
BRAK! BRAK! BRAK!
Ketiga tanah pembatas masuk lagi ke dalam tanah, Komandan Yakza yang menariknya. Robot yang kutahan dengan tamengku hancur berkeping-keping terkena gesekan.
Kami menarik napas, robot mengerikan itu akhirnya habis seketika...
Akhirnya aku dan Yuda bisa melihat Jennifer dan Raphael-
Astaga, mereka tidak terluka?!
"Hei! Kok bisa? Kalian tidak kesulitan sama sekali melawan robot itu?!" Tanyaku yang penasaran.
"Fal! Kau harus melihatnya! Jennifer punya-"
"AWAS!" Raphael hendak berkata, namun Yuda memotong. Ada apa-
SLASH!!! Ada robot yang hendak menyerang Jennifer! Tapi Komandan Yakza lincah membelah tangannya.
Aku lupa! Komandan harus melawan tiga robot!
SLASH! SLASH! SLASH! WOOSH! Dia melawan semuanya sendirian, memotong seluruh anggota tubuh musuh, lantas melemparkannya, mengumpulkannya di satu titik.
BUM! Dia memukul robot berikutnya, SLASH! CRAS! SLASH! SLASH! SLASH! Memotong kepala dan kedua kakinya, lantas melemparkan semua tubuhnya ke titik yang sama.
WOOSH! Dia membungkuk menghindari pukulan. Tep! Komandan memegang lengan robot terakhir, BRAK! Membantingnya, sampai lepas semua komponennya, lantas melepaskan semuanya ke titik yang tadi, sungguh hebat...
Tanah mulai berguncang, apa yang ingin dia lakukan?
BRUK!!!
Eh? Eh?! EH?!
Tanahnya... naik! Di depan sana, tempat semua tubuh robot dikumpulkan, tiba-tiba tanahnya meruncing ke atas! Merusak dan menusuknya! Membuatnya tidak bisa bergerak!
Robot mengerikan itu... dikalahkan dengan mudah olehnya. Inilah kemampuan seorang Komandan yang sebenarnya...
Dia meletakkan pedang cahayanya kembali, menarik napas lega. Lalu memutar balikkan badan, menatap kami semua.
Level ini sudah berakhir...
"Kalian tidak apa-apa?" Komandan bertanya dengan cemas, berlari mendekat.
"Komandan! Kekuatan milik Jennifer bangkit!" Raphael berseru senang menunjuk-nunjuk temannya.
Eh?
"Kekuatan Jennifer?!" Aku yang melotot bertanya, astaga! Sungguh?
"Iya! Dia bisa menyembuhkan luka!" Dia memperjelas sambil mendorong Jennifer.
"Benarkah?"
__ADS_1
Jennifer menunduk malu. "Iya, Komandan. Tapi.. aku masih kurang yakin bagaimana cara mengendalikannya. Itu terjadi secara tiba-tiba saat aku melihat Raphael yang babak belur..."
"Wah... itu terdengar keren." Yuda menimpali. Aku kagum menjatuhkan dagu.
Komandan mengangguk mengerti, mengusap keringat dan dagunya. Dia tersenyum bangga kepada kami semua.
"Mungkin aku bisa mencobanya... Yuda, Falisha, Komandan, tunjukkan aku luka kalian." Jennifer meminta dengan halus. Aku memutar balikkan tubuh, ada lebam sedikit di kepalaku.
"Yuda? Komandan?"
"Tidak perlu, Jennifer... aku tidak terluka. Semuanya berkat Falisha." Yuda menjawab.
"Aku juga tidak terluka, fokus pada Falisha saja." Komandan berkata tegas.
"Eh?! Jadi hanya aku yang terluka? Malu, deh..." Aku membungkuk dengan sebal, Raphael di ujung tertawa lepas.
Tep. Tep. Tep. Tep. Jennifer melangkahkan kakinya mendekat di belakangku.
"Wah... Fal, kau kuat juga ya. Luka ini bukan sekedar lebam." SING! Dia mengeluarkan pedang cahayanya.
"Yah, tidak apa-apa. Ada yang lebih buruk daripada luka. Penyakit hati." Aku membalas perkataannya.
"Kau benar..." Dia mendekatkan pedangnya. Aku bisa merasakan cahaya yang menerang di sekitar kepala.
Teringat bahwa selama delapan tahun sampai sekarang, aku tidak bisa memaafkan dalang dari bencana monster ini. Siapa pun dia, aku harus menjadi orang yang membunuhnya, tidak akan kumaafkan... tidak akan, tidak akan...
Sunyi, sepertinya Jennifer sedang fokus. Gerungan usaha terdengar selama beberapa detik...
"Ah! Maaf, Fal! Aku tidak bisa!" Dia menyerah, pedang cahayanya jatuh bersama dengan tubuhnya, duduk menarik napas berat. Sepertinya dia sudah berusaha keras...
