Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Siapa Dia?!


__ADS_3

Kami, tepatnya aku, Raphael dan Yuda mengucapkan selamat tinggal kepada Jennifer dan Komandan Yakza setelah memberikan serum itu kepada ilmuan di markas. Leonardo juga ikut bersalaman dan memeluk Jennifer atas rasa hormat dan terima kasih padanya.


Tentang omni yang meledak, Leo akan segera melaporkannya. Pasti ada sebabnya dia bertingkah seperti itu.


Melihat komunikasi mereka, Leo dan Komandan Yakza sepertinya sudah berteman sejak lama. Mereka mirip dengan adik dan kakak yang akur dan hebat dalam pertempuran...


Aku segera pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Bruk! Begitu saja, sudah tidur berbaring di kasur. Nyenyak sekali.


...***...


...


"Hoaaaahnmmmm..." Astaga... enak sekali tidurku tadi. Kuregangkan seluruh tubuh di kasur, nikmat sekali, hah...


Cahaya matahari menembus jendela kaca di kamarku, mengenai leher sampai pinggangku. Rasanya hangat dan adem setiap kali kumerasakan sensasi ini. Seandainya saja seluruh hidupku hanya menikmati kelembutan kasur dan kehangatan matahari di pagi hari sampai mati, haduh...


Tep! Tep! Tep! Tep!


Akibat misi kemarin, aku jadi sangat lapar. Sekarang pukul tujuh pagi hari. Aku bergegas menuju meja makan, duduk di kursinya dan bersiap akan sarapan apa yang disiapkan markas pagi ini.


Zret! Bagian dari meja terbuka, ayam panggang? Tumben sekali.


Lima belas menit, makananku sudah habis. Sebenarnya aku makan tiga piring ayam panggang, menelepon Leo agar disiapkan lagi sebagai hadiah misi kemarin, dia sempat marah namun akhirnya setuju, klasik Leo, hahahaha...


Grup di ponsel juga masih seramai sebelumnya. Kecuali satu hal, kita jadi tidak tahu kapan saja Jennifer siap untuk chatting, jadi agak lebih sepi semenjak dia pergi. Tapi tidak apa-apa, semoga dia baik-baik saja di sana bersama Komandan Yakza. Kalau dipikir-pikir, mereka berdua hebat, pasti akan bertahan.


Aku bersantai di sofa menatap televisi, menikmati acara pagi yang kutunggu-tunggu, kartun.


Kenapa? Kamu ada masalah dengan remaja enam belas tahun yang suka menonton kartun? Lebih baik daripada melihat hal yang tidak-tidak, bukan? Bersyukurlah kalau aku tidak pernah melihat yang seperti itu, buang-buang waktu.


Setengah jam aku menonton acara itu, dibatasi oleh iklan yang lebih lama daripada kartunnya, menyebalkan...


...


Jennifer... dia berhasil melawan masa lalunya. Dia melepaskan wajah dan rupa palsunya itu, hebat...


Apakah aku... harus melakukan hal yang sama? Haruskah kulawan ketakutanku terhadap tempat itu? Taman Segitiga?


Selintas, kenangan buruk itu kembali lagi. Argh... walaupun itu bukan karena Monster Bertopi Fedora alias Logan, tetap saja menyeramkan, melihat Ibu ditusuk di balik tirai malam itu.


...

__ADS_1


Mungkin aku harus melakukannya. Benar! Aku akan melawannya seperti Jennifer! Aku akan mengunjungi Taman Segitiga dan melawan kenangan buruk itu!


Sret! Lincah aku sudah menggunakan seragam dan menyiapkan pedang cahaya. Sudah siap, kumatikan televisi dan membuka pintu rumah.


Belum terlalu panas di luar sini, namun sangat cerah dan elok dilihat. Aku selalu menyukai cahaya pagi hari, mengingatkanku atas hal yang sangat kusukai dalam hidup, harapan.


Sudah kukatakan ini berkali-kali, tapi tetap saja. Di sini sangat sepi. Agak shock rasanya melihat kota yang selalu ramai dan berisik menjadi diam dan sunyi begini, sayang sekali.


Tapi tidak apa-apa, dalam waktu dekat mereka pasti akan kembali. Kak Liona, Ibu Hiva, Mr. John dan semua guru-guru di sekolah, Nessie, Stella, teman-teman lainnya, semuanya akan segera pulang. Sekalinya kita mengungkap semuanya, akan selesai sudah masalah ini dan mungkin aku akan tetap menjadi pasukan, mungkin untuk perang melawan negara lain...


Sret! Sret! Sret! Sret!


Eh?


