
"Astaga!" Raphael terkejut, aku juga.
"Kalian terlambat!" Leonardo sedang membawa buku tipis, lantas menepukkannya ke kepala kami berdua.
Markas kami berbentuk persegi panjang menjorong ke depan, warna dominan abu-abu. Dengan beberapa kaca untuk melihat menembus ruangan-ruangan tertentu, panjangnya sepuluh kilometer dan lebarnya lima ratus meter. Sangat luas dan cukup untuk memuat ribuan orang sekaligus.
Ada rak dan laci yang disusuh di tengah, untuk penyimpanan dokumen atau persenjataan. Beberapa pasukan sedang menyapa satu sama lain dengan seragam lengkapnya, berwarna biru tua.
"Terlambat apanya?" Aku bertanya, mengusap kepalaku.
Leonardo menunjuk jarinya ke arah jam di dinding sebelah kanan. "Meeting akan dimulai lima menit lagi, kalian tahu kan tentang apa. Dan ini sangat penting. Bergegas ganti baju! Lima menit tidak akan sempat, kalian pasti terlambat!"
Aku selalu datang di waktu yang tepat, hari ini juga demikian. Memang, hari ini spesial karena ada meeting penting, tapi biasanya aku hanya memakan waktu dua menit untuk mengganti bajuku menjadi seragam pasukan...
"Um... Fal..." Raphael menelan ludahnya, menghadap ke pintu kamar mandi di ujung kiri.
Astaga... sekarang aku tahu kenapa Leo bilang kita akan terlambat, lihat, antriannya seperti diskon sembako 98%, ramai sekali!
"Sekali-kali, cobalah untuk datang lebih cepat!" Leonardo kembali berseru, menghadap kami berdua.
"Kami tidak bisa datang lebih cepat! Jarak antara sekolah dan tembok itu 2,4 kilometer! Butuh waktu lebih untuk kami sampai ke markas!" Aku mencoba melawan.
"Fal! Baru kali ini Raphael datang lebih lambat dari biasanya, maka dari itu aku bisa menunggu kalian di sini! Karenamu, dia tidak bisa menggunakan sepedanya karena tidak muat di lift! Karenamu!" Leonardo menunjuk Raphael, wajahnya masih melihatku geram.
"Sudah-sudah, hanya soal berganti pakaian, kita tidak akan terlambat." Raphael tersenyum, mencoba membubarkan suasana.
"Hah... baiklah. Jangan terlambat, kalian berdua." Leonardo pergi ke sebelah kanan, menuju kantornya, dengan buku-bukunya itu, dan kotak panjang di sampingnya. Dia terlihat gagah dan keren setiap saat, beberapa orang menyapanya dan tersenyum padanya setiap waktu.
"Ayo, Fal." Raphael memiringkan kepala, memberi sinyal. Aku bergegas ke kamar mandi yang mengantri itu.
Ternyata, beberapa pasukan juga bermalas-malasan, mereka baru teringat bahwa akan ada pertemuan penting beberapa menit yang lalu. Maka dari itu kali ini kamar mandinya benar-benar ramai.
Butuh waktu delapan menit untuk akhirnya aku selesai mengganti pakaianku, seragam lengan panjang berwarna biru tua dengan tiga kancing berwarna emas di depan, dan celana panjang yang berjenjang tapi tidak menyebar, terkadang baju ini terasa sejuk dan enak, aku mengambil kotak panjangku dan menempelkannya di samping celana.
Raphael juga keluar dari kamar mandi, memakai pakaian berwarna biru tua dengan celana panjang yang tempat kotak panjang menempel di samping celananya.
Kotak panjang itu, adalah pedang milik kami. Ada tombol tertentu yang kalau ditekan, akan mengeluarkan cahaya terang berwarna putih yang bisa memotong apa pun. Beberapa teknologi di sini sudah maju, berkat Jendral Besar.
Markas ini berbentuk persegi panjang, iya, panjang sekali. Bisa dua belas kilometer panjangnya, lebarnya sekitar satu kilometer, dengan pintu-pintu untuk ruangan-ruangan yang besar, berguna untuk latihan, penyusunan strategi, dan yang lainnya. Markas ini juga cenderung berwarna abu-abu.
Tas sekolah yang tadi, berisi buku-buku sekolah, diletakkan di rak khusus, yang nantinya akan langsung diantar ke rumah masing-masing melalui suatu alat modern, sekali lagi, teknologi di sini terkadang menakjubkan.
"Wah... dilihat dari dekat, kamu tambah cantik." Raphael menatapku gemas, rambutnya yang sempat berantakan tadi, sekarang semakin rapih.
