
"Dia masih ada di sini! Di laut yang panas ini!" Aku berseru cemas, menatap ke segala arah dengan khawatir.
"Heh? buat apa?!" Yuda di sampingku bingung. Kami berdua menjaga keseimbangan di atas tameng berbentuk kapal menghadang ombak yang super kencang ini.
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRR!!!" Gerungan hewan di bawah laut mengenai gendang telinga, aku menutupnya karena takut. Yuda masih melihatku tidak percaya.
"Kenapa Azriel bisa tercebur, Fal?!"
"Dia-"
"Di sini!!!" Seseorang melambaikan tangan, itu Azriel!
"Tunggu sebentar!" Aku mengendalikan kapal ke arahnya, melewati ombak kasar, melalui suara gerungan yang mengerikan.
Tep! Tanganku menyentuh lengan Azriel. Kemudian aku menariknya menuju kapal.
"Lepaskan dia!" Yuda tidak terima.
"Hah?"
"Itu Azriel, Fal! Dia adalah monster! Bodoh sekali dia berenang ke laut lepas!"
"Tapi..." Aku ragu-ragu.
"Lepaskan dia, Fal!"
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAARRR!!!"
Maaf Yuda. Aku menarik Azriel sekuat mungkin. Akhirnya, kami bertiga sampai di atas kapal, menarik napas lelah setelah mati-matian berenang.
Azriel terbatuk berkali-kali.
Suasana mulai hening, eh- sebenarnya ditemani dengan teriakan makhluk bawah laut yang misterius dan mengerikan itu. Setiap kali dia bersuara, ombak di sini semakin besar dan berbahaya.
"Heh, kau mau bunuh diri, kah? Berenang di laut yang panas ini?" Yuda berdiri, hendak memukul kakaknya. Dia tidak menjawab.
"Sudah, sudah." Aku menarik napas, mengendalikan kapal tameng agar kembali ke Pulau Dua. Beberapa pasukan mendukung dan menolong kami. Mereka semua menunggu, Komandan Kiara yang sibuk melawan semua monster raksasa. Dia gesit berlari, menyerang dan menghindar. Tapi seiring berjalannya waktu, seolah-olah Pulau Dua dipenuhi dengan es miliknya.
"Hei, jawab!" Yuda memukul wajah Azriel lincah, sang kakak terjatuh.
"Yuda!" Aku keberatan.
"Kenapa?! Kau lihat sendiri kan?! Tadi punggungmu ditebas olehnya!" Yuda berseru marah.
"Dia berenang ke laut karenaku! Azriel ingin menyelamatkanku!" Aku membalas, berteriak mengalahkan suara apa pun.
Yuda terdiam, menatapku terkejut, matanya terbuka lebar-lebar. "Apa?"
Aku mengangguk perlahan.
"Tidak mungkin ... kau? Ingin menyelamatkan Falisha? Puh, jangan bercanda!" Dia lagi-lagi menghantam wajah kakaknya, tapi kali ini ditahan olehku.
__ADS_1
"Kumohon, Yuda ... aku tidak berbohong. Prajurit sehebat dia tidak akan bodoh menyelam ke lautan yang panas begitu saja. Kamu dari semua orang harusnya mengerti itu." Aku menatap fokus ke dalam hatinya.
Yuda masih terdiam, tidak menjawab, mengepalkan tangan dengan keras.
"Di sini!" Salah satu prajurit melambaikan tangan. Kapal tameng sudah dekat dengan Pulau Dua.
KRAK! Komandan Kiara masih sibuk membuat bongkahan es yang banyak dan besar di sana.
Kami semua sampai, lagi-lagi ditolong oleh beberapa prajurit keluar dari kapal. Azriel masih terbatuk, dia menelan air laut yang panas tadi.
"Kau tidak apa-apa?" Aku bertanya khawatir.
"Fal! Serius?! Kau mengkhawatirkannya?!" Yuda menarik tanganku hingga mundur.
"Aku tidak apa-apa ..." Azriel menjawab singkat.
KRAK...! KRAK...! KRAK... "Semuanya! Bersiap untuk mundur ke dalam laut!" Komandan berseru.
"Hah?!" Aku kaget, barusan kita bertiga hampir mati karena dilempar monster besar, sekarang kita harus kembali ke dalam laut?!
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAARRR!!!" Makhluk buas misterius itu berseru. Astaga! Daripada menggerung terus, munculkan dirimu dari bawah laut! Dasar pengecut!
Azriel di sampingku merangkak, dia menahan kepalanya. Yuda cuek melihatnya.
"Ayo, Fal. Tinggalkan saja dia." Dia menimpali, masih geram kepada kakaknya.
Semua orang mulai berjalan mundur. Sedikit lagi, kita akan menyelam.
Akhirnya, Pulau Dua dipenuhi dengan es. Bongkahan es raksasa memenuhi setiap sisi, terasa sangat dingin. Bahkan seragamku mulai membeku sedikit demi sedikit.
"SEKARANG!!!" Komandan Kiara menyelam, diikuti dengan semua orang. Aku juga menyebur, tidak tahu dengan Yuda dan Azriel. Bedanya, sekarang air laut tidak panas seperti sebelumnya.
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAARRR!!!" Makhluk buas semakin dekat, suaranya menyakiti kepalaku.
Sekilas, aku melihat Yuda yang berenang dengan membawa Azriel bersamanya. Kakaknya memasang wajah pusing, adiknya menahannya sekuat tenaga.
BWUUUSHHHH!!!
"EH?!" Kapal pesiar es muncul dari laut, langsung naik menumpangiku dan yang lainnya. Aku menarik napas lelah, berpegang ke ujung geladak. Seragamku diperas sekuat tenaga ... cepat sekali Komandan Kiara membuat kapal yang super besar ini!