"Aku tidak mau! Kau siapa menarik-narik kami sampai ke sini?! Lepaskan aku!" Aku mendengar suara dari gang yang tidak bisa kulihat di sebelah kiri di depanku. Suara itu mendekat, sebentar lagi mereka akan keluar. Aku menjulurkan pedang cahaya, waspada.


"Hanya sementara. Aku ingin memulihkan kalian." Suara yang ini berbeda, lebih muda dan tegas, seorang perempuan.


"Argh! Aku tidak butuh pulihan darimu! Kau pikir kau siapa?! Hah?!" Sekarang berbeda lagi. Perempuan juga, namun lebih dewasa.


Ada tiga orang, ada juga suara gesekan di tanah muncul berbarengan dengan mereka setiap dua detik.


Ini jelas-jelas aneh, bukan hal yang biasa. Omni...?


Tiga omni? Gawat... aku pasti akan mati. Eh, jangan... Komandan Yakza tidak akan pernah mundur, aku juga tidak akan.


Sret! Sret! Sret! Sret!


Akhirnya mereka muncul, walaupun tidak melihatku, tapi sudah jelas. Ada satu sosok tinggi perempuan, berambut pendek dan memakai seragam pasukan. Tapi... eh? Itu...


Itu Dzar dan Ava! Mereka berdua berdiri di samping sosok wanita itu! Dua omni itu dijebak dalam es yang sangat tebal, hanya kepalanya yang bebas dan mereka maju mengikuti wanita berseragam! Terlihat seolah-olah wanita itu yang membuat mereka bergerak!


Pengkhianat! Mereka ingin dibawa kabur olehnya! Seorang pasukan ingin membebaskan omni!


"HENTIKAN!" Aku berseru sambil maju. Bersiap melepaskan serangan. Tidak akan kubiarkan wanita ini membawa Dzar dan Ava pergi! Mereka harus tetap di ruangan tahanan omni!


BRUK!!!


Eh? Apa?! Ce... cepat sekali! Dia membantingku ke tanah dan mengunci tanganku hingga pedang cahaya milikku jatuh!


Siapa... siapa dia sebenarnya...?

__ADS_1


"Wah, kau?" Dzar yang masih membeku terkekeh.


"Aku pernah melihatmu sebelumnya! Ya... ya! Kau orang itu! Yang mengalihkan perhatianku saat Hari Pembantaian!" Ava menimpali, dia juga ikut tertawa.


"Mengalihkan perhatian?" Kali ini suaranya lebih berat. Itu suara wanita yang menyerangku.


"Gh... siapa kamu...? Kenapa kamu membawa mereka kabur?" Aku berbicara sekuat mungkin, tenggorokanku terhalang oleh tanah, wanita ini hebat...


"Bukan urusanmu. Sekarang pergilah." Dia berkata, lantas melepaskanku, membuatku bebas.


Aku terbatuk sekali dua kali. Menepuk-nepuk seragam dan berdiri tegak seraya mengambil pedang cahaya.


Wajahnya lebih jelas sekarang. Muda, lebih tinggi dariku, perempuan yang cantik dan tegas. Seragamnya...


Eh...


Aku pernah melihatnya... tapi di mana?


"Kenapa? Pergi sana." Wanita itu berkata keras, lalu membelakangiku, bergerak santai menuju Dzar dan Ava.


"Oh tidak... hei, kau! Hentikan perempuan gila ini!" Dzar berseru padaku. Aku juga sama bingungnya, apa tujuannya?!


"Kamu ingin membawa mereka kabur! Benar, kan?!" Aku maju lagi dengan cepat.


BUK! BUK! BUM!!!


"Gah...!" Mulutku terbuka lebar, dia memukul perutku dua kali kemudian membantingku kencang ke atas tanah.


"Kubilang pergi." Wanita itu masih santai, dia mengusap sedikit seragamnya di bagian tangan. Kembali berdiri tegak menatapku. Sangat ... keren...


Aku masih berusaha bernapas kuat-kuat, bantingan dan tenaga miliknya tidak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan... mungkin dia lebih kuat daripada Leo.


Dan yang paling membingungkan, kenapa Dzar dan Ava bisa membeku begitu?!


"Tunggu!" Aku berdiri dengan cepat, kembali mengacungkan pedang.


"Apa lagi?"


"Jawab aku, kenapa kamu membawa mereka pergi?!" Aku bertanya tegas, lebih marah.


"Itu. Bukan. Urusanmu." Dia melotot, suaranya semakin dalam. Sejenak kedua kakiku bergetar hebat.

__ADS_1


Siapa dia sebenarnya?!


__ADS_2