
Apakah akan ketahuan guru fisika bahwa aku menyontek? Gurunya sangat galak dan menyeramkan.
Bel sekolah berbunyi, memenuhi isi kepala dan telingaku yang sedang fokus ke arah buku tulis. PR ini banyak sekali, aku heran kenapa Raphael bisa mengerjakannya sampai selesai.
"Santai saja! Masih pagi, Raf!" Terdengar suara ajakan untuk Raphael, tidak tahu mereka ingin berbuat apa.
"Tidak, terima kasih. Aku bukan anak nakal." Raphael tertawa.
"Kumohon, hari ini saja! Bolos sebentar tidak akan membuatmu rugi, kok!" Oh, orang itu ternyata mengajak Raphael untuk bolos sekolah. Aku tidak menatap mereka, mataku masih tertuju kepada dua buku tulis.
Krak! Suara gagang pintu yang memutar membuat semua orang di kelas bisu, guru fisika datang dengan wajahnya yang sinis dan tegas. Suara-suara ajakan dan candaan itu hilang, benar-benar hening sekarang.
"Pagi, semua." Bu Hiva, menyapa singkat. Semua murid di kelas langsung duduk di kursinya, tubuhku bergetar hebat, bagaimana kalau aku ketahuan menyontek? Aku juga tidak bisa melihat Raphael, jarak antara kursi kita sangat jauh! Aku di paling belakang ujung kanan, dia di ujung kiri!
Dengan cepat aku memasukkan buku tulis milikku dan Raphael masuk ke dalam tas, sempat-sempatnya aku blunder di saat seperti ini!
"FALISHA!" Wah, ini buruk. Aku ketahuan.
"Keluarkan." Bernas, Bu Hiva menatapku dan berkata datar. Aku lamat-lamat mengeluarkan kedua buku tulis perlahan. Dia datang dan mengambil keduanya, mengangkatnya tinggi dengan satu tangan. Semua murid melihatku dengan sebal, seolah-olah mengatakan "Dasar pengganggu." Dan semacamnya.
Cih, tahu apa mereka soal orang tua yang dibunuh oleh monster? Memangnya mereka mengerti perasaanku?
"Mengaku, siapa yang membiarkan Falisha menyontek?" Suara tegas itu bersuara kembali, mengalahkan hening tanpa henti.
Kepalaku berputar jauh ke arah Rapahel, dia langsung berdiri tegak.
"Saya, Bu." Suara remaja itu mencoba melawan Ibu Hiva, semua murid sekarang melihat ke arahnya, sekarang tatapan mereka seperti mengatakan "Wah, serius? Raphael? Untuk orang seperti Falisha?" Mereka tidak pecaya akan apa yang terjadi.
"Haduh... Raphael, kau biasanya membantu orang lain mencari jawabannya, bukan memberi contekan, kenapa kali ini berbeda?" Bu Hiva mendekat kepada Raphael.
"Maaf Bu, Fal..." Raphael hendak membalas, tapi suaranya terpotong, dia tiba-tiba terdiam.
Wajah Raphael terlihat berpikir.
"Falisha kemarin membantuku memperbaiki sepedaku, Bu, jadi dia tidak sempat mengerjakan PR." Raphael melanjutkan kalimatnya, menggaruk kepalanya dengan wajah yang malu. Astaga, kasihan sekali dia...
Aku hendak berkata yang sebenarnya, tapi...
"Baiklah." Dia merunduk, mengembalikan buku tulis Raphael kembali padanya.
"Fal, lain kali, cobalah untuk tidak menyontek. Kasihan Raphael yang sudah berusaha keras, bilang aja pada Ibu bahwa kamu sibuk kemarin." Sekarang dia menuju ke arahku, bersiap meletakkan buku tulis milikku. Seluruh kelas menatapku marah, "Yah, gara-gara kamu, Raphael dimarahin." Mereka pasti mengatakan itu dalam hatinya. Tapi Raphael... dia malah tersenyum ke arahku, apa yang dia pikirkan? Dia tidak malu? Kenapa malah senang setelah dimarahi begitu...?
