
TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN!
Eh? Eh?!
Kenapa ini?! Kenapa rumahku tiba-tiba berisik?!
Dari mana suara itu berasal?!
Aku beranjak dari sofa depan TV, astaga, kenapa tiba-tiba begini, sih?!
TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN!
"Iya! Iya! Berisik! Iya!" Seruku ke segala arah, masih mencari sumber suara.
Alarm? Tentu bukan, bunyinya berbeda. Suara yang ini lebih berat.
Sambil merapihkan rambut panjangku, aku memanjat meja, memeriksa kolong kursi, membuka bagian-bagian sofa, semuanya jadi berantakan! Tetap saja tidak kutemukan asal muasal suara berisik itu!
"Panggilan untuk, Falisha. Panggilan untuk, Falisha. Dimohon untuk, menghadiri markas. TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN!" Ha? Apa... siapa? siapa yang mengatakan itu?!
Aku menatap tembok, tidak ada apa-apa. Dan akhirnya, atap rumah. Aha! Ada mesin yang aneh, berbentuk setengah lingkaran berwarna putih. Menyalakan lampu berwarna merah setiap kali ia bicara.
Whoop! Aku melompat tinggi, mengambilnya.
"Panggilan untuk, Falisha. Panggilan untuk, Falisha. Dimohon untuk, menghadiri markas. TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN! TIN!-" Pip! Kutekan tombol hitam di atasnya, akhirnya suara itu mati.
Inikah device khusus milikku yang dikatakan Leo saat dia memanggil Jennifer? Wah... ternyata ditempel di atas situ, ya...
Baiklah, aku harus mandi dan mengganti bajuku, sudah lama sekali aku tidak menjalankan misi...
...***...
Tiga belas menit kemudian, menggunakan sepedaku, aku sudah dekat dengan tembok hitam tebal.
Pukul 15.45, cahaya terang menimpa tubuh, panas, namun segar karena di luar. Tumben sekali, belum pernah ada misi di sore hari begini. Jangan-jangan ini misi spesial?
Eh?
Ada Rapahel dan Yuda? Di depan tembok itu, mereka berdua sedang mengobrol. Dua sepeda milik mereka diletakkan di dekatnya.
"Lalu aku bilang, kenapa tidak dimakan saja? Cocok denganmu, lho! Hahahaha!"
"Hahahaha... lalu?"
"Lalu dia memukulku sampai membuat perhatian banyak orang, tapi melihat wajah sebalnya itu sudah setimpal!"
Syukurlah... Raphael memang jagonya menghibur. Yuda tertawa dan tersenyum lebar mendengar leluconnya itu...
__ADS_1
"Hei!" Aku berseru melambaikan tangan, mereka berdua menatapku sekarang.
"Loh, Falisha?" Yuda heran.
"Kalian dipanggil juga?" Aku lebih bingung.
"Iya, alat kami berbunyi kencang tadi. Aneh, kan? Sudah lama tidak ada misi, tiba-tiba dipanggil..." Raphael membalas.
"Ooh... eh, bagaimana dengan Jennifer? Dia dipanggil juga?" Sial, peraturan di markas, tidak boleh membawa ponsel. Jadi aku tidak tahu kabar Jennifer...
"Mau menunggu saja? Lima menit?" Yuda memberi saran.
"Baiklah, lima menit." Kami mengagguk, seandainya saja tidak ada peraturan itu...
Lima menit kemudian, Jennifer tidak datang. Benar-benar tidak ada kabar darinya. Aku hendak mengatakan sesuatu kepada mereka...
"Raf... Yuda..."
"Hm?" Mereka bedua menatapku, menunggu kalimat selanjutnya.
...
Haruskah kukatakan hal ini sekarang? Atau nanti saja di dalam markas...?
...
Di markas saja, saat ada Leo.
"Kebanyakan begadang, sih." Raphael menepuk bahuku, tertawa sedikit.
"Aku tidak pernah begadang!"
"Hahahaha... ayo Fal, Raf." Ting! Yuda menggesekkan kartunya diikuti dengan Raphael, lalu aku.
Sejenak, lift terbuka. Kami semua berjalan masuk perlahan.
"Oh iya, kalian sudah dengar? Leo menemukan petunjuk baru tentang asal usul omni." Aku berkata. Lift menutup dan mulai bergerak turun.
"Iya. Kasihan sekali dia... dikendalikan selama delapan tahun, itu benar-benar menyeramkan... Raphael menggaruk kepalanya sambil menunduk. Yuda mengagguk kasihan, menatap Raphael.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya... apakah dia masih ingat cara berjalan? Berkomunikasi? Leo harus memberi kita info lebih lanjut!
"Raphael... bagaimana keadaanmu?" Aku masih cemas. Waktu itu sangat buruk untuknya... Logan sialan...