"Memang." Aku merapihkan rambut panjangku lagi, membuatnya terlihat elok, lurus dan halus, mencoba bergurau.
"Hahahaha, ayo, nanti dimarahin Leo." Raphael menepuk bahuku, lalu jalan duluan di depanku. Aku melihatnya dari belakang, dia juga... terlihat keren... Hampir sama seperti Leonardo...
Astaga, apa yang aku lakukan? Aku harus cepat!
***
Situasi yang sangat tidak aku inginkan terjadi...
Di dalam ruangan panjang berwarna abu-abu, aku berdiri dengan Raphael dan semua pasukan lainnya yang terlambat di depan puluhan prajurit, mereka menatap kami cemas, tertawa, bangga, dan tatapan lainnya yang tidak aku mengerti.
"Turun!" Leonardo, menghukumku dan Raphael dengan pasukan lainnya, wajah kami pucat, terpaksa harus melakukan push up dua puluh kali.
__ADS_1
"Haduh... kena, deh." Raphael mengeluh, tubuhnya menurun.
"Raphael! Tambah sepuluh!" Leo berseru padanya, kepalanya menurun ke arah tubuh Raphael, dia tidak membalas.
Aku tertawa dalam hati, tapi merasa kasihan juga... aku menurunkan badanku, lantas melakukan hukuman.
"Satu, dua, tiga, empat, lima." Dalam hati aku hitung setiap gerakan, tanganku sudah biasa melakukan hal seperti ini, karena aku sering olahraga di waktu luang.
Setelah dua puluh push up, aku berdiri tegak, melihat Raphael kasihan yang masih melakukan hukumannya sepuluh kali lagi.
"Hajar, Raphael!" Salah satu pasukan yang tepat waktu mengejek.
"Kau mau dihukum juga?" Leonardo berjinjit, tubuh tingginya melebihi semua orang sekarang, semua melihatnya. Pasukan yang tadi menunduk malu, bisu.
Raphael berdiri, mengusap-usap bajunya yang kotor, napasnya tersengal sedikit. Dia menatapku usil, seolah mengatakan "Segini masih belum melelahkan!" Memang menyebalkan.
"Baik, kembali ke barisan." Leonardo memerintah, kami berbaris bersama yang lainnya seperti biasa.
"Langsung saja." Leonardo maju, menghadap kami semua di barisan paling depan, suara sepatunya terdengar keras memenuhi ruangan besar ini, kami membeku, menunggu ucapannya.
"Kuharap kalian mempersiapkan nyali kalian, karena berita ini akan menjadi berita yang paling menyenangkan di kehidupan kalian." Suara Leo yang ganas membara, kami semua mendengarkannya dengan seksama.
Tunggu... berita yang paling menyenangkan...?
"Jendral Besar sudah menemukan markas para monster, tempat asal mereka, tujuan hidup kalian, semuanya berada di sana. Kalian tahu artinya? Artinya, ini akan menjadi misi terakhir kalian, kita akan mengakhiri konflik monster-monster ini sekaligus!" Leonardo melanjutkan, bergerak ke kanan dan kiri di depan, menatap kami tegas.
Markas para monster?
Mereka menemukannya?
Kalau begitu... semuanya akan selesai?
"Tapi canggungnya, markas para monster cenderung kecil." Atap ruangan ini sekarang membelah, mengeluarkan layar kotak tipis, yang kemudian menyala, menunjukkan tempat berwarma hitam, berbentuk seperti jamur. Kecil sekali terletak ditengah-tengah jalanan pasir sepi.
Benarkah itu markas pada monster?
Semua prajurit menatap tidak percaya, beberapa dari mereka memasang wajah bahagia.
"Ini terletak di Daerah Barat, dekat sini. Maka dari itu Jendral Besar menginginkan yang terbaik dari yang terbaik untuk melakukan misi ini! Kalian mengerti?!" Leonardo bertanya lancang.
"Siap! Mengerti!" Kami semua menjawab.
Tapi kan... markas mereka sangat kecil, jangan-jangan hanya sedikit orang saja yang dikirim untuk melakukan misi terakhir ini...
Tidak lama, Leonardo memanggil nama orang-orang yang akan dipilih untuk melakukan misi terakhir ini.
"Raphael!" Giliran Leo memanggil Raphael, kepalanya naik tambah tinggi, mengangguk pendek.
Ada total lima belas pasukan yang dikirim untuk misi terakhir besok, dan aku tidak dipanggil. Yang benar saja!
"Baik, itu saja. Bubar barisan!" Semua prajurit bubar, barisannya sudah hilang seketika, ruangan hanya menyisakan aku, Raphael dan Leo.
