Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Dalang Penyerangan


__ADS_3

Monster bertubuh manusia itu nyata. Astaga... itu artinya, ada ancaman baru lagi... lebih pintar dan kuat... entah bagaimana kita akan mengalahkannya nanti...


"Bagaimana dengan squad mereka? Apakah ada yang mati? Dan seberapa parah lukanya?" Aku bertanya cemas, masih berlari dengan Leo memasuki daerah pepohonan, seperti hutan, hari mulai malam... sumber cahaya hampir nihil, hanya lampu-lampu kecil dari rumah yang lumayan jauh... kita harus cepat bertemu Raphael...


"Buruk, sangat buruk... yang memberitahuku di telepon tadi adalah salah satu prajurit terbaikku, Yuda, aku mendengar suara tebasan pisau dan pukulan, itu tidak terdengar seperti pedang milik kita..."


"Astaga! Monster itu membawa pedang?!" Aku terkejut.


"Tenang, Fal, bisa jadi bukan... kita harus tetap waspada, tidak ada waktu lagi..."


"Kenapa kamu tidak membawa lebih banyak pasukan? Hanya kita berdua, aku ragu kita bisa mengalahkannya..."


"Kau lupa? Aku sudah memanggil prajurit lagi yang bisa menyeimbangi Raphael, itu sangat cukup untuk melindungi kita." Leo menyeringai bangga. Maksudnya yang nomor 112 itu? Siapa dia?


Kepalaku dipenuhi dengan suara jangkrik dan dedaunan yang bergerak, dan juga di sini mulai kelam, seperti di film-film horror...


"Dan juga, banyak prajurit yang bermalas-malasan sekarang..." Wajah Leo mulai geram.


"Eh?"


"Fal, kau sadar kan saat meeting hari itu...? Alasanmu terlambat pasti karena mengantri di kamar mandi, bukan begitu?"


"I... iya, sih..."


"Nah, aku sudah memperingatkannya berkali-kali, tapi dia berlindung dibalik kemampuan bertarungnya, mereka memang hebat, tapi bukan menjadi alasan untuk menunda-nunda waktu yang sudah ditentukan. Kasus ini, aku tahu kau dan Raphael sangat disiplin dalam hal apa pun, jadi aku percaya sepenuhnya pada kalian berdua..." Leo menyengir, larinya semakin kencang, aku mencoba menyusulnya.


"Mungkin kamu harus lebih tegas, Leo... cobalah untuk marah sesekali... bukan hanya sekedar keras dan geram, tapi benar-benar marah, luapkan emosimu..." Aku membalas, menghadapnya.


"Ha... terakhir kali aku meledak, seseorang yang kusayangi meninggalkanku, marah tidak ada gunanya di dunia ini, Fal... tegas saja sudah cukup." Mimik Leonardo sekarang sedih, ya ampun... kehilangan seseorang yang dicintai karena marah? Itu membuatku sedih...


***


Daerah yang sama, pepohonan yang tidak terlalu ramai dan gelap, tanahnya coklat dan beberapa menjadi lumpur, akhirnya kita bertemu dengan biangnya.


"!" GREP! Leo menarik seluruh tubuhku ke belakang pohon, bersembunyi di antara pohon-pohon lainnya.


Di tempat yang luas, tumbuhannya sudah rusak, tanahnya berlubang, batu-batu berserakan, ada 37 prajurit yang pingsan...


"Siapa di sana?" Suara yang serak, berat, dan tidak terdengar ramah, memanggil di antara tubuh-tubuh prajurit itu, berdiri santai, dia dua kali lebih tinggi dari Leo, badannya kekar, memakai jas hitam dan celana hitam panjang, tapi rusak, seperti zombie... dia juga membawa pedang besar disandarkan ke punggungnya, menakutkan sekali... tubuhku bergetar tanpa henti, untuk pertama kalinya... ada monster yang bisa berbicara...

__ADS_1


"Pria ini pasti sumber masalahnya." Leo berbisik, bersembunyi juga.


"..." Aku tidak berani mendekat.


"Apa yang harus kita lakukan...?" Bisikku kecil.


"Kita harus-"


BUK! Tubuh Leo dipukul oleh manusia itu, keras sekali, dia terpental jauh menghantam pohon, kekuatannya di luar nalar.


"Tamu lagi, ya...? Wah... hari ini adalah hari keberuntunganku..." Dia tersenyum lebar, dari dekat, wajahnya sangat rusak. Matanya kirinya terbelah, hidungnya patah, dan lebam di mana-mana, benar-benar seperti monster...


SLASH! Kucoba potong kepalanya, dia menghindar, aku menjauh ke belakang.


"Hei, jangan kabur..." Dia terdengar keberatan, lantas bergerak cepat menarik tubuhku dan melemparkannya ke tempat para prajurit yang terkulai, aku terjatuh di antaranya...


Astaga... para pasukan, semuanya... luka-lukanya... tangan terpotong, beberapa tubuh yang patah... aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi sebelumnya...


Dia mendekat, menatapku fokus tiada lengah...


"Woah... muda sekali! Sama seperti anak itu!" Ucapnya senang.


"Apa yang kamu lakukan dengan anak itu?!" Tanyaku keras, suaraku pasti sampai ke tempat-tempat jauh.


