Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Air vs Api


__ADS_3

Suara keributan dan berisik mulai bermunculan. Ditambah cahaya dari api dan anak panah yang datang dari lubang-lubang di seluruh sisi tembok.


Sejauh ini, aku berhasil menahannya dengan tameng transparan. Membiarkan para pasukan lainnya bertarung melawan Omni Api di dalamnya.


BWUSHHH!!! Omni mengayunkan tangannya, membuat sebagian area terbakar dan pasukan terpaksa mundur.


"Fal!!!" Yuda berseru kepadaku.


"Jangan pikirkan aku! Fokus saja menyerang musuh di sana!" Aku membalas tegas, membentangkan tangan lebar-lebar.


"Yuda! Jangan lengah! Maju!" Azriel mengusap dagu di dekatnya. Dia daritadi melawan Omni Api.


Singkat hening, akhirnya kakak beradik itu maju. Mereka berdua berseru dengan menyalakan pedang cahayanya.


Aku menarik napas. Anak panah berapi ini lama-lama terasa panas ... aku tidak boleh menyerah.


BWUSH! BWUSH! BWUSH! BWUSH! Pasukan di sana dihadapi dengan semburan api yang meluas, namun semuanya berhasil dihindari.


WOOSH! Cepat sekali! Omni Api menghindari serangan dari belasan prajurit dalam tujuh detik.


"Ayolaaaaaah hanya segini kemampuan kalian?!" BWUUUSHHH!!! Kali ini apinya menyebar di bawah, beberapa orang terbakar kakinya.


Salah satu pasukan, yang memiliki kekuatan air dari pedangnya, menghilangkan apinya dan maju satu lawan satu dengan Omni Api.


Luar biasa! Mereka berdua beradu kekuatan! Air bertemu api dan api bertemu air berkali-kali! Teknik dan gerakannya juga serasi, mereka seperti mengisi gerakan satu sama lain!


BYUR! Akhirnya kena, air yang kuat membanting Omni Api sampai jatuh. Semua orang berseru senang melihatnya.


Tapi, rasanya ada yang aneh ...


"Tidak buruk. Firza menyuruhku ke sini agar bisa membuat waktu untuknya, tapi mengetahui kemampuanmu yang sehebat ini, aku tidak boleh main-main." Omni Api berkata datar. Siapa Firza? Apa maksudnya dia tidak boleh main-main?!


BWUSHHHH!!! Omni Api melebarkan tangannya, api muncul menyebar ke segala arah, dan jauh hendak memenuhi ruangan.


Pasukan yang memiliki kekuatan air itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, air yang banyak datang mengangkat kami semua ke atas.


"Omni! Pertempuran ini sudah resmi milik kita berdua. Jangan bawa-bawa yang lainnya!" Pasukan itu berseru, dia membuat gelembung besar di tengah-tengah ruangan, menjadikannya arena mereka bertarung.


Aku masih menahan tameng transparan yang menghalangi anak panah berapi dari lubang-lubang di tembok.


Suara pertarungan dalam gelembung sedikit dengung, dihalangi dengan ombak yang berputar tanpa henti.


"Kita harus cari cara agar anak panah itu mati, Fal!" Yuda berenang, mendekat ke arahku.

__ADS_1


"Hah?! Bagaimana caranya?!"


"Yuda benar." Azriel juga menghampiriku. Kami menengok kedua pihak yang bertempur dalam gelembung.


"Bagaimana caranya melawan ribuan panah yang dimunculkan dari puluhan lubang?! Dan juga, mereka berapi!" Aku menggerung sedikit, pokoknya, tamengku tidak boleh pecah atau hancur.


BWUSHHH!!! Api yang mendominasi muncul lagi, tapi pasukan pengguna air dengan mudah bisa menghalanginya.


Azriel mengusap dagu, Yuda juga.


"Kalian berpikirlah! Maaf! Aku harus konsentrasi!" Ombak semakin besar bermunculan. Aku terpisah dengan kakak beradik itu, masih menutup mata mempertahankan tameng.


Eh? Eh! Wah! Dia menang! Omni Api jatuh kelelahan, pasukan pengguna air berhasil menguncinya!


Tapi, kenapa Omni Api tersenyum?


KRRRRRAAAAAAKKKK!!!


"Ah!" Sial! Dia membentangkan tangannya, membuat api di semua anak panah semakin panas. Tamengku hancur seketika.


Pasukan pengguna air memutar balikkan kepala, wajahnya cemas. Tidak ada pilihan, sebentar lagi anak panah mengenai kita semua.