Kenapa Leonardo tidak memanggilku? Aku menarik rambutku yang panjang, menahan sebal. Leo masih sibuk membaca file di tangannya.
"Hei!" Aku berseru padanya, berjalan cepat.
"Apa?" Leo menjawab singkat, kepalanya mengarah padaku sekarang.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memilihku? Aku ini sudah membunuh banyak monster! Masih belum cukup juga untuk ikut ke misi penting ini?!" Aku bertanya lancang. Raphael yang jauh sekarang mendekat kepada kami berdua.
"Fal! Kamu tidak tahu betapa pentingnya misi ini! Kami tidak membutuhkan seseorang yang lemah!"
"Lemah, katamu?! Aku adalah prajurit paling muda di sini! Sama seperti Raphael! Dan kami sudah membunuh lebih banyak monster dari beberapa orang yang lebih tua!"
"Kau pikir ini tentang jumlah monster yang dibunuh?! Ini tentang strategi, kerja sama! Disiplin! Kau? Kau bahkan tidak bisa menjalankan strategi yang sudah disiapkan saat briefing setiap misi! Ini akan sulit kalau kau ikut!"
Memang benar, aku jarang sekali mengikuti strategi misi, tapi aku berhasil membunuh banyak monster, kok! Aku tidak bodoh! Lebih banyak misi yang kukerjakan itu berhasil, jarang sekali gagal.
"Tapi, Kan!"
"Sudah!" Leo berseru, memotong kalimatku.
Hmph, terserah dia saja. Lebih baik aku pulang, dan mencari Monster Bertopi Fedora itu sendiri.
"Raphael, tinggalkan kami berdua." Eh? Leo memerintah Raphael, lantas dia pergi, meninggalkan kami berdua. Hanya ada aku dan Leo di dalam ruangan ini sekarang.
Leo meletakkan file yang dia pegang di meja, lalu menepuk-nepuk tubuhnya, lalu menghembuskan napas berat.
"Fal... kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Saat aku menemukanmu sendirian, basah, dan tidak sadarkan diri?" Leo berkata halus, tatapannya juga lembut.
"Ya? Memangnya kenapa?" Aku membalas.
Leo terdiam, sekejap wajahnya terlihat kasihan.
"Aku tidak pernah memiliki anak, atau mendapatkan kasih sayang seorang anak dari orang tuaku. Saat aku melihatmu, aku merasa bahwa kau adalah tanggung jawabku yang paling utama. Dan aku bahagia menjalaninya, aku tidak mau membiarkanmu terluka atau mati, Fal..."
...
"Tapi kenapa Raphael diikutsertakan? Kenapa dia?"
"Raphael bisa diandalkan, dia memiliki bakat alami yang hebat, dan tidak pernah terluka setiap kali menjalankan misi selama delapan tahun." Leo menunduk, berkata sepenuh hatinya.
"Ayolah, kau pasti mengerti, kan? Betapa drastisnya kehidupanku berubah saat Monster Bertopi Fedora itu membunuh Ibu dan Ayah? Betapa pentingnya misi ini untukku? Aku hanya ingin membalaskan hal yang setimpal, aku ingin menjadi orang yang membunuhnya." Aku mendekat ke arah Leo, wajah kami hampir menempel.
Mata Leo tertuju ke arahku, kepalanya masih menunduk.
Ayolah... dibalik sikapnya yang pemarah dan berisik itu, aku tahu Leonardo adalah orang yang bijaksana... dia merawatku dari kecil, dia yang paling tahu tentang diriku...
"Hah... baiklah." Leo menghembuskan napas. Tangannya mengelus kepalaku perlahan.
"Tapi kalau bisa... jangan mati..." Wajahnya khawatir, dia mengatakan itu kepadaku.
"Tenang saja, aku tidak akan mati secepat itu!" Aku membalas. Akhirnya dia membiarkanku mengikuti misi terakhir!
"Sekarang tinggalkan aku sendiri!" Leo berseru, menunjuk pintu keluar. Aku mengangguk singkat, berjalan ke arah pintu itu.
Krak! Aku menutupnya, Raphael sedang menunggu di ruangan utama, di sampingku.
"Sudah, Fal?" Raphael bertanya.
"Iya, dia mengizinkanku!" Aku tersenyum lebar.
"Hahahaha, bagus! Setidaknya aku tidak sendiri." Raphael tertawa.
Misi akan dilakukan besok, hari libur. Kami diperintahkan untuk bersiap dan melakukan misinya secara serius.
__ADS_1
Percayalah aku akan lebih serius dari biasanya, konflik antar monster dan manusia akan segera selesai karenaku.
Fedora sialan... siap-siap bertemu ajalmu!