"Baik, Bu." Aku menjawab, sedikit terguncang.
Bu Hiva berjalan menjauh, tubuhnya lama-lama terlihat semakin kecil menuju meja Guru. Beberapa orang masih menatapku, sisanya menatap ke arah Raphael, dia sudah duduk di kursinya. Beberapa orang berbisik ke arahnya, aku tidak bisa mendengar mereka membicarakan apa, tapi mulut Raphael seolah-olah mengatakan "Tidak apa-apa."
"Baik, ayo berdoa dulu." Sepertinya pelajaran fisika hari ini akan dimulai.
***
Jam istirahat, pukul 09.00.
Aku duduk sendirian di salah satu meja kantin, melihat meja-meja lainnya yang dipenuhi empat sampai lima orang yang sedang bergurau dan berseru.
Biasanya setelah pulang sekolah, aku sebagai bagian dari Pasukan Penjaga Kedamaian ditugaskan untuk melakukan misi, misi membunuh monster atau melindungi warga, jadi aku sedang menunggu saat itu sekarang, terasa lama sekali.
...
__ADS_1
"Loh? Fal?" Mendadak, ada yang duduk di sampingku, Raphael. Pas sekali, aku ingin bertanya sesuatu kepadanya.
"Hai, Raf." Aku menyapa singkat.
"Sendirian saja? Ke mana teman-temanmu?" Raphael bertanya, aku tidak pernah ke kantin atau jajan, ini pertama kalinya aku duduk di tempat yang berisik ini. Aku ke sini hanya karena aku ingin bertanya sesuatu kepada Raphael.
"Rahasia." Aku mencoba bergurau.
"Eleh."
"Raf, aku ingin bertanya."
"Wah, tumben. Tanya apa?"
...
Haruskah aku bertanya hal ini padanya...?
"Apakah... apakah kamu bagian dari Pasukan Penjaga Kedamaian?"
Suasana sunyi sejenak, Raphael tidak membuka mulut. Menyisakan suara murid-murid yang jajan dan pedagang.
"Benar, Fal." Dia menghembuskan napasnya, mengangguk sedikit.
"Eh?"
"Saat itu, di taman... aku pernah mengatakan bahwa orang tuaku sudah meninggal, kan? Mereka dibunuh oleh para monster." Raphael memperjelas, wajahnya terlihat sedih.
Astaga... aku tahu persis bagaimana rasanya...
Kupengang bahunya dengan tangan kanan, menatapnya prihatin.
"Aku juga disiapkan rumah dan keperluan karena menjadi bagian dari Pasukan Penjaga Kedamaian."
"Dari mana kamu tahu letak rumahku?" Tanyaku penasaran.
"Itu kebetulan saja. Setiap kali berangkat ke sekolah, selalu saja bertemu denganmu. Sampai suatu hari aku tidak sengaja melihat kau yang baru keluar dari rumah, jadi bisa kusimpulkan bahwa itu adalah rumahmu." Jawabnya singkat.
Aku senang sekali. Dia adalah sosok yang mengagumkan...
Bahkan dengan semua yang dialaminya itu, dia masih bisa tersenyum dan tertawa... delapan tahun persahabatanku dengannya, aku malah baru tahu...
"Ayo kita jadi partner, Raphael!" Kudekatkan wajahku padanya, karena sekarang sudah jelas, aku bisa percaya sepenuhnya.
"Ha? Biasanya kan kau tidak mau mendekatiku."
"Ini beda, di markas, mungkin kita bisa membantu satu sama lain! Membantai para monster!" Aku berkata antusias, Raphael masih melihatku bingung.
...
Hening, belum ada jawaban.
"Baiklah." Dia menghembuskan napasnya lagi, tersenyum lembut.
"Tapi, dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
__ADS_1
"Jangan memanggilku menyebalkan lagi." Dia bergurau, tertawa kecil.
"Yeeh..."
Sepertinya persahabatanku dengannya naik sedikit, kita adalah partner di markas sekarang...
***
Bel pulang sekolah, pukul 14.00, saat-saat yang aku tunggu.