"Hm? Oh, aku sudah sehat kok. Sudah lama kejadian itu, tenang. Tanya saja Yuda." Raphael tersenyum lebar menujuk Yuda.
"Iya, Raphael sangat kuat. Dia baik-baik saja." Dia mendukung sambil mengangguk, syukurlah... Raphael sudah sehat, ya...
__ADS_1
Lift terbuka lagi. Ada orang tua gemuk dan pendek yang menunggu di depan lift, itu adalah orang yang kami tangkap waktu itu! Leo berdiri di sampingnya, semuanya menatap kami.
"Oh... oh... ya tuhan... Nak Fal!" Dia berlari sambil menangis, memeluk tubuhku dengan erat.
"Kau sudah besar, Nak, sungguh... terakhir kali aku melihatmu, kau sedang mengerjakan PR, belajar dengan giat, pintar, dan menggemaskan. Sekarang lihatlah! Kau adalah salah satu prajurit kebanggaan! Ini sungguh spesial! Ibu dan Ayahmu bilang bahwa kau adalah anak yang sangat istimewa, dan itu sungguh benar. Aku bangga padamu..." Ujarnya sambil menangis.
Aku...
Sudah lama sekali... aku tidak merasakan pelukan ini... pelukan keluarga sejati, pelukan kebahagiaan dan kerinduan yang sangat erat ini, Ibu... aku mengingatnya... hanya dia yang dapat membuatku merasakan hal ini, dengan senyuman murni dan kecantikannya, aku merindukannya...
Aku memeluknya kembali, dengan lebih erat. "Pak Danu... kan? Aku tidak terlalu mengenalmu, tapi... terima kasih, sungguh... terima kasih..." Perlahan, air mata mengalir dari mataku. Kebahagiaan ini... aku ingin merasakannya tanpa henti...
...***...
Pak Danu diberikan rumah dan uangnya sendiri. Dia tidak dievakuasi karena berbahaya, kita tidak tahu apakah dia bisa menjadi omni lagi dan menyerang semua orang di negeri sebelah.
Aku, Raphael dan Yuda sedang berkumpul di kantor Leo, dia akan memberikan kami instruksi.
"Baik, bagaimana keadaan kalian?" Dia bertanya singkat, sambil fokus menulis buku. Pasti diary miliknya.
"Aku lapar..." Raphael membalas sambilmeraba perutnya.
"Lapar ya makan. Kenapa tidak makan?"
"Aku tidur siang, Leo. Percayalah, tidur siang di bawah matahari di kamar itu rasanya lebih enak daripada makanan paling spesial sekalipun."
"Oh? Berapa lama kamu tidur?" Aku penasaran.
"Tujuh jam."
BUK! "Itu namanya tidur malam di siang hari! Jangan diulang lagi! Mengerti?!" Leo mengetuk kepala Raphael dengan bukunya, aku dan Yuda tertawa sedikit.
"Aduh... iya-iya! Aduh..." Raphael menahan kepalanya, menunduk.
"Ada apa, Leo? Kenapa kamu memanggil kita semua? Dan di mana Jennifer?" Aku bertanya halus.
"Ada misi. Kali ini khusus. Dan Jennifer, akan dijawab pertanyaan itu, makanya dengarkan." Dia menutup buku dan meletakkan pulpennya, meletakkan keduanya di rak samping meja.
"Falisha, Raphael, kalian ingat Komandan Yakza? Atau Yuda, kalau kau tahu?" Leo bertanya.
"Ingat. Yang waktu itu menolong kami." Aku menjawab sambil merapihkan rambut, Raphael mengangguk singkat.
"Kudengar dia adalah Komandan Pasukan Daerah Utara. Keterampilannya di luar nalar dan masih banyak prestasinya." Yuda juga tahu. Wah, apakah misi ini ada hubungannya dengan Komandan Yakza?
"Benar, aku tidak tahu tugasnya secara detail, tapi ini tentang masa depan Yuvia. Komandan Yakza memiliki rencana untuk membalikkan para omni menjadi manusia, lantas menyuruh ilmuan kepercayaannya untuk membuat suatu serum. Dan serum itu baru selesai tadi, dia meminta kalian untuk menemaninya."
"Lho? Kenapa? Dia sudah sangat hebat, tanpa kita saja dia pasti bisa."
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dia bilang ada hal yang bisa menghalanginya. Maka dari itu, kalian semua diminta untuk berada di sampingnya sampai selesai. Jennifer sudah duluan, dia di Daerah Utara sekarang."
"Hah?! Jennifer sudah duluan?!" Aku dan Raphael sama terkejutnya, Yuda bingung. Beruntung sekali dia sudah duluan, aku belum pernah ke Daerah Utara...