Dia menggerakkan tangannya, membuat air yang naik memenuhi seluruh ruangan, membuat kami semua tenggelam dengan cepat. Semua orang diberi kesempatan menarik napas terlebih dahulu.


Kalau begini, kita tidak bisa menuju ke ruangan berikutnya! Omni Api ini sangat menyebalkan!


...***...


Semua orang menahan oksigen dalam mulutnya, beberapa orang berpikir keras atas apa yang harus dilakukan sekarang.


"Mmmgmmmgm!!!" Seseorang mendekat.


"Mmm?!" Aku membalas.


"Mmgmmg mmgmmm!!!" Dia membuat gerakan ... apa itu? Aku tidak mengerti! Tangannya melambai-lambai, lalu dia menujuk ke arah Omni Api yang juga mengambang. Aku tidak mengerti.


"Mmm mgm mgmmgmm!!" Balasku sebal. Aku ingin mengatakan "Aku tidak mengerti!!"


Orang itu mendengus kesal. Kemudian, dia memegang lenganku. Prajurit itu membawaku berenang ke suatu tempat, dia adalah orang yang memanggilku "Dek" tadi.


Kami berdua menghampiri Yuda. Wajahnya mengkhawatirkanku.


"Mmm tdkk epp epp!" Aku mencoba mengatakan "Aku tidak apa-apa!" Sebelum dia bertanya.

__ADS_1


Yuda mengusap dadanya. Kemudian, prajurit itu mengetuk-ngetuk ubin secara acak.


Duk! Duk! Duk! Duk!


"Mm?" Aku heran.


Dia masih melakukannya. Pasukan lainnya sampai mendekat penasaran. Di kejauhan sana, Omni Api dihalangi dengan prajurit pengguna kekuatan air. Kita terjaga, aman. Setidaknya sampai napas kita habis ...


Ketukannya berhenti, dia menatap kami sekarang.


"Hm?" Aku tambah bingung. Kenapa dia melihatku setelah menghantam ubin berkali-kali?


Azriel berenang mendekat, dia berpikir keras.


"Mmm hmme!" Yuda tiba-tiba berteriak, walaupun suaranya terhalang genangan air. Dia tahu sesuatu.


"Mmmm?" Tanyaku "Apa?".


"Mmhmm mmhe!" Dia berseru lagi. Aku mengangkat bahu.


"Sandi morse!!!" Azriel terpaksa membuka mulut, mengorbankan separuh napasnya agar aku mengerti. Seorang kakak pasti mengerti apa pun yang adiknya katakan, waupun tidak terlalu jelas.


Sandi Morse adalah representasi huruf yang disimbolkan dengan titik atau garis, ketukan-ketukan prajurit tadi bisa diartikan sebagai kalimat!


"Mm lggmm!" Aku menunjuk-nunjuk ubin, meminta agar dia memberi petunjuk lagi.


Lalu, dia melakukannya. Ketukan sebagai titik, dan gesekan sebagai garis. Aku tahu apa yang harus dilakukan sekarang.


Lihat, anak panah yang keluar dari tembok itu langsung melayang di dalam air saat keluar, tidak lagi melesat.


TEP! Aku menepuk tangan, membuat tameng transparan dari tubuhku. Lantas ia membesar, perlahan-lahan cahaya putih keluar seiring berjalannya rencana kami. Orang-orang melihatku takjub, padahal aku mati-matian mencoba teknik ini pada tamengku.


Sampai pada prajurit pengguna air, dia langsung mengerti. Tubuhnya mundur, meninggalkan Omni Api sendirian.


Tameng transparan berbentuk setengah lingkaran, melindungi kami semua yang dipenuhi dengan air.


Prajurit itu langsung meresap kembali airnya, menyisakan daerah luas dan para pasukan yang akhirnya bisa kembali bernapas. Kita tidak lagi tenggelam, air sudah hilang.


Omni Api? Rencananya berhasil. Kita semua kecuali dia terlindungi oleh tamengku dari anak panah berapi, jadi omni itu terpaksa harus merasakan tusukan ratusan dari mereka, sendirian. Omni Api menjerit kesakitan, mencoba kabur. Namun tidak bisa, dia kalah dengan merasakan kekuatannya sendiri, api. Kita menang ...


"Yeah!!!" Semua orang bersorak senang, beberapa menepuk bahuku dengan bangga. Aku hanya mengangguk kepala, sedikit malu. Yuda dan Azriel juga tersenyum lebar padaku, aku mengangguk membalasnya.


Dengan tameng yang masih menutupi, kami berjalan menuju pintu tantangan berikutnya ...

__ADS_1


__ADS_2