Hening sebentar, Komandan Yakza mengangguk tiba-tiba. Lantas dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Semacam kotak kecil berwarna hitam dengan tombol putih di atasnya.
Pip! Begitu tombol ditekan, kotaknya jatuh dan mengeluarkan lima botol berisi... apa itu? Susu coklat?
"Eh?" Aku heran. Semuanya juga melihat botol yang berbaris rapih itu.
"Ayo. Silahkan diminum. Susu cokelat bisa mengembalikan energi setelah berolahraga, atau bertempur, pada kasus ini." Komandan duduk di dekatnya, mengambil salah satu, membuka tutupnya. Kemudian meminum susu itu dengan santai.
Beberapa detik kami melihat satu sama lain, ini agak baru untuk kita. Tidak pernah ada misi yang menyempatkan berisitirahat sebelumnya, baru kali ini ada atasan yang menyiapkan bukan air mineral, melainkan susu coklat.
...
Komandan Yakza adalah sosok yang mengagumkan.
Tanpa ragu, aku mengangkat tangan Jennifer yang meminta tolong berdiri, kemudian maju melewati semuanya. Disusul oleh Raphael dan Yuda, kami duduk melingkari kotak itu. Meminum susu coklat dengan buru-buru dan haus.
Raphael bersendawa hebat, aku tertawa melihatnya.
"Terima kasih, Komandan."
"Sama-sama, Yuda." Dia menunduk tersenyum.
__ADS_1
Sejenak, kami beristirahat... duduk memanjangkan kaki mengelilingi botol-botol yang sudah kosong kecuali Komandan Yakza, dia berdiri menjaga sekitar...
Aku teringat kata Jendral Besar waktu itu, saat berbicara sendirian bersamanya. Ada banyak ilmuan di Yuvia, salah satunya pasti Kak Liona.
Eh, jangan-jangan dia yang... membuat bencana monster ini? Ah, tidak mungkin, dia terlalu baik...
"Kalian semua seumuran ya?" Komandan bertanya, tiba-tiba menatap kita.
"Iya, Komandan." Jennifer menjawab.
"Tidak, Jenn. Aku satu tahun lebih muda."
"Oh ya? Sungguh?"
"Serius, Yuda. Ini bukan acara komedi tengah malam di TV." Raphael berbaring sambil menghadap ke atas. Astaga, dia selelah itu, ya...
"Aku serius, Raf. Umurku lima belas tahun." Yuda terkekeh sedikit. Aku juga karena agak ironis, orang yang lebih muda justru lebih hebat dari kami semua yang lebih tua darinya.
"Hahaha, menarik." Komandan Yakza menjulurkan tangan menuju botol-botol, lalu semuanya mengecil, membentuk kotak hitam bertombol putih, seperti semula.
"Ayo, kita akhiri ini. Tinggal level terakhir." Dia memperjelas. Semuanya kembali berdiri serentak, melakukan beberapa pemanasan...
Phew... ayo kita lakukan.
Tantangan terakhir...
...***...
Sama seperti sebelumnya, batu bata yang membentuk seperti tangga muncul. Sekarang kami sudah berjalan naik di lantai paling atas.
Tidak ada apa-apa. Hanya lampu yang serupa menyala di atas. Daritadi belum muncul adanya musuh atau halangan, benar-benar sepi.
"Huh... jangan-jangan kita sudah selesai? Di mana kartu yang Kak Liona katakan? Lantainya juga di sini bukan tanah, tidak seperti sebelumnya..." Raphael bertanya.
Tiba-tiba, ubin berguncang hebat. Kami berusaha mengendalikan keseimbangan.
"Lihat!" Jennifer berseru. Aku menatap ke arah yang dia tunjuk. Apa itu? Seperti... tiang?
Tiang berwarna putih muncul dari bawah tanah di ujung ruangan. Dengan tablet kotak berwarna hitam tertempel.
"Silahkan, verifikasi makhluk." Suara semacam robot keluar dari sana.
"Verifikasi makhluk? Apa maksudnya?" Giliranku berbicara. Semuanya sama bingungnya.
"Liona pernah bilang kepadaku, kalau ada benda aneh seperti ini, yang harus dilakukan hanyalah mendekatkan wajah kita kepada tablet itu. Lalu ia akan memindai apakah subjek itu manusia atau monster, atau bahkan omni." Komandan Yakza menjawab sambil melangkah maju mendekatinya.
Oh, mudah saja. Kalau begitu misi ini sudah selesai setelah Komandan memindai wajahnya!
TET!
Sejenak, lampu berubah warna merah. Tapi akhirnya kembali lagi.
__ADS_1
"Wajah tidak memenuhi persyaratan." Suara robot itu keluar.
Apa...?