
Kembali ke Leonardo's Reservation.
Mendengar semua itu, aku benar-benar sedih, menatap kepalanya yang menunduk menceritakan semuanya...
Raphael tidak lagi melawan, sekarang dia mengerti apa yang dialami Yuda.
Jennifer cemas menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.
Leo juga melihatnya tajam, walaupun matanya biasa saja, aku tahu itu adalah tatapan kasih sayang darinya...
"Jadi, aku tidak berhak untuk melukainya. Walaupun dia menghinaku berkali-kali, aku tidak boleh melukainya. Karena kebodohanku, mata kanan Kakak rusak, menjadi tidak berguna..." Dia mengatakan itu sambil perlahan memakan makanan pembukanya, aku tahu dia menahan tangis, tapi... ini sangat mencemaskan...
Sungguh, kukira aku punya masa lalu yang paling menyakitkan. Ternyata Yuda... dia membuatku sedih...
"Pertama, Yuda, kau tidak lemah. Kau adalah salah satu orang terkuat yang pernah kutemui. Dan jangan khawatir, suatu hari kita pasti akan mencari cara untuk mendamaikan kalian." Jennifer tersenyum menepuk bahunya, mereka duduk bersebelahan.
Yuda hanya tersenyum, terlihat sangat pasrah. Aku harus berusaha yang terbaik untuk membuat mereka baikan lagi...
Lima belas menit, main course sudah dihidangkan. Aku memesan steak sapi, diletakkan di atas piring dengan saus jamur yang ditaburkan, lalu ada kentang halus disampingnya, ya aku lebih suka kentang yang dilembutkan, lebih enak. Sangat besar, dan pastinya mengenyangkan!
Sementara Raphael, di depannya ada ayam tepung dengan saus mentega, berwarna merah, terlihat memuaskan...
Jennifer dan Yuda, astaga, mereka memesan hal yang sama, padahal itu tidak disengaja, tiba-tiba mengangkat tangan dan mengatakan hal yang serupa bersamaan, sangat menggemaskan. Mereka hendak memakan sandwich chutney dengan aroma bawang bombai, wajahnya berubah menjadi lebih senang dan bahagia daripada sebelumnya.
Dan terakhir, Leonardo, lasagna parmesan dan kacang polong yang ditaburkan. Aku tidak pernah memakannya, tapi melihat Leo, dia menikmatinya...
"Uhuk!" Raphael tersedak.
"Pelan-pelan..." Aku mengingatkan.
"Iya! Daritadi pelan, tapi keselek terus!"
"Hahahaha, itu pasi karena mie lidi!"
"Sok tahu!"
"Eleh, batukmu tadi jelas bukan batuk biasa. Nah kan, tubuhmu mulai mengamuk."
"Uhuk! Aduh... Yuda belain aku dong!" Raphael mengelap mulutnya dengan serbet putih polosnya, Leo tersenyum. Yuda tertawa melihatnya, wajahnya yang pucat akhirnya menghilang...
Hidangan utama telah habis, saatnya penutup. Semuanya sepakat akan meminum coklat dingin dengan krim, dan beberapa batang coklat kecil ditaburi di atasnya. Rasanya enak, benar-benar menyenangkan bisa makan di restoran mewah. Dan jangan lupa, semuanya dibayar oleh Leo, gratis!
Kami sudah kenyang, duduk di kursi, bersantai dan menyandarkan punggung sepenuhnya.
"Kenyang. Sungguh kenyang." Raphael mengelus perutnya sambil memasang wajah puas. Aku tertawa kecil menatapnya... tapi serius, ini adalah malam yang terbaik dalam hidupku!
"Enak sekali, Leo! Restoranmu ini sangat hebat!" Jennifer berucap riang.
"Heh, Restoran ini menempati peringkat tiga yang paling ramai di seluruh Yuvia, sebelum evakuasi tentunya. Setelah itu, hanya pasukan yang makan di sini, membuat pesta dan semacamnya, pastinya hanya di siang hari. Tapi setelah Hari Pembantaian, tempat ini bisa kubuka kapan saja." Dia tergelak sombong, menaikkan salah satu alisnya.
"Terima kasih, Komandan. Sungguh, ini membuat hariku lebih baik." Senyuman Yuda tambah lebar, melihatnya saja membuatku senang.
__ADS_1
"Sama-sama. Kalian bisa makan bersama juga karena Falisha."
"Iya, terima kasih, Fal..."
"Sama-sama, Yuda..." Aku menyeringai, mengangguk senang. Syukurlah sahabat-sahabatku ini bisa menikmati malamnya setelah perjuangan tanpa henti selama bertahun-tahun...