Semua pasukan menarik napas lega. Mereka terlihat bangga dan bersyukur. Aku masih bingung, apa yang Komandan rencanakan dari tadi?!
ZRUUUUUUUUUUNNGGGGGG!!! Kapal dimajukan dengan kencang, menjauh dari Pulau Dua. Sekarang kami berjarak lima kilometer dari tempat aneh itu.
Pemandangan Pulau Dua bisa dilihat lagi dari jauh, dari sini. Tapi sekarang, pulau itu dipenuhi dengan es berwarna biru muda yang runcing dan besar.
Belum selesai kejutannya. Makhluk bawah laut yang daritadi menggerung dan berseru, akhirnya muncul. Itu adalah ikan piranha raksasa bertangan dua, berukuran dua kali Pulau Dua, ada api yang membara di sekitar tubuhnya, itu yang membuat lautan terasa panas. Dan dia membenci es, ikan piranha itu melompat ke atas, memakan habis Pulau Dua dengan sekali lahap, sungguh menyeramkan ...
Pulau itu sudah resmi berstatus musnah. Tidak ada pilihan lain ... informasi bahwa ada banyak monster besar di sana itu bisa kami laporkan ke Jenderal Besar Karlo secepatnya.
...***...
__ADS_1
Suasana di kapal pesiar lengang. Kami sudah semakin jauh dari Pulau Dua. Kabut tebal tadi sudah menghilang, menyisakan cahaya dari langit yang biru. Sekarang sudah pukul 13.00 siang.
Komandan Kiara sibuk berkeliling, mencari pasukan yang kelelahan dan memberi semua orang minum. Ini adalah waktu istirahat yang tepat.
Aku langsung menghampiri mereka. Yuda yang berdiri santai, Azriel masih terbatuk-batuk merangkak di sampingnya.
"Sudahlah. Sebanyak apa air laut yang kau telan tadi, hah?" Adiknya menepuk-nepuk leher kakaknya, tapi bukan untuk membantu, melainkan untuk menyakiti.
Azriel terbatuk keras untuk pertama kalinya. Air panas berasap keluar dari mulutnya. Volumenya setelapak tangan remaja.
"Hei!" Komandan Kiara mendekat.
Sang kakak memasang wajah lemas, dia berbaring. Rupanya sudah lebih baik. "Hei."
Yuda berjalan menjauh, mendekatiku. "Fal, kau tidak apa-apa?"
"Astaga, Yuda. Kamu bertanya seperti itu sudah kesekian kalinya, lho. Aku tidak apa-apa. Lihat kakakmu, dia yang harus kamu khawatirkan." Aku menjawab ringan. Yuda menggaruk kelapa.
Sunyi, suara langkah kaki dan angin yang menerpa memenuhi telinga.
"Kau serius? Dia menyelam karena ingin menyelamatkanmu?" Dia bertanya lebih lembut kali ini.
Aku mengangguk perlahan. Sebenarnya aku merasa bersalah, Azriel itu ... kenapa dia ingin menyelamatkanku? Padahal beberapa menit sebelumnya, punggungku ditebas keras olehnya.
"Hei, wanita." Yang dibicarakan berdiri tegak, berjalan ke arahku.
Eh? "Wanita"? Dia memanggilku begitu?
"Yuda, kau tidak apa-apa?" Azriel menepuk bahu adiknya secara halus.
Yuda di sampingku menampar tangan kakaknya. "Urus saja dirimu sendiri." Lantas, dia pergi, menemui pasukan lainnya.
Sekarang geladak menyisakanku dan Azriel.
"Hei. Kenapa kamu melakukan itu? Menyelam karenaku? Bukannya kamu membenciku?" Aku membuka mulut. Sejenak, dia terdiam sambil menunduk.
"Aku ... sempat panik. Saat kau berteriak tanpa henti karena Yuda tenggelam, aku sangat panik."
Eh?
Azriel duduk dengan sendirinya.
"Aku membenci Yuda seumur hidupku. Tapi entah kenapa, saat kau berseru memanggilnya berkali-kali karena dia tenggelam, aku sangat takut. Untuk pertama kalinya, hatiku merasakan sesuatu. Aku tidak ingin Yuda mati, setelah bertahun-tahun lamanya kita terpisah,baru kali ini aku merasa kasihan padanya ...
"Dan saat kau ditarik oleh monster besar ke dalam lautan, aku tidak ingin kehilangan kebahagiaannya. Yuda itu pendiam sekali, sungguh, dia hanya bicara sekali dua kali dalam sehari, sampai dia berteman denganmu. Saat Yuda bersamamu, dia berbicara dengan santai dan lancar, ratusan kali dalam sehari, seperti manusia pada umumnya. Aku hanya tidak mau Yuda kehilangan itu, semua perasaan itu baru muncul beberapa menit yang lalu ..." Dia melanjutkan perkataannya, matanya separuh tertutup. Azriel meraba luka bakar di mata kirinya dengan pelan.
Aku mengusap dada, astaga, itu hal yang sangat mengejutkan. Azriel tidak jahat, tidak pernah. Fakta bahwa dia mengkhawatirkan adiknya itu sudah membuktikan semuanya ...
Yuda di kejauhan sana menatap langit, sepertinya dia sangat geram terhadap kakaknya. Menyakitkan sekali melihat semua ini, aku sangat ingin mereka berdua bahagia ...
Aku mengangguk cepat, lantas bersandar kembali di pinggir geladak. Yang menarik kapal kita mendekat ke Pulau Dua tadi pasti monster besar. Sekarang tujuan kita kembali ke yang sebenarnya, Pulau Tiga, mencari pusaka ketiga untuk membuka pintu menuju senjata yang paling mutakhir sedunia.
__ADS_1