Di kelas, aku merapihkan alat-alatku, memasukannya ke dalam tas. Tapi kali ini aku menunggu Raphael dulu, dia masih sibuk mengobrol.
"Baik, aku pulang dulu, ya." Raphael berbicara kepada teman-temannya, melambaikan tangannya. Lantas mendekatiku. "Ayo, Fal."
"Ya." Aku bergegas keluar bersamaan dengannya, berjalan melewati siswa dan guru-guru lain, menuju tempat yang tidak semua orang tahu.
Di luar sekolah, tepatnya beberapa kilometer di belakang sekolahku, ada kotak gelap yang menempel di tembok lebar berwarna hitam di jalanan yang sepi, setiap pasukan harus menggesek kartu khusus ke kotak itu untuk membuka jalan ke arah markas. Orang asing tidak bisa tahu karena mereka tidak memiliki kartu-kartu itu.
"Masih sempat, kah?" Raphael berlari denganku, napasnya masih stabil. Kami tidak boleh terlambat, kalau tidak, kami akan dihukum. Karena pasukan harus bekerja dengan disiplin dan giat.
"Masih, seharusnya."
"Hei, Raf, kenapa kamu ingin menjadi bagian dari pasukan?" Aku bertanya, masih berlari dengannya.
"Aku hanya ingin membantu orang lain." Dia membalas singkat. Sudah kuduga, dia memang orang yang baik... berbeda dariku yang hanya ingin membalas dendam kepada Monster Bertopi Fedora.
Akhirnya sampai setelah melewati jalanan ramai dan berisik dipenuhi dengan kendaraan. Aku dan Raphael menarik napas lelah. Di tempat yang sepi, tembok hitam itu sudah ada di depan mata, bersama kotak gelapnya.
"Ha, baru segitu saja sudah lelah." Raphael bergurau.
"Hei, lihat seragam sekolahmu, penuh keringat." Balasku, tertawa singkat.
Aku mengeluarkan kartu milikku, berwarna biru muda, mengkilap, hanya bergambar pedang berwarna hitam. Lalu menggesekkan kartunya ke kotak itu, Raphael juga.
TING! TING! Terdengar suara itu, tanda bahwa kedua kartu berhasil.
Bagian depan tembok tebal berukuran kami berdua terbuka dengan cepat, menyisakan ruang untuk kita masuk ke dalamnya, seperti lift. Kami berdua langsung masuk ke dalam.
Benar, markasnya berada di bawah tanah. Agar tidak mengganggu warga-warga biasa. Juga agar para monster tidak bisa menghancurkannya.
Zruuuung. Bunyi lift memenuhi tubuh kami, sisanya sunyi sahaja, hanya ada aku dan Raphael yang menunggu pintunya terbuka.
"Hei." Raphael berbisik.
"Apa?"
"Apa yang Leonardo rencanakan kali ini?" Raphael bertanya.
Ingat saat aku mengatakan bahwa ada petugas yang berinisial "L" menemukanku yang jatuh waktu itu? Ya, namanya adalah Leonardo. Dia sudah seperti paman bagiku, hanya saja dia sering menghilang, terlalu sibuk dengan misi-misinya, sekaligus dia juga disebut Ketua Pasukan Daerah Barat, yaitu daerah tempat tinggalku sekarang.
"Tidak ada yang tahu isi otaknya, Raf. Kamu pasti tahu betapa anehnya dia terkadang." Aku sedikit menyengir.
"Hahahaha, iya juga." Raphael tertawa.
TING! Pintu lift terbuka.
"FALISHA! RAPHAEL!" Orang yang kami bicarakan, Leonardo, rambut dengan style yang berantakan tapi cocok baginya, tubuh tinggi dengan seragam pasukannya, dan beberapa aksesoris yang tidak aku ketahui, ternyata sedang menunggu kami berdua. Di belakangnya ada beberapa petugas yang sibuk berjalan, menyapa satu sama lain, bersiap dengan pedangnya, dan yang lainnya.
__ADS_1
Selamat datang di markas Pasukan Penjaga Kedamaian.