"Tidak ada, hanya sekedar... membunuhnya." Ucapnya dengan bangga, lalu tangannya menunjuk ke kanan, Raphael, di atas tanah yang basah, punggungnya terbelek, bertelugkup tidak bergerak, pedang cahayanya rusak...


"Aww... jangan sedih, semua manusia juga pasti akan mati, kan?" Dia terkekeh, mengeluarkan pedang besarnya itu, lebarnya dua kali lipat darinya, panjangnya sama seperti pedang milikku.


WOOSH! Dia melesat ingin memenggalku, tapi Leo mengangkat tubuhku, membawaku pergi.


"Fal! Jangan lengah! Ini belum berakhir!" Dia berlari cepat, mencoba menghindari monster itu.


"Mau ke mana?" Monster itu melesat cepat hendak memotong tubuh kami.


"!" Tubuhku dilepaskan, dilempar jauh, lantas Leo menghindari serangannya.


ZRUNG! Dia mengeluarkan pedang cahaya miliknya, bersiap siaga, berdiri kuat berhadap-hadapan dengan monster itu.


"Bagaimana mungkin...? Kau hanya manusia biasa! Kenapa bisa sekuat ini?!" Leo bertanya, masih memegang pedangnya.

__ADS_1


"Yah... dunia memang lucu, begitu juga dengan hidup. Sehari sebelumnya kau bisa menjadi pengusaha hebat, pengacara sukses, artis terkenal, besoknya tiba-tiba kau menjadi monster yang sangat kuat dan bisa melakukan apa pun. Begitulah penjelasannya..." Dia menjawab, walaupun tidak menjelaskan apa pun.


Bagaimana, bagaimana bisa dia bahagia dan bangga setelah mengambil kebahagiaan orang lain...?! Di mana senangnya? Dia pikir hidup manusia itu apa? Mainan? Alat pemuas? Apa yang ada di otaknya?!


ZRUNG! Pedang cahayaku menyala, aku berdiri di samping Leo, aku harus... aku harus membunuhnya, dia telah melukai Raphael!!!


"Pfft... dua lawan satu? Aku sudah menang melawan 37 orang. Tentu saja kali ini tidak akan berbeda!" Monster berbadan lebar dan tinggi itu mengambil senjatanya. BUM! Pedang besar itu menghantam tanah.


SING! Leo maju membidik tangannya, dihindari, aku hendak menusuknya, DUM! Monster menghantam pedang besarnya ke tanah, membuat aku dan Leo mundur dua langkah, lantas Leo maju menyerang kepalanya, monster menunduk, kucoba penggal tengkuknya dari bawah, BUK! Dia memukul dadaku, tapi aku terus maju sambil menunduk, monster melompat, SLASH! Leo berhasil menusuk dadanya sambil loncat, SING! Aku melompat juga, memenggal kepalanya, berhasil! Tubuh monster terlepas dari pedang Leo, sekarang jatuh tidak berdaya di atas tanah, cairan hitam keluar dari sana, itu seperti darah bagi kami...


Kami bertiga mendarat, menghembuskan napas...


Tunggu... kepalanya sudah terpenggal, ini sudah selesai?


"Huh... ini... terlalu mudah, bukan begitu?" Leo bimbang, masih waspada, tapi terlihat lega...


"Bukan terlalu mudah, ini bukan bahaya sama sekali...!" Aku membalas, menyentuh dadaku karena dia memukulku dengan sangat keras tadi.


"Ada yang tidak beres..." Leo berpikir keras, tidak bisa diajak bicara.


Yang benar saja... monster itu sekarang sudah mati? Kalau selemah ini, kenapa Raphael, Yuda dan yang lainnya mati? Bagaimana bisa? Kenapa mereka bisa terbunuh karena makhluk lesu ini...?


"A... a..." Ada suara orang yang susah payah bicara dari belakang, itu adalah salah satu dari pasukan yang terluka!


"Awas... dia..." Masih berusaha, terdapat luka beset di dadanya, darah mengalir deras dari situ...


"Yuda! Kau tidak apa-apa?!" Leo bertanya cemas, kami berdua menatapnya. Itu adalah kepercayaan Leo yang dia sebut tadi!


"Dia b... b... beregenerasi!" Jawab pasukan itu.


"Apa?!" Dengan cepat aku memutar balikkan tubuhku, monster itu menghilang, menyisakan tanah dan rumput-rumput kecil!


"Hahaha..." Tawa kecil muncul dari telinga kiriku, BUK! Aku dipukul ke kiri, tiga puluh meter, menghantam pohon.


"FALISHA!" Seru Leo sambil bersiap dengan pedangnya.


Kepalaku pusing... pandanganku kabur... aku mencoba berdiri di antara batang-batang pohon yang hancur karena mengenai tubuhku.


Sekilas... kulihat monster yang tadi... kepalanya... dan dadanya masih sempurna! Tidak ada yang terluka!

__ADS_1


"Namaku Arkane, monster manusia yang tidak akan pernah mati!" SING! Dia mengeluarkan pedangnya lagi, menjulurkannya ke arah Leo yang berjarak tujuh langkah darinya.


__ADS_2