"Selamat kepada kalian semua. Kontribusi kalian benar-benar mencerminkan seorang petarung, aku tidak pernah menyesal sekalipun karena pernah mendidik semuanya menggunakan pedang." Leo menghadap semua orang. Kami lamat-lamat mengangguk, aku memeluk Leo dengan cepat. "Terima kasih atas segalanya..."
"Hehehe... iya sama-sama, Fal..." Dia membalas pelukanku, menepuk-nepuk punggung.
"Terima kasih Leo... kau memang orang yang paling keren di dunia." Raphael menimpali.
"Oh, itu sudah pasti." Balasnya sambil tersenyum miring.
Aku melepas pelukannya, duduk kembali.
Phew... aku sudah penuh... hebat deh Leo!
...***...
Kami semua berkumpul di luar, sekarang pukul sepuluh malam. Beberapa pasukan masih berada di restoran, menikmati malam mereka.
"Baiklah, perlu kuantar kalian pulang?" Leo bertanya.
"Tidak perlu, kita bukan anak-anak." Raphael yang bergaya karena tidak jadi push up menjawab.
"Hmph, awas ada hantu lho. Nanti kau malah kabur. Bayangkan ada bayangan hitam yang tinggi, rambutnya panjang, lantas mencekikmu sampai tidak bisa bernapas."
"Astaga, Raf! Kau takut dengan hantu?! Di usia segini?!" Aku menunduk melihat wajahnya di sampingku, dia takut!
"Eh, eh! Tidak! Tidak takut!" Wajahnya memerah, hahahaha... dia merinding hebat tadi...
"Maaf, teman-teman, Komandan, aku duluan." Yuda berkata.
"Sendirian? Kau yakin?" Leo bertanya lagi.
"Iya, aku yakin. Terima kasih." Yuda tersenyum lebar, bergegas jalan.
"Hati-hati, Yuda!" Jennifer melambaikan tangan.
"Ya!" Balasnya, perlahan tubuhnya menghilang, berjalan di jalanan utama.
"Kalau begitu aku juga duluan. Dadah Leo, Fal, Raf. Terima kasih..." Jennifer berkata, mulai berjalan dengan riang, lama-lama dia juga tidak terlihat lagi, berjalan menuju rumahnya...
"Leo, kau mau ke mana?"
"Aku kembali ke kantorku, membersihkan beberapa file yang berantakan di meja tadi."
"Malam-malam? Markas kan berbentuk lorong, seram lho..." Raphael memberatkan suaranya
"Hmph, Arkane lebih menyeramkan daripada hantu, kalau boleh jujur." Leo mulai berjalan pergi. "Kalian berdua hati-hati."
__ADS_1
"Iya." Aku membalas halus, menatap punggung Leo yang mulai tidak terlihat, dia sudah pergi...
Aku dan Raphael berdiri berdua, suara musik yang samar dari dalam restoran masih terdengar.
"Fal, ayo pulang."
"Eh? Iya..." Akhirnya, kami berdua mulai pergi. Kebetulan saja rumah Raphael berada di jalan yang sama dengan rumahku, jadi kita bisa pulang berdua.
Suara jangkrik memenuhi telinga, tidak ada suara lagi selain itu, hening.
Mulai dingin, untungnya aku menggunakan jaket, jadi tidak terlalu menyerang. Raphael juga, dengan kaus halus hitamnya itu dia tidak kedinginan.
...
Haruskah aku bertanya padanya? Pertanyaan yang selama ini melintas di kepalaku? Tentang alasan kenapa Raphael ingin berteman denganku?
Mungkin karena dia orang baik, tapi itu berlebihan, ada banyak orang baik di sekolah, bukan hanya aku. Tapi perhatian dia lebih banyak diberikan kepadaku daripada yang lainnya... haruskah aku bertanya...?
"Raf..."
"Hm?" Masih melangkah, kepala kami menghadap satu sama lain.
"Eh, Fal, itu rumahmu!" Eh? Aku menatap ke arah yang ditunjuk Raphael, benar saja, itu rumahku. Astaga aku tidak sadar, cepat sekali!
Baiklah, mungkin besok-besok saja, sekarang aku sudah mengantuk, lebih mending tidur.
"Baiklah, sepertinya ini perpisahan. Terima kasih ya sudah mengajakku makan malam." Raphael berkata, aku mengangguk membalasnya.
Kami berdiri di dekat pintu, kucoba membukanya dengan kunci rumah...
Krek!
Krek!
Apa? Kuncinya tidak mau masuk?
"Kenapa Fal?"
"Kuncinya tidak mau masuk! Kenapa ya?"
"Tenang, jangan panik. Coba sekali lagi-"
Shhhhh...
!
Suara apa itu?
Aku dan Raphael melihat ke arah yang sama, beberapa meter di depan pintu rumahku, sosok hitam tinggi muncul berdiri. Memakai pakaian berwarna hitam yang menutup semuanya kecuali kepala.
Dia memakai topi fedora...
__ADS_1