Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Apa...?


__ADS_3

Kepalaku sakit... pusing... tubuhku sangat lemas dan nyeri... aku... pingsan...?


Perlahan, kubuka mataku. Pandangan hitam penuh diganti menjadi...


"Ah, kamu sudah bangun ya?" Seseorang berkata dari belakang, aku terbaring di sofa. Ini adalah sofa rumah lamaku yang lama.


Tunggu dulu, temboknya... meja makan di belakangku, penataan dan warnanya. Aku sedang berada di rumah lamaku?!


Cyut...


"Ack..." Kepalaku nyeri lagi, aku menahannya dengan tangan.


"Maaf ya karena memukul. Kemampuan bertarung milikmu sangat menakutkan." Dia melanjutkan, mulai menghampiriku. Membawa teko kecil dan gelas, meletakkannya di meja depan sofa.


Dia mulai menuangkan airnya ke gelas, aku bisa melihat wajahnya.


...


"Bagaimana kabarmu, putri?" Itu adalah Ayah... Ayah yang membawaku pergi, Ayah yang dibunuh oleh monster! Ayah yang teriakannya mengalahkan petir! Ayah! Dia berada di hadapanku! Apa... apakah aku sudah mati?!


Gelas sudah penuh, dia menawarkannya padaku.


"Ini, minumlah." Ayah menimpali, aku menerima gelas dengan kedua tangan. Menatapnya sebentar, lantas melihat wajah Ayah lagi. Apa maksudnya ini...?


"Sekolahmu bagus? Bagaimana dengan teman? Oh, kamu pasti punya banyak ya. Hahahaha." Dia terkekeh, wajah tertawa itu kembali. Kenangan yang hilang mulai teringat.


Aku bisu, benar-benar bisu. Satu, kenapa aku di sini, apakah Ayah yang membawaku? Dua, di mana pedang cahayaku? Tiga, dan yang paling penting, bagaimana cara Ayah melesat sangat cepat tadi?


Jangan-jangan, Ayah menjadi omni?


...


Cahaya matahari melewati jendela rumah, membuat cuaca agak panas.


"Rambutmu, Fal... semakin panjang saja. Tidak pernah dipotong ya?"


...


"Fisikmu juga tambah kuat ya, hahaha. Aku bangga padamu."


...


"Tunggu, tahun ini. Kamu pasti enam belas tahun kan? Wah, sangat cepat ya!"


...


Hening, aku tidak bisa berkata-kata. Tubuh ayah dilapisi pakaian hitam.


Ayah menghembuskan napas, meletakkan gelas itu kembali ke meja.


"Baiklah, aku yakin kamu menginginkan jawaban dariku." Dia berdiri, hendak menjelaskan sesuatu.


"Dengarkan baik-baik." Ayah menuangkan air ke gelas yang baru.

__ADS_1


"Semua yang kamu dengar, semua yang dikatakan oleh pasukanmu itu tidak semuanya benar. Kami, Ayah juga termasuk. Adalah korban dari eksperimen seorang ilmuan gila. Tidak ada di antara kami yang jahat.


"Falisha, sebaiknya kamu jangan terlalu percaya dengan mereka. Bisa jadi, apa pun yang mereka ajarkan padamu, akan menyerangmu kembali." Ayah mendekatkan tangannya, membenarkan rambut panjangku.


"A... a..."


"Ya? Ada yang ingin ditanyakan, Fal?" Dia membalasku yang terbata-bata.


"Apa... bagaimana... bagaimana caramu hidup...? Aku mendengar suara itu, suara daging yang terpotong. Itu bukan suaramu?" Aku berusaha mengendalikan diri, bertanya sebisanya.


Hening, Ayah menatapku tajam.


"Bukan. Aku selamat, Fal." Jawabnya lurus, berjalan mendekat, lalu dia duduk di sampingku.


"Hari itu, saat aku ingin mengambil hadiah lomba matematikamu. Adikku, Logan, datang dan berseru padaku. Dia bilang ada monster berukuran medium yang masuk ke dalam rumah. Jadi kumatikan listriknya agar dia tidak bisa melihat.


"Sayangnya, monster itu melihat Ibumu duluan dan membunuhnya. Logan datang untuk menyelamatkannya, tapi terlambat, monster yang membunuh Ibumu sudah pergi duluan, jadi Logan mengejarnya sampai luar. Aku membawamu kabur, saat kita mendengar suara langkah kaki, kupikir itu adalah monster tadi. Jadi aku menyuruhmu pergi agar kamu selamat. Ternyata itu adalah adikku. Dia datang dengan memotong monster yang membunuh Ibumu. Jadi suara daging yang terpotong itu bukan berasal dariku." Dia menjelaskannya dengan perlahan, mencoba agar aku bisa mengerti semua hal yang dijelaskannya.


Tunggu... monster berukuran medium? Lalu... Monster Bertopi Fedora itu?


"Logan adalah orang yang memakai topi fedora itu, Fal. Beliau bukan orang jahat, dia punya kegemaran sendiri tentang topi fedora, menyukainya dari kecil." Ayah terkekeh, meminum gelas miliknya.


Jadi... Logan adalah Monster Bertopi Fedora yang terlambat menyelamatkan Ibu? Dia yang membunuh monster medium itu? Dia bukan orang jahat selama ini...?


