pedang itu dan ZUNG! Beradu pedang denganku, kubidik kepala, ditangkis, kubidik badan, ditangkis, ZRUNG! Serangannya berhasil kuhindari, CRAT! Aku berhasil memotong tangannya, CRAS! Leo memenggalnya, kami berdua mundur empat langkah.

__ADS_1


GRASH! Regenerasi, Arkane langsung maju lagi, ZUNG! ZUNG! ZUNG! Beradu pedang denganku, CRAT! Leo memotong kaki kanannya, BUK! Arkane memukul Leo, membuatnya terpental jauh. CRAT! Aku memotong kaki satunya, BUM! Dia hendak memukulku tapi meleset, BUM! Akhirnya kena, aku dipukul jatuh.


ZAP! Leo gesit maju, beradu dengan Arkane sekarang, memberiku waktu untuk memenggal kepalanya lagi. CRAS! Kepalanya berhasul kupotong!! DUM! Tubuh Arkane dipukul mundur oleh Leo.


WOOSH! DUM! Kepalaku dihantam cepat oleh Arkane, aku jatuh ke belakang.


Ayolah, bangun... bangun!


!


BUM! Serangan pedang Arkane ke arahku meleset, aku hindari, lantas langsung berdiri. CRAS! Leo memenggal kepalanya, DUK! Aku memukul tubuhnya jauh, memberi waktu lagi untukku dan Leo mundur.


"Terus!" Leo memberi semangat.


"Haduh... merepotkan!" BUM! Pedang besar Arkane keras menghantam tanah, membuat lumpurnya naik berantakan dan mengotori pakaian kami.


DUK! Arkane menendang Leo dengan keras yang sedang menutup mata karena terkena tanah, dia terlempar jauh.


CREK! Monster itu menahan lengan bawah kiriku, cengrakamannya kuat.


"Ah... luka, ya? Bagaimana kalau aku melakukan ini?!" KREK!


"AAAAAH!" Monster sialan itu menyentuh lenganku di lukanya!


SLASH! Leo memenggal kepala monster itu dari belakang, lantas membawa tubuhku menjauh.


"Maaf!" Dia berseru, aku berusaha menahan sakit ini sekuat mungkin... tapi tidak bisa, tubuhku langsung lemas semua...


Tidak, Raphael... demi dia... aku tidak boleh menyerah!


GRASH! Kepala Arkane kembali beregenerasi, tawanya semakin kencang.


"Sadarlah! Hei! Kalian pasti kalah!" BUM! Tubuh besarnya melesat cepat ke arah kami, aku dilempar terpaksa oleh Leo.


Aku bergegas membantunya, CRAT! Aku memotong tangan Arkane yang memegang pedang, ZUNG! Leo langsung memotong kepalanya lagi.


"Sudah?!" Aku menghadap Leo, menunggu dia mengatakan "Bakso kotak." Tapi ini terlalu lama!


"Belum!" Dia menjawab.


Eh? Tubuh Arkane menghilang!


CRAT! Celaka! Kaki Leo diserang olehnya! Gerakannya sangat cepat! Dia langsung mencekik Leo, mengangkatnya!


ZRUNG! Aku mencoba memotong lengan Arkane, tapi tanganku ditahan olehnya, sekarang dia menahan kami berdua...


"Hehe." DUK! Kepala besar Arkane menyundul kepala Leo, keras sekali sampai berdarah dan tidak sadarkan diri...


"LEONARDO!" Seruku khawatir.


DUM! Tubuhku dipukul keras, terpental jauh-


KRAK! SIAL! Aku mendarat dengan lengan kiriku... membuatnya patah, lengan yang sama dengan luka tusuk itu...


Arkane dengan santai membanting tubuh Leo ke tanah, lantas menginjaknya bertubi-tubi.


Aku kalah... dengan semua tekad, semangat dan percaya diri itu, aku tetap kalah...


Aku berbaring tidak berdaya... menghadap ke atas, bintang-bintang saja tidak ada, terhalang oleh awan tebal... sepertinya sebentar lagi akan hujan...


Terdengar pijakan kaki Arkane yang berisik itu, dia mendekat ke arahku.

__ADS_1


Hahahahaha... bahkan sampai akhir hidupku, aku gagal melakukan apa pun yang berguna... meminta maaf pada orang yang melindungi namaku saja gagal, orangnya meninggal duluan...


Di alam baka nanti... aku harus meminta maaf padanya, aku rela memotong tanganku seribu kali demi dia...


Raphael, tunggu aku di sana, ya...


...


SLASH!


"Siapa lagi kau?!" Terdengar seru Arkane yang berisik, suaranya terdengar keberatan sekali... apa yang terjadi?


Dengan lengan yang patah, aku mencoba berdiri sekuat tenaga...


Berhasil...


Woah... seorang perempuan, datang, bergerak ke sana kemari memotong tubuh Arkane berulang-ulang, walaupun beregenerasi lagi, tapi tanpa henti dia berhasil memotong tubuh monster itu... tidak memberi waktu untuk membalas...


Leo bangkit lagi, membantu perempuan itu... sepertinya dia pasukan nomor 112 yang dipanggil tadi...


ZUNG! Wanita itu berhasil memenggal kepala Arkane untuk yang kesekian kali...


"Terus seperti ini!" Leo berseru semangat, sambil membantunya.


"Dasar pengganggu!" Ucap Arkane geram, dia melompat tinggi, hendak melakukan trik lumpur tadi, Leo dan wanita itu segera menjauh.


BUM! Pedang besar itu menghantam lumpur, membuat tanah coklat ini menyebar kemana-mana lebih banyak dari sebelumnya, aku menutup mata dan lenganku yang patah.


"Fal...?"


!


Di belakangku, terdengar suara yang sangat kukenal.


Aku memutar balik, langsung seketika menangis... Raphael masih hidup!


"RAPHAEL!" Aku menatap tidak percaya, lantas berlari mendekat, membantunya duduk, dada dan perutnya terluka parah, lumayan besar dan terlihat dalam, wajahnya sedikit kotor oleh lumpur, dan lemas sekali...


"Tapi... aku kira..."


"Apa? Aku sudah mati? Aku tidak lemah, Fal..." Dia terkekeh, terbatuk sedikit.


"Raf aku minta maaf, sungguh aku minta maaf atas perkataanku... kamu adalah orang yang paling mengerti tentangku selama ini... maaf Raf, maaf..." Aku duduk bersamanya, mengeluarkan isi hatiku, kukira dia sudah tidak akan kembali lagi... tingkah menyebalkannya... lelucon aneh dan tawanya itu akan menghilang selamanya... ternyata tidak...


Dia menatapku datar, lalu tersenyum halus, memegang bahuku...


"Katakan itu sepuluh kali, baru kumaafkan." Dia menyengir.


...


Astaga ...


"Kau pasti bercanda..." Aku tidak terima.


"Ya, cepat. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu." Raphael membalas, wajahnya menahan tawa.


"Oh ayolah!" Aku memohon.


Wajah Raphael mendekat, kali ini senyumannya seperti make up badut, anak ini...


"Raphael, aku minta maaf. Raphael, aku minta maaf. Raphael, aku minta maaf. Raphael, aku minta maaf. Raphael, aku minta maaf. Raphael aku- AHH KENAPA AKU MENURUT?!" Aku menurut, alhasil? Raf tertawa, di tengah suara pedang cahaya yang bertempur di belakang kami, tawanya lebih berisik...

__ADS_1


Tapi... lebih baik begini, daripada kehilangannya... aku terkekeh, ikut tertawa bersamanya...


__ADS_2