...


Aku masih punya banyak pertanyaan...


BUM!


"Itu dia! Komandan Leonardo! Jendral Besar Karlo!" Seru salah satu orang, dia menunjuk ke arahku.


"Fal, ingat kata-kataku. Tidak semuanya bisa kamu percaya." ZEP! ZEP! ZEP! BUM! Ayah bergerak cepat hendak pergi, tembakan kekuatan Jendral Besar meleset, Ayah berhasil kabur.


Hening sejenak, menyisakan aku sendiri di dalam rumah. Dan semua pasukan yang menatapku.


"FAAAL!" Raphael berlari masuk, melewati rombongan pasukan, bahkan Jendral Besar. Wajahnya sangat cemas.


"Astaga! Fal! Kau, kau tidak apa-apa, kan? Kan?!" Dia memegang erat bahuku, menggoyangkannya-


"Syukurlah, syukurlah kau tidak mati. Astaga, sudah empat jam semua orang mencarimu, saat kami semua terbangun di stadion, aku panik, sangat panik. Hingga Karlo datang untuk membantu, urusannya di Daerah Utara sudah selesai. Semua rumah kami masuki, hancurkan, dan periksa. Semuanya, sampai pada rumah ini. Akhirnya kami menemukanmu..." Raphael mengusap air mata, dia sangat mengkhawatirkanku ya...


Aku balas memegang bahunya, memeluknya, tersenyum yakin. "Terima kasih, Raphael. Aku tidak apa-apa... terima kasih banyak."


Leo mendekat, memelukku sangat erat.


"Bodoh. Aku sangat bodoh." Dia berkata, pelukannya berguncang, dia sangat takut.


Kubalas memeluk tubuh Leo, tidak akan melepaskannya.


"Leo... syukurlah..." Aku lega, dia baik-baik saja.


Perlahan, langkah kaki keras mendatangi kita. Jendral besar melihatku, wajahnya tegas namun khawatir. Dia mengangguk singkat. "Falisha."

__ADS_1


Aku balas mengangguk, "Jendral Besar Karlo."


Sejenak aku melihat Yuda yang lega, tersenyum jantan, melambaikan tangannya. Kubalas dengan mengacungkan jempolku, masih memeluk Leo.


...***...


Aku tidak mengerti, sungguh.


Apa maksud Ayah? Pasukan Penjaga Kedamaian tidak bisa dipercaya? Bagiamana caranya dia bisa menjadi omni?


Sekarang kami semua berkumpul di depan rumah lamaku, beberapa orang kelelahan, memeriksa tubuhnya. Beberapa orang menatapku khawatir, apa lagi teman-temanku. Leo yang paling panik, dia tidak mau meninggalkanku selama sebelas menit, walaupun akhirnya dia dipanggil oleh Jendral Besar. Disuruh berdiskusi akan sesuatu.


"Kau sungguh tidak apa-apa, Fal?" Yuda bertanya, berdiri di belakangku yang sedang duduk.


"Ya... tadi pusing sebentar. Tapi sekarang sudah sembuh."


"Serius? Omni Cepat itu hanya memukul kepalamu?" Raphael memastikan, dia duduk di sampingku. Napasnya tersengal.


Aku mengangguk.


Tapi... haruskah kuberitahu mereka bahwa omni itu adalah Ayahku?


...


Aku jadi teringat.


"Bagaimana dengan Jennifer?" Tanyaku cemas, semoga dia baik-baik saja...


"Leo bilang markas sedang merawatnya, sejauh ini aman." Yuda membalas.


Aku mengusap dada, syukurlah...


"Bagaimana dengan hasil Hari Pembantaian? Apakah... apakah semuanya sukses? Berhasil?" Aku melanjutkan.


"Soal itu, di Daerah Barat dan Utara bisa dipastikan, semua sarang monster sudah habis." Raphael mengusap keringat di dahi.


Begitu, ya...


Tapi Ayah-


"Baiklah, Hari Pembantaian di sini sudah selesai. Tunggulah tronton yang akan menjemputmu menuju markas. Di sana kalian akan mendapatkan perawatan penuh." Leo memerintah, semua pasukan mulai duduk, beberapa dari mereka tersenyum riang. Lega dan bahagia.


"Falisha." Jendral Besar memanggil, berdiri di depanku. Dengan cepat aku berdiri. Serentak kepalaku pusing lagi.


"Tenang saja, tidak perlu buru-buru begitu." Balasnya singkat.


"Kalau sudah siap, kita bisa bertemu di markasku. Aku ingin membicarakan sesuatu." Dia berkata tegas, setelah beberapa detik, aku lamat-lamat mengangguk.


Wah... empat mata dengan Jendral Besar? Sepertinya itu akan menakutkan...


Singkat waktu, kami semua sudah kembali ke markas. Memang benar Kak Liona sudah pergi, tapi ada beberapa dokter khusus yang siap merawat pasukan setiap waktu, dan soal itu aku baru tahu akhir-akhir ini, astaga...


...

__ADS_1


Ayah adalah omni. Ayah masih hidup. Ayahku, adalah penjaga sarang stadion itu...


Sekarang... aku harus berpihak kepada siapa...? Monster? atau Manusia...?


__ADS_2